Minggu, 17 April 2011

PROPOSAL SKRIPSI : METODE INQUIRI THDP HASIL BELAJAR

PROPOSAL PENELITIAN

Nama : SITI CHOLIFATUN
NIM : 086051559
Fak./Progdi : Agama Islam / Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
Judul : Pengaruh Penggunaan Metode Inquiri Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Terhadap Hasil Balajar Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010- 2011

A. Latar Belakang
Metode merupakan salah satu komponen dari pada proses pendidikan, alat pencapaian tujuan, maka diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan pendidikan, bahwa salah satu gejala yang negatif sebagai penghalang yang paling menonjol dalam pelaksanaan pengajaran ialah masalah metode mengajar atau mendidik. Meskipun metode tidak akan berarti apa-apa bila terpisah dari komponen-komponen lain. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pengajaran diperlukan suatu pengetahuan dan kecakapan profesional.
Metode mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan pengajaran, walaupun ada yang mengatakan bahwa keberhasilan pengajaran bukan ditentukan oleh suatu metode, melainkan oleh kemampuan dan kualitas siswa. Sedangkan metode hanyalah merupakan suatu jalan, gurulah yang sangat menentukan. Hal ini memang benar, tetapi tidak mutlak. Metode memang bukan satu-satunya yang menentukan keberhasilan pengajaran, akan tetapi bisa memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap keberhasilan pengajaran, yang dimaksud di sini adalah metode inquiri pada pokok bahasan bangun datar.
Metode inquiri perlu diselaraskan dengan ruang lingkup materi yang akan diajarkan, situasi dan kondisi di mana pendidikan berlangsung, serta kesiapan siswa yang mengarah kepada penguasaan materi. Dalam hal ini adalah kemampuan siswa dalam memahami bangun datar.
Dulu ada anggapan bahwa matematika adalah raja dari segala ilmu. Akibatnya banyak orang yang mengagungkan matematika, di dalamnya termasuk ilmu hitung dan ilmu ukur. Namun belakangan ini anggapan tersebut mulai berubah seiring dengan kesadaran akan hakikat matematika sebagai ilmu yang membutuhkan disiplin tinggi yang sering membantu ilmu-ilmu yang lain. Realita menunjukkan bahwa kemajuan teknologi sangat membutuhkan ketrampilan dalam matematika. Adanya cendekiawan yang mahir dalam ilmu teknologi dan memiliki segudang kemampuan dalam memecahkan masalah maupun dalam mengerjakan aneka perhitungan merupakan aset yang sangat dihargai. Alhasil, sasaran pendididkan dewasa ini adalah mendorong siswa untuk menerapkan matematika pada soal pemecahan masalah dan penyelidikan.
Dalam Ensiklopedia Matematika disebutkan bahwa bangun datar adalah “bangun yang dibuat (dilukis) pada permukaan datar.” Ada bermacam-macam bangun datar, diantaranya adalah: (1.) bangun datar dengan bentuk yang tertutup, disebut kurva tertutup. (2.) bangun datar dengan bentuk yang terbuka, disebut kurva terbuka. (3.) bangun datar dengan bentuk tertutup yang sisi-sisinya berupa ruas garis, disebut polygon. (4.) bangun datar yang mempunyai 3 sisi disebut segi tiga, 4 sisi disebut segi empat, 5 sisi disebut pentagon, 6 sisi disebut heksagon, 7 sisi disebut heptagon dan 8 sisi disebut octagon. Dalam materi pelajaran matematika SD kelas 5, yang dimaksud bangun datar adalah meliputi segi tiga, segi empat, trapesium, jajar genjang, belah ketupat, dan layang-layang.
Di tempat di mana penulis melakukan penelitian, yaitu di SD Muhammadiyah 04 Semarang, salah satu metode pengajaran yang dipakai adalah metode inquiri. Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua siswa mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap siswa terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Cepat lambatnya penerimaan siswa terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu dan metode yang bervariasi.
Berdasarkan permasalah yang ada dalam dunia pendidikan, perlu kiranya diadakan penelitian proses belajar mengajar yang berlangsung. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti pelaksanaan penggunaan metode inquiri dalam skripsi ini dengan judul “Pengaruh Penggunaan Metode Inquiri Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Terhadap Hasil Balajar Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010- 2011”

B. Alasan Pemilihan Judul
Alasan pemilihan judul dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan metode inquiri pada pokok bahasan bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010-2011
2. Untuk mengetahui sejauh mana penggunaan metode inquiri pada pokok bahasan bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010-2011
3. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara penggunaan metode inquiri pada pokok bahasan bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010-2011

C. Telaah Pustaka
Telaah pustaka yang digunakan dalam penilitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Inquiri Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang Tahun Pelajaran 2010-2011” adalah sebagai berikut :
1. Latifatun Istiqomah, (1993) dalam skripsinya yang berjudul “Efektifitas Penggunaan Metode Drill Terhadap Kemampuan Membaca Al Qur’an Murid Taman Pendidikan Al Qur’an Chasan Puro Krapyak Semarang.” Dalam skripsi ini disimpulkan bahwa penggunaan metode Drill sangant berpengaruh sekali terhadap kemampuan membaca al Qur’an.
2. Abdul Latif (2006) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Resitasi Terhadap Kemampuan Membaca Al Qur’an Murid Taman Pendidikan Al Qur’an Sabilunnnajah Penjalin Brangsong Kendal”. Dalam skripsi saudara Abdul latif, disimpulkan bahwa penerapan Metode Resitasi dalam upaya peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an di Taman Pendidikan Al Qur’an sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca al Qur’an.
3. Afiyatur Royanah (2009) dalam sekripsinya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Penugasan Terhadap Kemampuan Membaca Al Qur’an Taman Baca Al Qur’an (TBA) Al Falah Kalicari Pedurungan Semarang Tahun Pelajaran 2008-2009. Dalam penelitian saudara Afiyatur Royanah juga disimpulkan bahwa penggunaan metode penugasan yang dipakai di Taman Baca Al Qur’an Al Falah Kalicari berpengaruh terhadap kemampuan membaca.
Dari beberapa skripsi yang penulis teliti tidak ada satupun yang meneliti tentang penggunaan metode inquiri. Inilah yang membedakan penelitian penulis dengan penelitian skripsi yang penulis telaah. Sedangkan kesamaan penelitian ini adalah sama-sama meneliti penggunaan salah satu metode dalam pengajaran. Dalam hal ini penulis meneliti pengaruh penggunaan metode inquiri pada pokok bahasan bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.

D. Penegasan Istilah
Untuk memberi gambaran yang jelas, agar tidak salah penafsiran, maka penulis menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul di atas sebagai berikut:
1. Penggunaan
Yaitu proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu.
2. Metode
Yaitu cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuatu yang dikehendaki; cara kerja yang konsisten untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuang yang ditentukan.
3. Inquiri
Inquiri adalah salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu peristiwa kepada siswa yang menimbulkan teka-teki, dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah. Metode inquiri ini merupakan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir siswa. Dalam skripsi ini siswa akan diajak untuk meneliti, mengamati sebuah bangun datar kemudian menyimpulkan dari hasil pengamatannya. Dengan metode seperti ini diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang.



4. Belajar
Yaitu setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar juga merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Jadi yang dimaksud dengan hasil belajar adalah bentuk perubahan tingkah laku setelah siswa mempelajari pelajaran. Atau hasil dari interaksi seseorang dengan lingkungannya yang diwujudkan dengan tingkah laku.
Maksud judul di atas adalah sejauh mana pengaruh penggunaan metode inquiri terhadap hasil belajar siswa.. Dengan kata lain, skripsi ini membahas ada-tidaknya pengaruh penggunaan metode inquiri metode terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.

E. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis rumuskan pokok masalah.
Adapun pokok permasalahan dari judul penelitian, yang penulis paparkan di atas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penggunaan metode inquiri pada bangun datar siswa kelas V SD Muhamadiyah 04 Semarang ?
2. Sejauh mana hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.
3. Adakah pengaruh penggunaan metode inquiri terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.

F. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dengan adanya permasalahan di atas, maka tujuan yang akan dicapai penulis dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan data tentang penggunaan metode inquiri pada bangun datar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang.
2. Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.
3. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan metode inquiri terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara Praktis
a. Untuk pengembangan proses belajar mengajar di SD Muhammadiyah 04 Semarang.
b. Sebagai pemecahan masalah tentang pelaksnaaan metode inquiri serta hal-hal yang menjadi problematika dalam penerapan metode inquiri di SD Muhammadiyah 04 Semarang.
2. Secara Teoritis
Penelitian merupakan sumbangsih pemikiran positif bagi perkembangan penelitian metode dalam pendidikan.

G. Kajian Teori
A) Metode Inquiri
1. Pengertian Metode Inquiri
Inquiri adalah salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu peristiwa kepada siswa yang menimbulkan teka-teki, dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah. Sutrisno dalam artikelnya, Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains Terhadap Motivasi Belajar Siswa, mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Metode inquiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi. Metode inquiri ditelusuri dari fakta menuju teori. Dengan harapan agar siswa terangsang untuk mencari dan meneliti, serta memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri.


2. Tujuan Metode Inquiri
Dalam pendidikan dan pengajaran, tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan dari siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar.
Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa inquiri ditelusuri dari fakta menuju teori, artinya siswa diharapkan bisa mencocokkan pengalaman yang mereka lihat dan teliti dengan teori-teori yang sudah mereka pahami. Misalnya mengapa buah semangka itu bulat dan besar? Mengapa buah kenari yang pohonnya tinggi dan besar itu kecil?
Roetiyah N.K dalam Strategi Belajar Mengajar menjelaskan, metode inquiri ini setidaknya mempunyai tujuan sebagai berikut:
a. Agar siswa terangsang oleh tugas dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu,
b. Agar mencari sumber sendiri dan mereka belajar bersama dalam kelompok,
c. Agar mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan,
d. Agar dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya.

Dalam pendidikan agama Islam kita juga dianjurkan untuk meneliti apa yang kita lihat dan perhatikan yang ada di sekitar kita agar kita lebih mengagungkan Allah swt sebagai pencipta melalui ciptaannya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat :191
                    • 

Artinya:
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran : 191)

3. Langkah-Langkah Metode Inquiri
Pelaksanaan metode inquiri dapat dilakukan dengan cara guru memberi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu, yang harus diselesaikan. Kemudian tugas itu mereka pelajari, dan diteliti, serta dibahas bersama-sama. Setelah dibahas dan didiskusikan kemudian masing-masing kelompok membuat laporan hasil kerja, dengan cara sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Metode inquiri dapat berjalan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Guru menunjukkan sesuatu benda/barang, atau buku yang masih asing bagi siswa di depan kelas.
2. Kemudian semua siswa disuruh mengamati, meraba, melihat dan membaca dengan seluruh alat indera secara cermat.
3. Kemudian guru memberikan masalah, atau pertanyaan kepada seluruh siswa, yang sudah siap dengan jawaban atau pendapat.

Dengan langkah –langkah seperti ini guru diharapkan bisa membantu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Langkah-langkah seperti ini adalah sekedar contoh dalam pelaksanaan penggunaan metode inquiri. Masih banyak cara dalam pengunaan metode inquiri yang dapat diterapkan dalam proses belajar, tergantung pada mata pelajaran dan pokok bahasannya.


4. Pelaksanaan Metode Inquiri
Dalam proses belajar siswa memerlukan waktu untuk menggunakan daya otaknya untuk berfikir dan memperoleh pengertian tentang konsep, prinsip dan teknik menyelidiki masalah. Terlebih pada pelajaran matematika yang membutuhkan waktu yang agak lama untuk memeras otak. Anak merasa jenuh dengan materi pembelajaran yang selalu monoton. Untuk itu metode inquiri ini diharapkan anak merasa senang, karena metode ini bisa dilakukan sambil bermain. Teknik pelaksanaan metode inquiri ini bisa dijelaskan sebagai berikut;
a. Fase mengidentifikasi benda-benda di sekitar.
Sebelum siswa melakukan pengamatan, guru membagi siswa pada beberapa kelompok. Setiap siswa diberi tugas meneliti sesuatu masalah. Mengidentifikasi benda-benda yang ada disekitar sekolah atau kelas. Pada fase ini siswa diharapkan bisa mengelompokkan benda-benda yang termasuk bangun datar dan benda-benda yang bukan termasuk bangun datar.
b. Fase langkah mengukur benda bangun datar.
Setelah benda-benda disekitar sekolah dan kelas telah dikelompokkan dan diidentifikasi, selanjutnya siswa mengukur panjang, lebar dan luas benda tersebut. Siswa harus siap dengan alat tulis yang dibutuhkan, seperti penggaris, pensil atau bullpen. Pada fase ini guru hendaknya memonitor kegiatan penelitian siswa.
c. Fase pembahasan hasil pengamatan dan pengukuran bangun datar.
Pada fase ini siswa diharapkan mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan. Siswa diharapkan juga dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya. Pada fase ini guru menyediakan masalah-masalah, dan menyediakan bahan/alat yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara prseorangan atau kelompok

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Inquiri
Kualitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas pengujian, penjelasan dan pengaturan unsur-unsur belajar dengan memerhatikan metode-metode belajar dan efektifitasnya yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa secara individual. Karena pada dasarnya setiap anak belajar tidak secara kelompok, akan tetapi secara individual, menurut caranya masing-masing meskipun berada dalam suatu kelompok.
Tidak ada metode yang jelek atau metode yang baik. Dengan kata lain, kita tidak dapat menyatakan dengan penuh kepastian bahwa metode inilah yang paling efektif dan metode itulah yang paling buruk, karena hal ini amat bergantung dengan berbagai faktor. Yang penting diperhatikan guru dalam menetapkan metode adalah mengetahui batas-batas kebaikan dan kelehaman metode yang akan dipahaminya, sehingga memungkinkan untuk merumuskan kesimpulan mengenai hasil penilaian/pencapaian tujuan.
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun metode inquiri mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya antara lain:
1. Segi Positif (Kebaikannya)
a. Mendorong siswa berpikir secara ilmiah dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi.
b. Membantu dalam menggunakan ingatan, dan transfer pengetahuan pada situasi proses pengajaran.
c. Mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan intuitif, dan bekerja atas inisiatif sendiri.
d. Menumbuhkan sikap obyektif, jujur dan terbuka.
e. Situasi proses belajar mengajar menjadi lebih hidup dan dinamis.

Metode inquiri adalah merangsang siswa untuk melaksanakan tugas guru dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Kalau kita lihat dari beberapa segi positif dari metode inquiri ini harapan seorang guru untuk menghidupkan kelas akan terwujud. Karena setiap siswa mendapatkan giliran untuk mengemukakan pendapatnya. Sehingga proses belajar tidak lagi “teacher centered” melainkan menjadi “student centered”.
2. Segi Negatif (Kekurangannya)
a. Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Bagi guru yang telah terbiasa dengan cara tradisional, merupakan beban yang memberatkan.
b. Pelaksanaan pengajaran memakan waktu yang panjang.
c. Proses jalannya inquiry akan menjadi terhambat apabila siswa telah terbiasa cara belajar “nrimo” tanpa kritik dan pasif apa yang diberikan oleh gurunya.
d. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah.
e. Pada tingkat SD masih sulit dilaksanakan sebab anak didik belum mampu berpikir secara ilmiah.

Kekurangan dari metode inquiri sebaiknya tidak menjadi hal yang menakutkan bagi guru yang ingin menggunakan metode ini. Karena sesuatu yang belum pernah dicoba, tidak akan tahu bagaimana rasanya. Setiap guru harus menyadari bahwa kekurangan itu tetap ada hikmahnya.

6. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penggunaan Metode Inquiri
1. Faktor Guru
Sebagai seorang pengajar, guru sangat menentukan dalam keberhasilan belajar semakin tinggi kemampuan seorang guru, semakin tinggi pula tingkat keberhasilannya. Pada dasarnya guru harus memiliki tiga kompetensi, Zakiah Darajat, dkk, menyebutkan pada: kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan pengajaran dan kompetensi cara mengajar.
a. Kompetensi Kepribadian
Sarwono, dalam Pengantar Umum Psikologi menjelaskan bahwa:
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan cara penyesuaian diri yang unik (khusus) dari individu tersebut terhadap lingkungannya.

Setiap guru mempunyai kepribadian sendiri-sendiri, antara yang satu dengan lainnya berbeda, walaupun mereka sama-sama mempunyai kepribadian guru. Untuk itu Daradjat, dkk., menyarankan pribadi guru tersebut untuk dikembangkan secara terus menerus agar lebih trampil dalam:
 Mengenal harkat dan potensi dari individu murid yang diajarnya.
 Membina suasana sosial interaksi belajar mengajar.
 Membina suatu perasaan saling menghormati, saling bertanggung jawab dan saling mempercayai antara guru dan murid.

b. Kompetensi Penguasaan Atas Bahan Pengajaran
Yang dimaksud penguasaan di sini adalah penguasaan yang mengarah pada spesialisasi atas ilmu atau kecakapan yang diajarkan. Sebaiknya guru menguasai atau mengetahui kunci-kunci yang ada di dalam ilmu tersebut. Pengetahuan yang mendalam dan luas tentang bahan pengajaran yang akan diajarkan amat diperlukan dalam memberikan kemampuan lesson plan yang baik. Pengetahuan yang luas dan dalam amat membantu pula dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar.
c. Kompetensi Dalam Cara Mengajar
Yang dimaksud kompetensi dalam cara mengajar di sini adalah mengajarkan suatu bahan pengajaran khususnya yang berkaitan dengan merencanakan atau menyusun program satuan pembelajaran, mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan serta mempergunakan metode-metode mengajar. Seorang guru yang mampu menggunakan metode mengajar dengan baik dalam hal ini metode penugasan akan mempunyai dampak yang positif terhadap keberhasilan belajar murid.

2. Faktor Murid
Selain faktor guru, murid juga turut andil dalam menentukan keberhasilan penggunaan metode inquiri. Masing-masing individu (murid) memiliki potensi pembawaan yang berbeda-beda. Murid yang taraf intelegensinya (kecerdasannya) tinggi akan lebih cepat menyelesaikan tugasnya daripada murid yang intelegensinya di atas rata-rata. Intelegensi adalah “kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.”
Selain intelegensi murid, minat juga berpengaruh dalam keberihalan metode inquiri. Minat (interest) dapat diartikan suatu sikap yang berlangsung terus menerus yang memolakan perhatian seseorang, sehingga membuat dirinya jadi selektif terhadap objek minatnya.
Semua yang berharga bagi seseorang adalah yang sesuai dengan kebutuhannya. Sementara perhatian itu memegang peranan sangat penting dalam proses pembelajaran. Kalau bahan atau materi penugasan diambil dari pusat-pusat minat anak, dengan sendirinya perhatian spontan akan timbul sehingga belajar akan dilaksanakan dengan sangat baik.


3. Faktor Sarana Belajar
Yang dimaksud dengan sarana belajar di sini adalah meliputi: gedung sekolah, ruang kelas, alat peraga, alat pelajaran.
Sarana pergedungan dan ruang kelas nyaman, jauh dari keramaian dan bisingnya lalu lintas, sangat berpengaruh dalam keberhasilan belajar daripada sekolah yang berada di dekat jalan raya.
Alat pelajaran atau media pendidikan yang lengkap akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Guru seharusnya mampu mengembangkan metode-metode yang dipakai dengan memanfaatkan daya guna media pendidikan. Di tangan gurulah alat-alat pelajaran menjadi bermakna bagi pertumbuhan, ketrampilan, dan pembentukan sikap murid. Dengan media pendidikan yang lengkap, akan mempengaruhi keberhasilan guru dalam menggunakan metode inquiri kepada murid.

7. Kendala-Kendala Dalam Penggunaan Metode Inquiri
Metode yang dipilih oleh pendidik tidak boleh bertentangan dengan tujuan yang telah dirumuskan, tetapi sebaliknya, metode harus mendukung kemana kegiatan interaksi edukatif berproses guna mencapai tujuannya. Ketidakjelasan perumusan tujuan akan menjadi kendala dalam pemilihan metode mengajar. Jadi, kejelasan dan kepastian dalam perumusan tujuan memudahkan bagi guru untuk memilih metode mengajar.
Penggunaan metode inquiri sebagai salah satu pilihan dalam pengajaran bukanlah satu-satunya yang terlepas dari kendala / hambatan. Kendala penggunaan metode inquiri disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain ialah:

1. Kemampuan Guru
Latar belakang pendidikan, kemampuan dan pengalaman mengajar guru, akan mempengaruhi bagaimana cara memilih metode mengajar yang baik dan tepat, sehingga kemampuan guru merupakan salah satu faktor yang patut dipertimbangkan dalam penggunaan metode.
Yusuf dan Anwar, dalam Metode Pengajaran Agama dan Bahasa Arab mengatakan “Efektif tidaknya suatu metode sangat dipengaruhi kemampuan guru memakainya.” Penggunaan metode inquiri tidak akan efektif apabila:
a. Guru tidak menguasai metode inquiri.
b. Guru tidak menguasai teknik pelaksanaan metode inquiri.
c. Guru kurang cocok / tidak menyukai metode inquiri (lebih menyukai metode yang lain).
2. Siswa (Anak Didik)
Perbedaan karakteristik anak didik perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar. Aspek-aspek perbedaan anak didik yang perlu dipertimbangkan adalah aspek biologis, intelektual dan psikologis.
Penggunaan metode inquiri akan terhambat karena adanya beberapa faktor yang ditimbulkan dari anak didik itu sendiri, diantaranya adalah:
a. Motivasi Murid
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan. Masalah-masalah yang dihadapi guru adalah mempelajari bagaimana melaksanakan motivasi secara efektif. Guru harus senantiasa mengingatkan bahwa setiap motif yang baru harus tumbuh dari keadaan anak sendiri. Motivasi sebagai suatu proses, mengantarkan murid kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar.
b. Perhatian Murid
Dalam kehidupan sehari-hari tidak dibedakan antara motivasi dan perhatian, walaupun keduanya berbeda. Antara perhatian dan motivasi memang erat sekali hubungannya. Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar dalam buku Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab memberikan definisi tentang perhatian, “Perhatian adalah pengertian segala tenaga dan jiwa dengan penuh konsentrasi yang tertuju pada suatu objek.”
Apabila seorang murid besar perhatiannya terhadap suatu tugas yang diberikan oleh guru, maka ia akan mengenal dan mengetahui secara jelas dan sempurna. Sebaliknya apabila seorang murid kurang perhatian atau ada perhatian sama sekali terhadap tugas yang diberikan oleh guru, maka jangan berharap ia akan mengerjakan tugas tersebut dengan sempurna. Jadi, perhatian ini sangat berpengaruh terhadap keberhasiltidaknya metode inquiri.
c. Intelegensi Murid
Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu. Murid yang belum siap menerima pelajaran tidak akan sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Taraf intelegensi di bawah rata-rata akan terhambat bahkan tidak mampu menyelesaikan tugas dengan sempurna.
3. Kelengkapan Fasilitas
Fasilitas yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik metode pengajaran yang dipergunakan. Sekolah-sekolah yang maju biasanya mempunyai fasilitas belajar yang lengkap, sehingga sangat membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Sekolah-sekolah di daerah terpencil biasanya kekurangan fasilitas belajar, sehingga kegiatan interaksi edukatif berjalan apa adanya secara sederhana.
4. Situasi dan Kondisi Murid
Waktu sekolah atau belajar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Jika siswa harus berangkat sekolah sore hari mestinya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Di mana siswa harus beristirahat, tetapi terpaksa harus masuk sekolah. Jika siswa sekolah dalam keadaan badannya sudah lelah, misalnya pada siang hari, akan mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran.kesulitan tersebut disebabkan karena siswa sukar berkonsentrasi dan berpikir pada kondisi badan yang lemah.

B) Hasil Belajar Siswa
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu usaha sadar individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan-latihan atau pengulangan-pengulangan dan perubahan yang terjadi bukan karena peristiwa kebetulan.
Sedangkan menurut Thorndike sebagai mana dikutip Mustaqim dan Wahib, bahwa belajar adalah “usaha untuk membentuk hubungan perangsang dan reaksi.” Terjadinya belajar adalah suatu stimulus dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelumnya ia mengalami situasi ke waktu sesudah mengalami situasi tersebut.
Sedangkan Mudzakir dan Sutrisno mendefinisikan belajar pada “suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.”
Jadi menurut beberapa uraian di atas, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang mengarah ke suatu yang lebih baik atau lebih maju karena melalui proses latihan dan pengalaman secara berulang-ulang.

2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan –kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai. Darajat dkk. dalam Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam menjelaskan bahwa; “hasil belajar adalah bentuk perubahan tingkah laku siswa setelah mempelajari pelajaran”. Untuk mengetahu hasil belajar guru hendaknya mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa.
Proses belajar mengajar dianggap berhasil bisa dilihat pada indikator-indikatornya sebagai berikut:
a. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
b. Perilaku yang digariskan dalam tujuan instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa baik individual maupun kelompok.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang dikutip oleh Sujana yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah:
1. Ranah Kognitif.
Yaitu hasil belajar yang berkenaan dengan intelektual, yang menurut Sujana terdiri dari enam aspek, yakni:
a. Pengetahuan dan ingatan,
b. Pemahaman,
c. Aplikasi,
d. Analisis,
e. Sintesis,
f. Dan evaluasi.
2. Ranah Afektif.
Yaitu hasil belajar yang berkenaan dengan sikap, dalam hal ini Sujana membagi pada lima aspek:
a. Penerimaan,
b. Jawaban atau reaksi,
c. Penilaian,
d. Organisasi,
e. Internalisasi.
3. Ranah Psikomotoris
Yaitu hasil belajar yang berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Dalam hal ini ada enam aspek, yakni:
a. Gerakan refleks,
b. Keterampilan gerakan dasar,
c. Kemampuan perseptual,
d. Keharmonisan atau ketepatan,
e. Gerakan keterampilan kompleks,
f. Gerakan ekspresif dan interpretatif.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Sudah dijelaskan diatas bahwa belajar merupakan suatu proses. Sebagai suatu proses sudah barang tentu harus ada yang diproses (masukan atau input), dan hasil dari pemrosesan (keluaran atau output). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis kegiatan belajar itu dengan pendekatan analisis sistem. Dengan pendekatan sistem ini sekaligus kita dapat melihat adanya faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan menggambarkan kegiatan belajar dengan pendekatan analisis sistem. Pendekatan sistem kegiatan belajar tersebut digambarkan sebagai berikut:











)


Gambar di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (raw input) merupakan bahan mentah yang perlu diolah, dala hal ini diberi pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar-mengajar (teaching-lerning proses). Di dalam proses belajar-mengajar itu turut berpengaruh pula sejumlah faktor lingkungan yang merupakan masukan lingkungan (environmental input), dan berfungsi sejumlah faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan (instrumental input) guna tercapainya keluaran yang dikehendaki (output). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.
Di dalam proses belajar-mengajar di sekolah, yang dimaksud raw input adalah siswa. Sebagai raw input siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik fisiologis maupun psikologis. Selanjutnya Purwanto menjelaskan yang dimaksud fisiologis adalah “bagaimana kondisi fisiknya, panca inderanya, dan sebagainya. Sedangkan yang menyangkut psikologis adalah minatnya, tingkat kecerdasannya, bakatnya, motivasinya, kemampuan koknitifnya, dan sebagainya.” Semua ini dapat mempengaruhi bagaimana proses dan hasil belajarnya.
Selanjutnya yang dimaksud dengan instrumen input atau faktor-faktor yang disengaja dirancang dan dimanipulasi adalah: kurikulum atau bahan pelajaran, guru yang memberikan pengajaran, sarana dan fasilitas, serta manajemen yang berlaku di sekolah yang bersangkutan. Di dalam keseluruhan sistem maka instrumental input merupakan faktor yang sangat penting dan paling menentukan dalam pencapaian hasil/output yang dikehendaki, karena instrumental input inilah yang menentukan bagaimana proses belajar-mengajar itu akan terjadi di dalam diri siswa.

4. Faktor-Faktor Kesulitan Belajar
1) Faktor Jasmaniyah
Faktor jasmaniyah dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya, adalah:

a. Aspek Penglihatan, disebabkan oleh:
 Kurang jelasnya bayangan retina mata sehingga mempengaruhi mekanisme penglihatan, menyebabkan kebingungan terhadap bentuk-bentuk huruf.
 Kurang tepat mendistribusikan pola-pola yang dilihat yang kompleks sehingga sulit mengadakan reaksi keseluruhan.
 Kurang tepat mendistribusikan pola-pola orientasi yang bersifat khusus.
b. Aspek Pendengaran, disebabkan oleh:
 Karena tuli / sedikit tuli.
 Kurang tepat mendistribusikan suara, sehingga bingung.
c. Kenestetik, yaitu otot yang berhubungan dengan penglihatan dan pendengaran atau yang berhubungan dengan lidah dan bibir.
d. Dominance, yaitu terganggunya salah satu jenis syaraf yang turut mengatur kegiatan-kegiatan badan dan kontrol faktor-faktor bahasa. Syarat ini disebut gerebral hemipher.
e. Pengeluaran lendir yang tidak wajar, seperti bertambah berat badan yang luar biasa, temperatur badan yang rendah, dan sebagainya.
2) Faktor Psikologis
• Kematangan mental, ini bertahan dengan kemampuan menafsirkan hasil pengamatan sensoris.
• Kematangan emosional, anak yang emosinya belum matang bisa menyebabkan gangguan membaca, seperti: keinginan, komunikasi, malu, kekanak-kanakan.
• Kematangan sosial, bertalian dengan minat membaca.
• Stabilitas emosional, dapat menyebabkan kegagalan belajar membaca, seperti: frustasi, kekurangannya konsentrasi dan kurangnya motivasi.
3) Faktor Lingkungan
• Lingkungan keluarga, misalnya ketidak harmonisan hubugan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
• Lingkungan perkampungan /masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
• Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas.

H. Hipotesis
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan sementara mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Jadi yang dimaksud dengan hipotesis adalah praduga sementara yang akan dibuktikan setelah ada data yang membenarkannya.
Maka untuk memberikan arah dalam penelitian mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode inquiri pada bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011”.


2. Hipotesis Nul (Ho)
Tidak ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode inquiri pada bangun datar terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun pelajaran 2010-2011”.

I. Metode Penelitian
Dalam mengadakan penelitian, metode sangat penting untuk membantu memecahkan masalah yang sedang diteliti, karena metode adalah suatu cara yang harus dilakukan dalam menentukan populasi, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data, sehingga dapat dicapai tujuan yang telah ditentukan yang kesimpulan penelitian.
1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan individu yang hendak diselidiki. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang tahun 2010-2010 yang berjumlah 40.
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti, hendak diselidiki itu disebut sampel. Sebagai pedoman dapat diambilkan dari pendapat Arikunto yaitu apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih.
2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang terjadi obyek pengamatan, penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan diteliti: Variabel penelitian yang digunakan ada dua jenis yaitu independen variable (sebagai variabel X) dan dependen variabel (sebagai variabel Y):
a. Penggunaan metode inquiri sebagai variabel (X) dengan indikator sebagai berikut:
1) Fase mengidentifikasi benda-benda di sekitar.
2) Fase langkah mengukur benda bangun datar.
3) Fase pembahasan hasil pengamatan dan pengukuran benda bangun datar.
b. Hasil Belajar Siswa sebagai variabel (Y) dengan indikator sebagai berikut:
1) Nilai komulatif di atas 70
3. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dan dapat dipertanggungjawabkan, maka ada dua sumber yang digunakan:
1) Library research, yaitu “suatu research kepustakaan” . Library research dipakai untuk memperoleh pedoman-pedoman teori-teori dengan jalan menelaah buku-buku yang relevan dengan permasalahan penelitian dan hasilnya dijadikan landasan pemikiran.
2) Field Research
Field Research yaitu research yang dilakukan di kancah atau di medan terjadinya gejala-gejala . Adapun metode ayng digunakan dalam penelitian lapangan adalah:
a. Observasi, yaitu memperhatikan sesuatu dengan mengunakan mata. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan keadaan sekolah, letak geografis, keadaan guru, siswa dan lain-lain.
b. Interview, yaitu sebuah diolog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan sejarah berdirinya SD Muhammadiyah 04 Semarang.
c. Angket atau kuesioner, adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang penggunaan metode inquiri
d. Dokumentasi, yaitu barang-barang tertulis, artinya didalam meneliti peneliti menyelidiki benda-benda tertulis sepertibuku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. Metode dokumentasi ini digunakan ini digunakan untuk memperoleh keterangan atau data yang bersifat dokumenter, separti data nilai hasil belajar dan buku raport.

4. Metode Analisis Data
Setelah data-data terkumpul semua, baru dianalisis dengan menggunakan data analisis statistik. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
a. Analisis Pendahuluan
Dalam analisis data pendahuluan, digunakan klasifikasi data yang diperoleh dari angket distribusi frekuensi sederhana, untuk setiap variabel yang sebelumnya telah diubah dari data kualitatif menjadi data kuantitatif dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
- Jawaban alternatif a dengan skor 5
- Jawaban alternatif b dengan skor 4
- Jawaban alternatif c dengan skor 3
- Jawaban alternatif d dengan skor 2
- Jawaban alternatif e dengan skor 1
Hal ini sesuai dengan pendapat Masri Singarimbun yang mengatakan bahwa:
Seorang peneliti mengingatkan range yang cukup besar sehingga informasi yang dikumpulkan lebih lengkap. Ada peneliti yang menggunakan jenjang 3 (1,2,3), jenjang 5 (1,2,3,4,5), jenjang 7 (1,2,3,4,5,6,7), jenjang mana yang cocok untuk digunakan tergantung dari populasi peneltian.

Sehingga skor yang akan diperoleh melalui jawaban angket kerja dengan hubungan nilai paling rendah 30 dan nilai paling tinggi 90.
Sedangkan untuk menentukan hasil belajar siswa adalah:
100 = istimewa 50 = tidak cukup
90 = amat baik 40 = kurang
80 = baik 30 = amat kurang
70 = lebih dari cukup 20 = buruk
60 = cukup 10 = amat buruk

b. Analisis Uji Hipotesis
Analisis ini digunakan untuk menguji distribusi frekuensi yang telah disusun dalam analisis pendahuluan yaitu dengan memakai analisis statistik yaitu menggunakan rumus statistik product moment sebagai berikut:

)


Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y.
x = Variabel bebas (penggunaan metode inquiri).
y = Variabel terikat (hasil belajar siswa).
N = Jumlah sampel.
∑ = Sigma

c. Analisis Lanjut
Analisis lanjut ini merupakan analisis uji hipotesis. Dalam analisis lanjut ini akan diinterprestasikan dari hasil yang telah dikoefisien korelasi antara variabel X dan Y atau diperoleh ro, maka langkah berikutnya adalah membandingkan ro dengan nilai r yang terdapat pada tabel rt.
Jika nilai yang telah dihasilkan dari koefisien korelasi (ro) lebih besar atau sama dengan r yang ada dalam tabel, berarti hipotesis yang penulis ajukan (Ha) diterima dan (Ho) ditolak. Dan jika nilai yang telah dihasilkan dari koefisien korelasi (ro) diperoleh lebih kecil dari pada nilai r dalam tabel, berarti hipotesisi yang penulis ajukan (Ho) diterima dan (Ha) ditolak.

J. Sistematika Penulisan Skripsi
Dalam sistematika penulisan skripsi ini terjadi dari tiga bagian pokok yang merupakan rangkaian dari bab-bab yang ada pada setiap bab terdiri dari sub-sub bab.
1. Bagian muka terdiri dari halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, pedoman translaterasi Arab Latin, dan daftar isi.
2. Bagian isi / batang tubuh, memuat tentang:
Bab I : Pendahuluan. Dalam bab ini memuat latar belakang masalah, alas an pemilihan judul, telaah pustaka, rumusan masalah, penegasan istilah, tujuan dan manfaat penelitian, rumusan hipotesis, metode penelitian, sistematika penulisan skripsi.
Bab II : Metode Inquiri dan Hasil Belajar Siswa. Dalam bab ini akan diuraikan tentang teori-teori yang berkaitan dengan judul, yaitu:
Pertama, metode inquiri dengan sub bab: pengertian metode inquiri, tujuan metode inquiri, langkah-langkah metode inquiri, pelaksanaan metode inquiri, kelebihan dan kekurangan metode inquiri, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan metode inquiri, kendala-kendala dalam penggunaan metode inquiri
Kedua, hasil belajar siswa dengan sub bab: pengertian belajar, pengertian hasil belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, faktor-faktor kesulitan belajar.
Bab III : Penggunaan metode inquiri dan hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang. Dalam bab ini merupakan penyajian data yang terdiri dari: Pertama, situasi umum SD Muhammadiyah 04 Semarang yang meliputi: tinjauan historis, letak geografis, struktur organisasi, keadaan guru dan murid, keadaan sarana dan prasarana.
Kedua, data khusus yang terdiri dari: data tentang penggunaan metode inquiri dan data tentang hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang.
Bab IV : Analisi Pengaruh Penggunaan Metode inquiri terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang. Dalam bab ini merupakan analisis data yang terdiri dari: analisis pendahuluan tentang penggunaan metode inquiri pada bangun datar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang dan analisis data tentang hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang, analisis uji hipotesis tentang hubungan penggunaan metode inquiri pada bangun datar dengan hasil belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 04 Semarang.
BAB V : Penutup dalam bab ini berisi tentang kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
3. Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat hidup penulis.


Semarang, 25 Januari 2011
Pembimbing Peneliti


(Sari Hernawati, S.Ag. M.Pd) (Siti Cholifatun)
NIM: 086051559



















PENGARUH PENGGUNAAN METODE INQUIRI PADA BANGUN DATAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD MUHAMMADIYAH 04 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2010-2011

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

VAREABEL DIMENSI INDIKATOR DISKRIPTOR NO: ITEM
1 2 3 4 5
Penggunaan Metode Inquiri
(X)















































Tehnik Pematangan Penyiapan


Tehnik Pelaksanaan






Tehnik Pertanggungjawaban










a. Fase mengidentifikasi benda-benda di sekitar.


b. Fase mengukur dan mengamati benda bangun datar.


c. Fase pembahasan hasil pengukuran dan pengamatan benda bangun datar.


a. Pemberian tugas
b. Pemahaman pengamatan benda bangun datar
c. Pengarahan tugas pengamatan
d. Tanggap terhadap petunjuk
e. Meningkatkan gairah untuk mengerjakan tugas
f. Sesuai ketentuan
g. Kecepatan dalam mengerjakan pengamatan



1
2
3
4

5


6
7
8
9
10



















ANGKET UNTUK SISWA
PETUNJUK PENGISIAN
1. Bacalah terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan teliti.
2. Pilihlah salah satu jawaban yang paling sesuai dengan keadaanmu dengan cara memberi tanda silang (X) pada salah satu huruf a, b, c, d, atau e.
3. Kebenaran dan kejujuran dalam menjawab anget ini sangat diharapkan dalam penelitian ini.
4. Tulislah nama dan kelas pada tempat yang tersedia.

Nama : ……………….
Kelas : ……………….

Variabel Penggunaan Metode Inquiri ( X)
A. Fase mengidentifikasi benda-benda di sekitar.
1. Sering mendapat tugas dari guru untuk mengukur benda bangun datar di sekitar kelas.
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

2. Paham tugas dari guru untuk mengamati bangun datar.
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

3. Jika mengamati benda bangun datar selalu minta petunjuk kepada guru.
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

4. Apakah kamu selalu bisa mengukur benda bangun datar yang ada di sekitar kamu?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

5. Percobaan kamu mengukur bangun datar selalu berhasil dengan baik dan benar ?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

B. Fase pengamatan dan pengukuran benda bangun datar.
6. Saat mengamati bangun datar selalu dibatasi waktu?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

7. Waktu yang ditentukan untuk mengamati bangun datar selalu cukup.
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

8. Bangun datar yang kamu amati sangat bervariasi?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

9. Apakah benda yang diamati sudah sesuai dengan materi dalam buku pelajaran.?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

10. Apakah guru kamu selalu mengawasi ketika kamu mengemati bangun datar?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

11. Apakah yang kamu amati selalu kamu catat?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

12. Apakah benda yang kamu amati mudah untuk dipahami?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

13. Apakah pengamatan yang kamu lakukan selalu berhasil (benar)?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

14. apakah kamu sering minta tolong kepada guru kamu dalam mengamati bangun datar?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

15. Apakah kamu pernah disuruh mengulang kedua kalinya dari hasil pengamatan benda bangun datar?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

16. Apakah kamu paham bangun datar bentuk segi tiga ?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

17. Apakah kamu mampu mengukur bangun datar bentuk jajaran genjang?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

C. Fase pembahasan hasil pengamatan dan pengukuran benda bangun datar.

18. Apakah guru kamu selalu menyuruh untuk melaporkan hasil pengamatan dan pengukuran bangun datar?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

19. Apakah hasil pengamatan kamu selalu didiskusikan kepada teman-teman sekelas?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah


20. Apakah teman-teman kamu selalu menanyakan hasil pengamatan dan pengukuran bangun datar ?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

21. Apakah hasil pengamatan bangun datar kamu selalu mendapat tanggapan dari teman-teman kamu?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

22. Apakah diskusi yang kamu lakukan sudah sesuai yang kamu harapkan?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

23. Apakah diskusi hasil pengmatan kamu mendapat kritikan dari teman-teman?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah


24. Apakah diskusi hasil pengamatan bangun datar kamu selalu berjalan lancer?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

25. Apakah guru kamu selalu memberi apresiasi terhadap hasil pengamatan dan pengukuran kamu?
a. selalu
b. sering
c. kadang-kadang
d. jarang
e. tidak pernah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar