السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي اعجز وصفه السنة الواصفين وحجب عن معرفة ادراك كنه ذاته افهام العارفين,وجعل حُرمةَ حرمهِ ملاذًا وملجأً للخَائفينَ والداخلين.
احمده على مااولاناَ من النِّعمِ واودعَ واشهد ان لا اله الاّ اللهُ وحده لا شريك لهُ , شهادةً تُنَجِّي قائلَهَا في يوم لا ولدَ فيه ينفعُ , واشهدُ انّ سيدنا محمّداً عبدهُ ورسولهُ نبيُّ يومِ القيامةِ يقالُ لَهُ سَلْ تُعْطَ واشْفَعْ تُشْفَعْ , صلى الله عليه وعلى اله واصحابه صلاةً وسلاماً دائمَينِ متلازمين مااستهلَّ من الامَاقِ مَدْمَعَ وسلّمَ تسليماً, ايها الناس اتقو اللهَ حقّ تقاته ولا تموتنَّ الاّ وانتم مسلمون ,
Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah.
Mari kita bertaqwa kepada Allah swt dalam arti memelihara diri dari segala bentuk kemusyrikan dan kemunafikan dengan mentaati dan mengerjakan semua perintahnya serta menjahui segala larangannya.
Juga taqwa yang dapat menumbuhkan amal –amal saleh yang nyata sebagai pembuktian kebenaran iman , sebab segala perbuatan dan amal manusia baik atau jahatnya merupakan pencerminan iman terhadap Allah swt.
Dalam hidup kita sering menjumpai bermacam-macam keadaan, suka duka, bahagia dan derita, lega hati dan kecewa silih berganti, sehat dan sakit, senyum dan air mata datang dan pergi.
Semua itu menuntut kekuatan mental yang kokoh, sebab tanpa kekuatan mental yang kuat kita akan diombang-ambingkan oleh syaitan. Cobaan yang silih berganti yang menimpa bangsa Indonesia ini harus kita sikapi dengan hati yang ikhlas, tabah dan sabar menerima cobaan semua ini. Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah swt tidak akan membiarkan hambanya yang selalu ingat kepadaNya.
Allah swt berfirman.
•
28. Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
Setelah kita menyadari bahwa hidup ini penuh persoalan, sebagai muslim kita hendaknya menunjukkan kesabaran sebagai pertahanan rohani. Karena kita yakin kesabaran itulah yang dapat melepaskan dari keputus asaan.
Allah berfirman:
•
200. Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
Dari ayat di atas kita dapat mengabil kesimpulan bahwa untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat kita harus selalu memohon pertolongan kepada Allah swt dengan sabar dan dengan melaksanakan ibadah/salat. Sabar tanpa ibadah /salat tidak akan berarti, salat tanpa sabar tidak akan membekas.
Begitu pula ketika kita mendapat cobaan dari Allah janganlah mengeluh dan putus asa. Sebab cobaan itu merupakan bukti kecintaan Allah swt terhadap hambanya.penderitaan lahiriyah hendaknya kita hadapi dengan sabar, karena dibalik kesulitan dan kesusahan akan ada kemudahan.
Firman Allah swt:
• •
5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
Dalam ayat lain Allah berfirman :
•
155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
Hadirin siding jumah yang dimulyakan Allah swt.
Nyatalah bahwa sabar adalah sifat yang utama.dengan sabar kita akan memperoleh kemenagan dan kemudahan.
Kita tidak diperkenankan mengeluh dan berputus asa sebab mustahil tumbuh-tumbuhan yang baru ditanam akan segera berbuah.
Marilah kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah dengan amal-amal saleh, dan juga mari kita tingalkan larangan-larangannya dengan kesabaran.
Hadirin…
Dalam islam kita danjurkan untuk bersabar dalam tiga hal:
1. sabar dalam menerima musibah
kita harus sabar dan tabah dengan cobaan yang menimpa kita. Kita tidak boleh mengeluh dan meratapi cobaan yang menimpa kita.
2. sabar dalam mengerjakan perintah Allah atau beribadah.
Sabar dalam beribadah artinya kita harus selalu taat kepada Allah dengan tetap melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Ketaatan dan kepatuhan seorang hamba tidak bisa diukur dengan materi. Kaya dan miskin dihadapan Allah swt adalah sama saja. Kita miskin harus tekun bribadah, kaya juga harus tetap rajin dan lebih meningkatkan amal ibadahnya.
3. sabar dalam meninggalkan larangan-larangannya.
Artinya kita harus sabar sekuat tenaga, bahwa apapun alasannya kita harus meningalkan larangan yang telah Allah tetapkan. Misalnya, Minuman keras yang sudah nyata-nyata diharamkan dalam alqur’an, jangan sekali-kali minum atau sekedar mencoba. Karena sakali mencoba maka kita akan ketagihan. Karena banyak dan sedikitnya hamar atau minuman keras itu tetap haram
Sabda Rasulullah saw;
مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ. رواه الاربعة واحمد
Artinya:
“Apa yang banyak memabukkan, maka sedikitpun haram.” ( HR. Imam Empat dan Ahmad)
Dari uraian di atas, kami mengajak kepada hadirin semua untuk bersama-sama menunjukkan sifat sabar dalam kehidupan sehari-hari. Sebab dari uraian di atas nyatalah bahwa kebaikan dan keberuntungan dari Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang sabar. Semoga kita termasuk golongan orang-orang baik dan beruntung, yaitu orang-orang yang sabar.
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِو, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراًز
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر
Kamis, 30 Juni 2011
KHUTBAH MENJAUHI DENGKI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الحنّانِ المنّانِ, ساترِ العيوبِ وغافرِ الذنوبِ لمن اليهِ يتوبُ من الذنوبِ والعصيانِ خالق الخلق غني المشيرِ والاعوانِ , اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيأ وجعل لكمُ السمعَ والابصارَ والافئدةَوهو قديم الاحسانِ , اوجدَ الكلَّ بعلمهِ وصيّرهم تحتَ قهْرهِ وحُكمهِ , وَاِنْ منِ شيءٍ الا يُسبّحُ بحمدِهِ , فهو السُّبوحُ المُسَبَّحُ بكُلِّ لسانٍ , احمده وله الحمد في السّر والاِعلانِ , واشهد انّ سيدنا ونبينا محمدًا عبدهُ ورسولهُ سيد ولد ادمَ ممن يكون وممن كانَ , اللهم صل وسلم على سيدنا محمدٍ وعلى الهِ واصحابهِ صلاةً وسلاماً دائمينِ متلازمينِ في كلِ وقتٍ واَوانٍ , وسلم تسليماً كثيراً .
عباد اللهِ , اتقوااللهَ حقّ تقاتِهِ ولا تموتنّ الاّ وانتم مسلمونَ .
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia.
Tidak ada satupun yang menyenagkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa dendam dan iri hati. Seorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat , ialah orang yang apabila melihat nimat yang deterima oleh orang lain , ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pada dirinya. Dan apabila orang lain tertimpa cobaan dari Allah swt , ia merasa sedih dan mengharapkan kepada Allah untuk segera meringankan penderitaan yang menimpanya dan mengampuni dosa-dosanya.
Demikian seorang muslim hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah swt dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari rasa dengki dan iri. Karena dengki dan iri hati itu termasuk penyakit hati, yang dapat melenyapkan semua amal saleh. Rasulullah swa bersabda:
اياكم والحسد فان الحسد تأكل الحسنات كما تأكل النار الحطابَ
“jahuilah olehmu berbuat hasud atau dengki, arena hasud atau dengki itu bisa menghilangkan amal perbuatan yang saleh sabagai mana api membakar kayu bakar”
Hadirin jum’at rahimakumullah!
Peristiwa besar yang menghebohkan dunia 400 tahun yang lalu dapat dijadikan pelajar bagi kita semua betapa kuatnya pengaruh hasud sehingga bisa mendorong orang untuk berbuat kerusakan, keonaran bahkan pembantain di atas muka bumi ini. Seorang raja Abrahah, yang sombong dan congkak, yang tidak mau menerima apa yang dia terima dari Allah swt. membuat dia iri hati dan hasud dengan ramainya kota makah waktu itu. Banyak orang dari penjuru dunia yang berdatangan ke Makah setahun sekali untuk menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mereka berduyun-duyun, berbondong-bondong, berdatangan untuk mengunjungi Baitullah yang ada di Mekah. Kadatangan para zairin ke makah membuat kota makah menjadi terkenal keseluruh pelosok dunia. Menjadikan kota Makah ramai, dan tentunya mendatangkan rizka bagi penduduk kota Makah itu sendiri.
Melihat kondisi kota Makah seperti ini, Raja Abrahah menjadi iri, mengapa kota kami (Yaman) sepi, tidak seramai kota Mekah.? Apa sebenarnya factor dari semua itu? Ternyata yang menarik orang-orang untuk ke Makah adalah bangunan Kakbah atau Baitullah.
Akhirnya Raja Abrahah membuat tandingan dengan membangun sebuah gereja yang sangat besar bahkan lebih besar dari baitullah. Promosi kehebatan dan kebesaran telah dilakukan sampai ke seluruh dunia. Namun apa yang terjadi? Tak ada satupun yang mau mengunjungi gereja buatan raja Abrahah kecuali para pengikut-pengikutnya. Hal ini membuat Raja Abrahah merasa terpukul, terhina oleh keagungan Baitullah di kota makah.
Akhirnya puncak dari sifat iri hati Raja Abrahah ini menjadikan dia semakin sombong dan angkuh. Semua tentara disiapkan dengan mengendarai seekor gajah untuk menyerbu kota Makah mengahancurkan kakbah.
Hadirin rahimakumullah!
Peristiwa penyerangan Raja Abrahah ini di abadikan dalam al Qur;an surat al fil sebagai berkut:
Atas pertolongan dari Allah swt. dengan mengirim burung ababil yang membawa batu dari neraka hancurlah Raja Abrahah dan bala tentaranya.
Hadirin ….
Pada hari itulah lahirlah nabi Muhammda saw pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Fil. Para ahli sejarah menyebut tahun Fil karena peristiwa itu bertepatan dengan hancurnya tentara bergajah yang akan mengahancurkan kakbah.
Hadirin ….
Marilah peristiwa lahirya junjungan kita nabi Muhammad saw kita peringati dengan memperbanyak membaca salawat dan riwayat-riwayat yang sudah tertulis pada kitab-kitab barzanji, diba’ burdah ataupun lainnya. Marilah kita agungkan hari kelahiran nabi kita ini , dan cintailah nabi dengan banyak menyebut namanya. Mudah –mudahan kita termasuk umat nabi yang kelak akan mendapatkan syafaatnya amin.
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِو, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراًز
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
الحمد لله الحنّانِ المنّانِ, ساترِ العيوبِ وغافرِ الذنوبِ لمن اليهِ يتوبُ من الذنوبِ والعصيانِ خالق الخلق غني المشيرِ والاعوانِ , اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيأ وجعل لكمُ السمعَ والابصارَ والافئدةَوهو قديم الاحسانِ , اوجدَ الكلَّ بعلمهِ وصيّرهم تحتَ قهْرهِ وحُكمهِ , وَاِنْ منِ شيءٍ الا يُسبّحُ بحمدِهِ , فهو السُّبوحُ المُسَبَّحُ بكُلِّ لسانٍ , احمده وله الحمد في السّر والاِعلانِ , واشهد انّ سيدنا ونبينا محمدًا عبدهُ ورسولهُ سيد ولد ادمَ ممن يكون وممن كانَ , اللهم صل وسلم على سيدنا محمدٍ وعلى الهِ واصحابهِ صلاةً وسلاماً دائمينِ متلازمينِ في كلِ وقتٍ واَوانٍ , وسلم تسليماً كثيراً .
عباد اللهِ , اتقوااللهَ حقّ تقاتِهِ ولا تموتنّ الاّ وانتم مسلمونَ .
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia.
Tidak ada satupun yang menyenagkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa dendam dan iri hati. Seorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat , ialah orang yang apabila melihat nimat yang deterima oleh orang lain , ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pada dirinya. Dan apabila orang lain tertimpa cobaan dari Allah swt , ia merasa sedih dan mengharapkan kepada Allah untuk segera meringankan penderitaan yang menimpanya dan mengampuni dosa-dosanya.
Demikian seorang muslim hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah swt dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari rasa dengki dan iri. Karena dengki dan iri hati itu termasuk penyakit hati, yang dapat melenyapkan semua amal saleh. Rasulullah swa bersabda:
اياكم والحسد فان الحسد تأكل الحسنات كما تأكل النار الحطابَ
“jahuilah olehmu berbuat hasud atau dengki, arena hasud atau dengki itu bisa menghilangkan amal perbuatan yang saleh sabagai mana api membakar kayu bakar”
Hadirin jum’at rahimakumullah!
Peristiwa besar yang menghebohkan dunia 400 tahun yang lalu dapat dijadikan pelajar bagi kita semua betapa kuatnya pengaruh hasud sehingga bisa mendorong orang untuk berbuat kerusakan, keonaran bahkan pembantain di atas muka bumi ini. Seorang raja Abrahah, yang sombong dan congkak, yang tidak mau menerima apa yang dia terima dari Allah swt. membuat dia iri hati dan hasud dengan ramainya kota makah waktu itu. Banyak orang dari penjuru dunia yang berdatangan ke Makah setahun sekali untuk menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mereka berduyun-duyun, berbondong-bondong, berdatangan untuk mengunjungi Baitullah yang ada di Mekah. Kadatangan para zairin ke makah membuat kota makah menjadi terkenal keseluruh pelosok dunia. Menjadikan kota Makah ramai, dan tentunya mendatangkan rizka bagi penduduk kota Makah itu sendiri.
Melihat kondisi kota Makah seperti ini, Raja Abrahah menjadi iri, mengapa kota kami (Yaman) sepi, tidak seramai kota Mekah.? Apa sebenarnya factor dari semua itu? Ternyata yang menarik orang-orang untuk ke Makah adalah bangunan Kakbah atau Baitullah.
Akhirnya Raja Abrahah membuat tandingan dengan membangun sebuah gereja yang sangat besar bahkan lebih besar dari baitullah. Promosi kehebatan dan kebesaran telah dilakukan sampai ke seluruh dunia. Namun apa yang terjadi? Tak ada satupun yang mau mengunjungi gereja buatan raja Abrahah kecuali para pengikut-pengikutnya. Hal ini membuat Raja Abrahah merasa terpukul, terhina oleh keagungan Baitullah di kota makah.
Akhirnya puncak dari sifat iri hati Raja Abrahah ini menjadikan dia semakin sombong dan angkuh. Semua tentara disiapkan dengan mengendarai seekor gajah untuk menyerbu kota Makah mengahancurkan kakbah.
Hadirin rahimakumullah!
Peristiwa penyerangan Raja Abrahah ini di abadikan dalam al Qur;an surat al fil sebagai berkut:
Atas pertolongan dari Allah swt. dengan mengirim burung ababil yang membawa batu dari neraka hancurlah Raja Abrahah dan bala tentaranya.
Hadirin ….
Pada hari itulah lahirlah nabi Muhammda saw pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Fil. Para ahli sejarah menyebut tahun Fil karena peristiwa itu bertepatan dengan hancurnya tentara bergajah yang akan mengahancurkan kakbah.
Hadirin ….
Marilah peristiwa lahirya junjungan kita nabi Muhammad saw kita peringati dengan memperbanyak membaca salawat dan riwayat-riwayat yang sudah tertulis pada kitab-kitab barzanji, diba’ burdah ataupun lainnya. Marilah kita agungkan hari kelahiran nabi kita ini , dan cintailah nabi dengan banyak menyebut namanya. Mudah –mudahan kita termasuk umat nabi yang kelak akan mendapatkan syafaatnya amin.
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِو, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراًز
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
KHUTBAH TTG ZUHUD
الحمد لله الذي تُسَبِحُ لَهُ الرمالُ وتَسْجُدُ لَهُ الظِلالُ, وتَتَدَكْدَكُ من هَيبَتِهِ الْجِبَالُ , خلقَ الاِنْسَانَ منَ الطِّينِ اللازِبِ والصَلْصَالِ, وزيّنَ صورتهُ بأحسن ِتقويم وأتمَ اعْتدالٍ, فلما انكشف للعارفين منها قبائحُ الاسرارِ والافعالِ, زَهدوافيها زَهْدَالمُبْغِضِ لهاوتركواالتكاثر والتفاخرَبالاموالِ, واقبلُوا بكُنْهِ هِمَمِهِمْ على حضرة الجلالِ, وَاثِقِيْنَ منها بوصولٍ ليسَ دُونَهُ انفصالٌ, ومشاهدةٍ ابَديةٍ لا يَعتَرِيْهَا فناءٌ ولازوالٌ, والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الانبياء وعلى الهِ خيرِ الٍ, فان الدنيا عدوة للهِ عز وجل بغُرورِها ضَلَّ من ضل وبمكرهاَ زلَّ من زل فحبها رأس الخطاياوالسيأت وبغضها ام الطاعات واَسُ القربات و اما بعد فيا ايها الناس اتقوااللهَ حقّ تقاتهِ ولا تموتنّ الا وانتم مسلمون , hadirin jamaah jum’at rahimakumullah.
Marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah swt dengan selalu menjalankansemua perintah-perintahnya dan menjahui segala larangannya. Mari kita tingalkan semua hal-hal yang diharamkan oleh Allah meskipun hanya sekecil apapun. Sehingga rezeki yang kita makan benar-benar halal menurut Allah swt. Karena rezeki yang tidak halal tidak akan membawa berkah.
Hadirin…..
Hujjatul islam imam al Ghazali menjelaskan tentang bahaya makan makanan yang haram dengan menyetir sebuah hadis nabi Muhammad saw yakni “ kullu lahmin nabata min haramin fannar aula biha” setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka narakalah yang lebih pantas baginya.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan beberapa bahayanya makan makanan yang haram , diantaranya adalah dijauhkan dari rahmat Allah , Allah tidak akan menyayanginya.
Hadirin….
Memang pada saat ini kita sulit menghindari makanan yang haram. Namun dibalik kesulitan itulah justru Allah akan memberi pahala kepada orang yang dengan susah payah membanting tulang kerja keras mencari rizki yang halal. Seiring dengan berkembangnya dunia modrn. Berubahlah gaya hidup manusia di dunia ini. Semua tidak lepas dari apa yang dia lihat dan saksikan setiap hari. Gemerlapnya dunia membuat silau sebagian orang sehingga lupa akan dirinya. Dari mana ia dilahirkan , dan akan ke mana setelah perjalan dunia yang sebentar ini.? Orang berlomba-lomba menumpuk-numpuk harta sehingga lalai kepada tuhan-Nya, lalai akan kewajibannya sebagai hamba kepada rabnya. Allah swt telah menggambarkan orang-orang yang lalai karena hartanya sebagai berikut:
• •
1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598],
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Hadirin…..
Dari ayat di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa manusia akan selalu bernegah-megahan sampai dia dimasukkan ke dalam kubur yakni meninggal dunia.
Hadirin …..
Para ulama’ salafus salihin telah membuat gerakan menentang tindakan para khalifah yang hidup serba hidonis, bermewah-mewahan, bermegah-megahan dan berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan amanat umatnya.
Gerakan itu adalah gerakan zuhud. Gerakan ini muncul di kalangan pengamal tasawuf pada akhir Abad Pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar negara, yang merupakan dampak dari kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.
Semasa Dinasti Umayyah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah di kalangan para khalifah dan pembesar-pembesar negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian ini tidak sesuai dengan pola ajaran dan amal agama seperti dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Hadirin…..
Banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Hal ini adalah wajar dan beralasan, karena salah satu daripada makam yang harus ditempuh oleh calon sufi adalah makam zuhud.
Ada dua pendapat tentang pengertian zuhud ini. Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali segala sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tetapi zuhud sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Dari pengertian tersebut, yang lebih relevan dengan kondisi saat ini adalah pengertian zuhud yang ke dua. selain Al Qur'an dan Al Hadis yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar As Siddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin 'Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, di mana kekayaan mereka itu tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT
•
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. Al Hadid 57 : 23).
•
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu (Q.S. Al Qashash 28 : 77).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri kita sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang diridlai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lainnya adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap orang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi harta duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِ, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراً
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
Marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah swt dengan selalu menjalankansemua perintah-perintahnya dan menjahui segala larangannya. Mari kita tingalkan semua hal-hal yang diharamkan oleh Allah meskipun hanya sekecil apapun. Sehingga rezeki yang kita makan benar-benar halal menurut Allah swt. Karena rezeki yang tidak halal tidak akan membawa berkah.
Hadirin…..
Hujjatul islam imam al Ghazali menjelaskan tentang bahaya makan makanan yang haram dengan menyetir sebuah hadis nabi Muhammad saw yakni “ kullu lahmin nabata min haramin fannar aula biha” setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka narakalah yang lebih pantas baginya.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan beberapa bahayanya makan makanan yang haram , diantaranya adalah dijauhkan dari rahmat Allah , Allah tidak akan menyayanginya.
Hadirin….
Memang pada saat ini kita sulit menghindari makanan yang haram. Namun dibalik kesulitan itulah justru Allah akan memberi pahala kepada orang yang dengan susah payah membanting tulang kerja keras mencari rizki yang halal. Seiring dengan berkembangnya dunia modrn. Berubahlah gaya hidup manusia di dunia ini. Semua tidak lepas dari apa yang dia lihat dan saksikan setiap hari. Gemerlapnya dunia membuat silau sebagian orang sehingga lupa akan dirinya. Dari mana ia dilahirkan , dan akan ke mana setelah perjalan dunia yang sebentar ini.? Orang berlomba-lomba menumpuk-numpuk harta sehingga lalai kepada tuhan-Nya, lalai akan kewajibannya sebagai hamba kepada rabnya. Allah swt telah menggambarkan orang-orang yang lalai karena hartanya sebagai berikut:
• •
1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598],
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Hadirin…..
Dari ayat di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa manusia akan selalu bernegah-megahan sampai dia dimasukkan ke dalam kubur yakni meninggal dunia.
Hadirin …..
Para ulama’ salafus salihin telah membuat gerakan menentang tindakan para khalifah yang hidup serba hidonis, bermewah-mewahan, bermegah-megahan dan berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan amanat umatnya.
Gerakan itu adalah gerakan zuhud. Gerakan ini muncul di kalangan pengamal tasawuf pada akhir Abad Pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar negara, yang merupakan dampak dari kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.
Semasa Dinasti Umayyah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah di kalangan para khalifah dan pembesar-pembesar negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian ini tidak sesuai dengan pola ajaran dan amal agama seperti dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Hadirin…..
Banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Hal ini adalah wajar dan beralasan, karena salah satu daripada makam yang harus ditempuh oleh calon sufi adalah makam zuhud.
Ada dua pendapat tentang pengertian zuhud ini. Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali segala sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tetapi zuhud sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Dari pengertian tersebut, yang lebih relevan dengan kondisi saat ini adalah pengertian zuhud yang ke dua. selain Al Qur'an dan Al Hadis yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar As Siddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin 'Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, di mana kekayaan mereka itu tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT
•
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. Al Hadid 57 : 23).
•
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu (Q.S. Al Qashash 28 : 77).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri kita sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang diridlai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lainnya adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap orang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi harta duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِ, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراً
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
KHUTBAH FADHILAH BULAN JARAB
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي احاط بكلّ شيئ عِلما, واحصى كلَّ شيئ عددا, الذي فضّلَ شهر رجبَ, واوجبَ عَلينا تعظيمَهُ فوجبَ, هو شهرُ اللهِ الاصمِّ الاَصبَ, قدّمَهُ بين الانامِ, وفضَّلهُ في الجاهِلِيّةِ والاسلامِ, من صام فيه عشرَ ايّامٍ كتب الله من السُّعداءِ, فسبحان من منَّ به على الوجودِ, وانعمَ فيه بالفضلِ والجودِ, فمن اجْتهدَ فيه بلغَ المقصودَ, وكانَ منَ الفائزينَ عند اللهِ غدًا,
احمده سبحانه وتعالى على ما انعمَ, واشكُرُهُ على ما اَعطى وتَكرَّمَ, واَستغْفِرُهُ من الكبائرِ واللّمَمِ, وَاتوبُ اليهِ متوَكِلاً عليه مُعْتمداً , واشهدُ ان لا الهَ الا اللهُ وحدهُ لا شريكَ لهُ, ولا ضدَّ لهُ ولا نِدَّ لهُ, ولا وزِيرَ لهُ جلَّ وعلا ما اتخَذَ صاحبةً ولا والدًا, واشهدُ ان سيدنا ونبينا محمّداً عبدهُ ورسولهُ نبيٌّ جاءنا بالهدَى, اللهُمَّ فصلِ وسلمْ على هذا النبيِّ الكريمِ, والرّسولِ السّيِدِ السّنَدِ العظِيمِ ذى القلبِ الرحيمِ, سيّدنا محمّدٍ وعلى الهِ واصحابهِ صلاةً وسلامًا دائمينِ ابداً, وسلِّم تسليمًا كثيرًا,
ايّها النّاس اتقواللهَ حقَّ تقاتهِ ولا تموتنَّ الاّ وانتم مسلمونَ.
Sidang jum’at yang berbahagia.
Hidup kita adalah berbilang hari, bulan dan tahun. Semua itu telh diatur oleh Allah swt, silih berganti. Dalam hitungan tahun, terdiri dari dua belas bulan. Diantara 12 bulan tersebut Allah memulyakan 4 bulan. Allah swt berfirman dalam surat at-Taubah: 36.
اِنَّ عِدَةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ والاَرْضَ مِنْهَا اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ.
Dari ayat tersebut kita memperoleh pengertian bahwa di antara waktu-waktu yang telah diatur Allah , terdapat waktu-waktu mulia, satu diantaranya adalah bulan Rajab.
Sungguh berbahagia kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan rajab ini. Karena bulan raja adalah bulan dimana Allah swt memi’rajkan nabi Muhammad saw untuk mendapat perintah salat lima waktu.
Sungguh tinggi nilai salat dibanding puasa, zakat dan haji. Mengapa demikian? Kalau perintah puasa, perintah zakat dan perintah haji Allah cukup menurunkan wahyunya lewat malaikat Jibril as. Namun perintah salat Allah langsung memanggil nabi Muhammad saw. Untuk menghadap Allah swt, pencipta alam semesta yang agung ini.
Hadirin rahimakumullah.
Sebab itulah kita wajib menyadari betapa pentingnya salat dalam kehidupan beragama. Ketinggian salat inilah yang menempatkan salat sebagai sendi agama.
Rasulullah saw bersabda:
الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين
“salat lima waktu adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama”
Jamaah salat jumat rahimakumullah.
Mari kita tingkatkan amal saleh, dengan memperbanyak ibadah terutama di bulan Rajab ini..Di bulam mulia ini segala amal akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, dan Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang berbuat kebajikan dan ibadah.
Rasulullah saw bersabda:
ان في الجنة نهرا يقال له رجبٌ اشدّ بياضاً من اللبن واحلىَ من العسلِ من صام يومًا من رجبَ سقاهُ اللهُ من ذلك النهرِ
“di dalam surga terdapat sebuah bengawan yang disebut bengawan Rajab, airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada madu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab maka kelak Allah akan memberi minum kepadanya dari air bengawan itu.”
Bulan Rajab adalah bulan yang penuh maghfirah, segala kebaikan akan dilipat kandakan pahalanya, segala ampunan akan diterima dan segala kemaksiatan lebih dijauhi.
Allah swt. Berfirman:
يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الشَهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيرٌ .( البقرة : 217 )
Artinya: “ mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram,. Dikatakan: berperang pada bulan haram itu adalah dosa besar.” (al Baqarah: 217)
Hadirin Rahimakumullah.
Pada bulan Rajab ini, mari kita tekankan ibadah salat kepada anak cucu kita. Sungguh sangat memprihatinkan sekali pada akhir-akhir ini. Anak –anak kita sudah banyak yang melalaikan salatnya. Padahal mereka sudah menginjak aqil balig. Yang artinya mereka sudah berkewajiban untuk melaksanaka salat lima waktu. Terkadang kita sering melihat anak-anak kita yang sudah aqil balig tapi salatnya belum benar. Masih banyak diantara mereka yang masih memerlukan bimbingan dan pendidikan tentang salat yang benar. Benar dalam segi bacaannya dan benar pula dalam gerakannya.
Hadirin …
Tugas orang tua di sini sangat besar. Orang tua harus mempengaruhi anak dalam usaha perkembangan sehari-hari. Orang tua merupakan pendidik yang primer. Jangan merasa bebas tanggung jawab, karena anak sudah dimasukkan di sekolah atau madrasah. Pengawasan orang tua sangat diperlukan agar anak-anak mengarah kepada yang baik-baik saja.
كلّ مولود يولد على الفطرة فابواه يهودانهِ او ينصِّرانهِ او يمجسانهِ.
Artinya:
“setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan suci. Hanya kedua orang tuanyalah yang mencetak anak itu menjadi yahudi, nasrani atau menjadi majusi.”
Hadirin…
Dari hadis tersebut dapat kita fahami bahwa pengaruh orang tua sangat lah menentukan sekali. Anak akan dijadikan orang baik atau akan dijadikan orang jahat semua itu tergantung orang tuanya.tergantung orang tuanya bagaimana dia mendidik, dimana dia memasukkan pendidikan?
Hadirin…
Sebelumnya minta maaf, kadang-kadang demi sekolah murah, atau sekolah faforit pendidikan agama dikesampingkan. Mereka hanya memburu kebutuhan dunia , sementara kebutuhan agama mereka tinggalkan, bahkan mereka lebih suka memasukkan putra-putrinya ke pendidikan yang notabene non muslim, naudzu billah tsumma naudzu billah.
Hadirin…
Bulan-bulan ini adalah bulan dimana orang tua disibukkan mencarikan sekolah bagi orang tua yang mempunyai putra usia masuk sekolah. Pada kesempatan ini saya berpesan carikan pendidikan untuk putra-putri kita yang mempunyai nilai plus agama.. masih banyak di lingkungan kita sekolah dan madrasah yang memberikan porsi agama 50% dan umum 50%. Ingat pesan nabi, didiklah anakmu karena mereka akan hidup pada zaman yang tidak sama dengan zamanmu.
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم , والمؤمنون والمؤمناتُ بغضهمْ اولياءُ بعضٍ يعمرونَ بالمعروف وينهونَ عن المنكرِ ويقيمون الصلاةَ ويؤتون الزكاةَ ويطيعون اللهَ ورسولَهُ اولئك سيرحمُهُمُ اللهُ انّ اللهَ عزيزٌ حكيمٌ . التوبة : ٧١
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِو, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراًز
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
الحمد لله الذي احاط بكلّ شيئ عِلما, واحصى كلَّ شيئ عددا, الذي فضّلَ شهر رجبَ, واوجبَ عَلينا تعظيمَهُ فوجبَ, هو شهرُ اللهِ الاصمِّ الاَصبَ, قدّمَهُ بين الانامِ, وفضَّلهُ في الجاهِلِيّةِ والاسلامِ, من صام فيه عشرَ ايّامٍ كتب الله من السُّعداءِ, فسبحان من منَّ به على الوجودِ, وانعمَ فيه بالفضلِ والجودِ, فمن اجْتهدَ فيه بلغَ المقصودَ, وكانَ منَ الفائزينَ عند اللهِ غدًا,
احمده سبحانه وتعالى على ما انعمَ, واشكُرُهُ على ما اَعطى وتَكرَّمَ, واَستغْفِرُهُ من الكبائرِ واللّمَمِ, وَاتوبُ اليهِ متوَكِلاً عليه مُعْتمداً , واشهدُ ان لا الهَ الا اللهُ وحدهُ لا شريكَ لهُ, ولا ضدَّ لهُ ولا نِدَّ لهُ, ولا وزِيرَ لهُ جلَّ وعلا ما اتخَذَ صاحبةً ولا والدًا, واشهدُ ان سيدنا ونبينا محمّداً عبدهُ ورسولهُ نبيٌّ جاءنا بالهدَى, اللهُمَّ فصلِ وسلمْ على هذا النبيِّ الكريمِ, والرّسولِ السّيِدِ السّنَدِ العظِيمِ ذى القلبِ الرحيمِ, سيّدنا محمّدٍ وعلى الهِ واصحابهِ صلاةً وسلامًا دائمينِ ابداً, وسلِّم تسليمًا كثيرًا,
ايّها النّاس اتقواللهَ حقَّ تقاتهِ ولا تموتنَّ الاّ وانتم مسلمونَ.
Sidang jum’at yang berbahagia.
Hidup kita adalah berbilang hari, bulan dan tahun. Semua itu telh diatur oleh Allah swt, silih berganti. Dalam hitungan tahun, terdiri dari dua belas bulan. Diantara 12 bulan tersebut Allah memulyakan 4 bulan. Allah swt berfirman dalam surat at-Taubah: 36.
اِنَّ عِدَةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ والاَرْضَ مِنْهَا اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ.
Dari ayat tersebut kita memperoleh pengertian bahwa di antara waktu-waktu yang telah diatur Allah , terdapat waktu-waktu mulia, satu diantaranya adalah bulan Rajab.
Sungguh berbahagia kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan rajab ini. Karena bulan raja adalah bulan dimana Allah swt memi’rajkan nabi Muhammad saw untuk mendapat perintah salat lima waktu.
Sungguh tinggi nilai salat dibanding puasa, zakat dan haji. Mengapa demikian? Kalau perintah puasa, perintah zakat dan perintah haji Allah cukup menurunkan wahyunya lewat malaikat Jibril as. Namun perintah salat Allah langsung memanggil nabi Muhammad saw. Untuk menghadap Allah swt, pencipta alam semesta yang agung ini.
Hadirin rahimakumullah.
Sebab itulah kita wajib menyadari betapa pentingnya salat dalam kehidupan beragama. Ketinggian salat inilah yang menempatkan salat sebagai sendi agama.
Rasulullah saw bersabda:
الصلاة عماد الدين فمن اقامها فقد اقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين
“salat lima waktu adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama”
Jamaah salat jumat rahimakumullah.
Mari kita tingkatkan amal saleh, dengan memperbanyak ibadah terutama di bulan Rajab ini..Di bulam mulia ini segala amal akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, dan Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang berbuat kebajikan dan ibadah.
Rasulullah saw bersabda:
ان في الجنة نهرا يقال له رجبٌ اشدّ بياضاً من اللبن واحلىَ من العسلِ من صام يومًا من رجبَ سقاهُ اللهُ من ذلك النهرِ
“di dalam surga terdapat sebuah bengawan yang disebut bengawan Rajab, airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada madu. Barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab maka kelak Allah akan memberi minum kepadanya dari air bengawan itu.”
Bulan Rajab adalah bulan yang penuh maghfirah, segala kebaikan akan dilipat kandakan pahalanya, segala ampunan akan diterima dan segala kemaksiatan lebih dijauhi.
Allah swt. Berfirman:
يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الشَهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيرٌ .( البقرة : 217 )
Artinya: “ mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram,. Dikatakan: berperang pada bulan haram itu adalah dosa besar.” (al Baqarah: 217)
Hadirin Rahimakumullah.
Pada bulan Rajab ini, mari kita tekankan ibadah salat kepada anak cucu kita. Sungguh sangat memprihatinkan sekali pada akhir-akhir ini. Anak –anak kita sudah banyak yang melalaikan salatnya. Padahal mereka sudah menginjak aqil balig. Yang artinya mereka sudah berkewajiban untuk melaksanaka salat lima waktu. Terkadang kita sering melihat anak-anak kita yang sudah aqil balig tapi salatnya belum benar. Masih banyak diantara mereka yang masih memerlukan bimbingan dan pendidikan tentang salat yang benar. Benar dalam segi bacaannya dan benar pula dalam gerakannya.
Hadirin …
Tugas orang tua di sini sangat besar. Orang tua harus mempengaruhi anak dalam usaha perkembangan sehari-hari. Orang tua merupakan pendidik yang primer. Jangan merasa bebas tanggung jawab, karena anak sudah dimasukkan di sekolah atau madrasah. Pengawasan orang tua sangat diperlukan agar anak-anak mengarah kepada yang baik-baik saja.
كلّ مولود يولد على الفطرة فابواه يهودانهِ او ينصِّرانهِ او يمجسانهِ.
Artinya:
“setiap anak yang dilahirkan dilahirkan dalam keadaan suci. Hanya kedua orang tuanyalah yang mencetak anak itu menjadi yahudi, nasrani atau menjadi majusi.”
Hadirin…
Dari hadis tersebut dapat kita fahami bahwa pengaruh orang tua sangat lah menentukan sekali. Anak akan dijadikan orang baik atau akan dijadikan orang jahat semua itu tergantung orang tuanya.tergantung orang tuanya bagaimana dia mendidik, dimana dia memasukkan pendidikan?
Hadirin…
Sebelumnya minta maaf, kadang-kadang demi sekolah murah, atau sekolah faforit pendidikan agama dikesampingkan. Mereka hanya memburu kebutuhan dunia , sementara kebutuhan agama mereka tinggalkan, bahkan mereka lebih suka memasukkan putra-putrinya ke pendidikan yang notabene non muslim, naudzu billah tsumma naudzu billah.
Hadirin…
Bulan-bulan ini adalah bulan dimana orang tua disibukkan mencarikan sekolah bagi orang tua yang mempunyai putra usia masuk sekolah. Pada kesempatan ini saya berpesan carikan pendidikan untuk putra-putri kita yang mempunyai nilai plus agama.. masih banyak di lingkungan kita sekolah dan madrasah yang memberikan porsi agama 50% dan umum 50%. Ingat pesan nabi, didiklah anakmu karena mereka akan hidup pada zaman yang tidak sama dengan zamanmu.
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم , والمؤمنون والمؤمناتُ بغضهمْ اولياءُ بعضٍ يعمرونَ بالمعروف وينهونَ عن المنكرِ ويقيمون الصلاةَ ويؤتون الزكاةَ ويطيعون اللهَ ورسولَهُ اولئك سيرحمُهُمُ اللهُ انّ اللهَ عزيزٌ حكيمٌ . التوبة : ٧١
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم , وتقبّل منّي ومنكم تلاوته انّه هو السميع العليم, اقول قولي هذا واستغفر الله العظيمَ لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انّه هو الغفور الرحيمُ.
الخطبة الثانية
الحمد لله مؤيّدِ الصابرين بعزيزِ نصرهِ, وميسّر الشاكرين لحميد شكرهِ , وموفّقِ المختارينَ للقيامِ بأمرهِ , احمدهُ على ما انعم واسلمَ لامرهِ فيما حكم وابرمَ , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له, واشهد انّ محمدًا عبده ورسوله , اللهمّ صلّ على سيدنا محمد , صلى الله عليه وعلى اله منتهى الدهورِو, صلاةً دائمة بلا فناءٍ ولا فتورٍ , وسلم تسليماً كثيراًز
امّا بعد: فيا ايها الناس اتّقو اللهَ, انّ اللهَ امرَكم بأمرٍ بدأ فيه بنفسهِ, وثنىَّ بملائكته وايّدَ بالمؤمنين من عباده, فقال عزّمن قائل: ان الله وملائكته يصلّون على النبي , يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلّموا تسليماً , اللهم صلّ على سيدنا محمد سيد المرسلين, وانبيائك ورسلك وملائكتك المقربين, واهلِ طاعتكَ اجمعين,
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات , انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهمّ احفظْ عليهم وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ واَخْرِجْهُمْ من ضيقِ السُجُونِ الى سعة اوطانهِمْ ولا تجعلهمْ فتنةً للظالمين, ونجِّهِمْ برحمتك من القوم الكافرين , ربنا اتنا في الدنياحسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, ربنا اغفرلنا ولاخواننا الذين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاً للذين امنوا ربنا انك رؤفٌ رحيم,
عباد الله, ان اللهَ يأمركم بالعدل والاحسان وايتاءِ ذيِ القربَى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون, فاذكروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكروه على نعمه يزدْكم ولَذِكرُ اللهِ اكبر.
MENDIDIK ANAK
Pentingnya Peran Orang tua terhadap Pendidikan Anak di era Moderenisasi
Anak adalah anugerah dari sang pencipta, orang tua yang melahirkan anak harus bertangung jawab terutama dalam soal mendidiknya, baik ayah sebagai kepala keluarga maupun ibu sebagai pengurus rumah tangga. Keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak merupakan awal keberhasilan orang tua dalam keluarganya apabila sang anak menuruti perintah orang tuanya terlebih lagi sang anak menjalani didikan sesuai dengan perintah agama.
Bobroknya moral seorang anak dan remaja bisa diakibatkan salah satu kesalahan dari orangtuanya dalam hal mendidik anak. Keluarga yang sedang bermasalah (broken home) dapat membuat anak menjadi orang yang temperamental. Kebanyakan dari orang tua tidak memikirkan hal ini, mereka berasumsi jika mereka menjalani hidup sebagaimana yang sedang mereka jalani, peran pengasuhan akan terus dengan sendirinya.
Dalam era modernisasi sekarang ini, peran penting orang tua sangat dibutuhkan. Adabeberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua:
1. pendidikan agama
كل مولود يولد على الفطرة وانما ابواه يهودانه او ينصرانه اويمجسانه
مروا الصبي بالصلاة اذا بلغ سبع سنين واذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها
2. pergaulan
Berkenaan dengan perkembangan kecanggihan teknologi. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa teknologi berkembang dengan pesat sehingga penggunaannya banyak digunakan tidak semestinya, Teknologi IT yang paling sering digunakan para anak muda sekarang adalah akses internet yang mudah ditemui, padahal pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang anti pornoaksi dan pornografi tapi masih saja mereka kerap mengakses konten yang berbau negatif. Yang jelas dapat merusak moral sang anak. Teknologi canggih yang semestinya diciptakan untuk menambah wawasan yang positif malah berakibat pada moral yang jelek.Sebaigian orang mengatakan kalau internet itu merupakan;
روضة من رياض الجنة او حفرة من حفار النران
Salah satu taman surga atau jurang api neraka, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.
Pergaulan yang negatif adalah salah satu dari sekian banyak penyebab kehancuran sang anak. Saat ini dapat kita lihat banyaknya sistem pergaulan kawula muda yang mengadopsi gaya ala barat (westernisasi) dimana etika pergaulan ketimuran telah pupus,..
Satu lagi permasalahan yang sering ditakuti oleh orang tua yaitu narkoba, sudah jelas barang haram ini dikategorikan sebagai barang berbahaya dan terlarang yang bisa merusak generasi muda. Narkoba menjadi jurang kehancuran bagi sang anak. Ironisnya memakai barang haram ini juga sudah menjadi tren remaja sekarang dengan anggapan bila mengkonsumsi barang ini akan menjadi senang atau yang dikenal dengan bahasa gaulnya (fly). Padahal sudah jelas menurut kesehatan mengkonsumsi barang-barang sejenis narkoba sangat merusak kesehatan terutama pada sistem syaraf apalagi dengan mengkonsumsi barang ini akan membuat ketagihan dan ketergantungan, ini sungguh menakutkan.
ياايهاالذين امنوا انما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون
“Hai oaring-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengadu nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”
Apakah kita sebagai orang tua ingin melihat anak hancur masa depannya karena kesalahan yang tidak semestinya terjadi? Di sinilah peran penting orang tua dalam mengontrol dan mengawasi sang buah hati. Menjadi orang tua bukan soal siapa kita, tetapi apa yang dilakukan. Pengasuhan tidak hanya mencakup tindakan tetapi mencakup pula apa yang kita kehendaki agar sang buah hati kita mengerti akan hidup. Apa artinya hidup dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik.
Semua pasti ingin menghendaki hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin mendisiplinkan, mendorong, dan menasihati agar mereka berhasil menjalani kehidupan sedari kanak-kanak hingga sampai dewasa. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik dalam kehidupannya. Termasuk ingin membuat buah hatinya untuk bebas mengeluarkan dan menggali bakat dan minat yang dimiliki sang anak.
marilah kita memerhatikan pendidikan anak-anak kita jangan sampai terjerumus dalam api neraka
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يا ايها الذين امنوا لا تلهكم اموالكم واولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فاولئك هم الخاسرون
Anak adalah anugerah dari sang pencipta, orang tua yang melahirkan anak harus bertangung jawab terutama dalam soal mendidiknya, baik ayah sebagai kepala keluarga maupun ibu sebagai pengurus rumah tangga. Keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak merupakan awal keberhasilan orang tua dalam keluarganya apabila sang anak menuruti perintah orang tuanya terlebih lagi sang anak menjalani didikan sesuai dengan perintah agama.
Bobroknya moral seorang anak dan remaja bisa diakibatkan salah satu kesalahan dari orangtuanya dalam hal mendidik anak. Keluarga yang sedang bermasalah (broken home) dapat membuat anak menjadi orang yang temperamental. Kebanyakan dari orang tua tidak memikirkan hal ini, mereka berasumsi jika mereka menjalani hidup sebagaimana yang sedang mereka jalani, peran pengasuhan akan terus dengan sendirinya.
Dalam era modernisasi sekarang ini, peran penting orang tua sangat dibutuhkan. Adabeberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua:
1. pendidikan agama
كل مولود يولد على الفطرة وانما ابواه يهودانه او ينصرانه اويمجسانه
مروا الصبي بالصلاة اذا بلغ سبع سنين واذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها
2. pergaulan
Berkenaan dengan perkembangan kecanggihan teknologi. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa teknologi berkembang dengan pesat sehingga penggunaannya banyak digunakan tidak semestinya, Teknologi IT yang paling sering digunakan para anak muda sekarang adalah akses internet yang mudah ditemui, padahal pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang anti pornoaksi dan pornografi tapi masih saja mereka kerap mengakses konten yang berbau negatif. Yang jelas dapat merusak moral sang anak. Teknologi canggih yang semestinya diciptakan untuk menambah wawasan yang positif malah berakibat pada moral yang jelek.Sebaigian orang mengatakan kalau internet itu merupakan;
روضة من رياض الجنة او حفرة من حفار النران
Salah satu taman surga atau jurang api neraka, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.
Pergaulan yang negatif adalah salah satu dari sekian banyak penyebab kehancuran sang anak. Saat ini dapat kita lihat banyaknya sistem pergaulan kawula muda yang mengadopsi gaya ala barat (westernisasi) dimana etika pergaulan ketimuran telah pupus,..
Satu lagi permasalahan yang sering ditakuti oleh orang tua yaitu narkoba, sudah jelas barang haram ini dikategorikan sebagai barang berbahaya dan terlarang yang bisa merusak generasi muda. Narkoba menjadi jurang kehancuran bagi sang anak. Ironisnya memakai barang haram ini juga sudah menjadi tren remaja sekarang dengan anggapan bila mengkonsumsi barang ini akan menjadi senang atau yang dikenal dengan bahasa gaulnya (fly). Padahal sudah jelas menurut kesehatan mengkonsumsi barang-barang sejenis narkoba sangat merusak kesehatan terutama pada sistem syaraf apalagi dengan mengkonsumsi barang ini akan membuat ketagihan dan ketergantungan, ini sungguh menakutkan.
ياايهاالذين امنوا انما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون
“Hai oaring-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengadu nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”
Apakah kita sebagai orang tua ingin melihat anak hancur masa depannya karena kesalahan yang tidak semestinya terjadi? Di sinilah peran penting orang tua dalam mengontrol dan mengawasi sang buah hati. Menjadi orang tua bukan soal siapa kita, tetapi apa yang dilakukan. Pengasuhan tidak hanya mencakup tindakan tetapi mencakup pula apa yang kita kehendaki agar sang buah hati kita mengerti akan hidup. Apa artinya hidup dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik.
Semua pasti ingin menghendaki hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin mendisiplinkan, mendorong, dan menasihati agar mereka berhasil menjalani kehidupan sedari kanak-kanak hingga sampai dewasa. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik dalam kehidupannya. Termasuk ingin membuat buah hatinya untuk bebas mengeluarkan dan menggali bakat dan minat yang dimiliki sang anak.
marilah kita memerhatikan pendidikan anak-anak kita jangan sampai terjerumus dalam api neraka
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
يا ايها الذين امنوا لا تلهكم اموالكم واولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فاولئك هم الخاسرون
Minggu, 17 April 2011
TASAWUF MODERN
TASAWUF MODERN
Selama ini, kebanyakan kita memahami tasawuf hanya sebagai sarana pendekatan diri manusia kepada Allah SWT melalui taubat, zikir, iklhas, zuhud, dll. Tasawuf lebih dicari orang dan ditujukan untuk sekedar mencari ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia, di tengah pergulatan kehidupan duniawi yang tak tentu arah ini.Tasawuf menjadi sangat penting, karena bisa menjadi fundasi dasar bagi setiap upaya amal untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, bagi setiap pencari kebenaran dan kesempurnaan diri dan kehidupannya.
Tasawuf sebagai salah satu pilar utama dalam Islam, harus dapat menyesuaikan di dunia modern ini karena kebanyakan manusia didominasi oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya Barat yang materialistik-sekularistik.
Dominasi ilmu pengetahuan dan budaya Barat materialisme-sekularisme ini terbukti pada akhirnya lebih bersifat destruktif ketimbang konstruktif bagi kemanusiaan – sebagaimana juga sudah sering dikritisi oleh beberapa sarjana Barat sendiri akhir-akhir ini (misalnya Anthony Giddens & Fritjof Capra). Tentu para cendikiawan Muslim lebih banyak yang mengkritisi paradigma budaya Barat.
Bila hal tersebut dibenturkan dengan agama,akan ditemukan masalah yang akut.Filsafat pengetahuan Barat hanya menganggap absah (valid) ilmu pengetahuan yang semata-mata bersifat induktif-empiris, rational-deduktif dan pragmatis, serta menafikan atau menolak ilmu pengetahuan non-empiris & non-positivisme, yaitu ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu ketuhanan (divine knowledge dan, atau Kitab Suci Allah SWT).
Paradigma materialistic-mekanistik yang berdasarkan metode Cartesian dan Newtonian (hipotesis deduktif-eksperimental-induktif) telah menyebabkan reduksi atas kenyataan hanya menjadi sekedar fakta-fakta materialisme-reduksionistik. Paradigma ini menyebar dan mempengaruhi berbagai cabang disiplin ilmu-ilmu lainnya, sehingga kehidupan, bahkan kesadaran manusia, direduksi hanya menjadi gerak-gerak material belaka. Misalnya, Adam Smith dalam bidang ekonomi berbicara tentang prinsip ‘mekanisme pasar’; Charles Darwin dalam Biologi berbicara tentang ‘mekanisme evolusi’, dan Sigmund Freud dalam psikologi berbicara tentang ‘mekanisme pertahanan diri/psikis’. Paradigma mekanistik-materialistik telah mendepak Tuhan dari wacana keilmuan dan mempromosikan sekularisme.
Armahedi Mahzar mengatakan bahwa, paradigma Cartesian-Newtonian tersebut, walaupun telah sukses meningkatkan kesejahteraan material umat manusia, namun akhirnya menggiring umat manusia ke dalam kubangan krisis multidimensional dalam kehidupannya, seperti penghancuran masal oleh militer akibat penggunaan senjata nuklir, kimia, biologi militer; kerusakan lingkungan hidup oleh polusi, degradasi, exploitation-depletion (eksploitasi sampai habis menipisnya Sumber Daya Alam); fragmentasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi, urbanisasi, fragmentasi & konflik sosial akut, keterasingan psikologis manusia dari hal yang alami, sosial dan tehnikal.
Di sinilah pentingnya tasafuwwuf modern, di mana konsep kebenaran ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan 3 prinsip: korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tapi juga yang bersifat spiritual-ilahiyah. Artinya sumber ilmu pengetahuan, selain mungkin didapat melalui akal rasional, dan empiris inderawi (observasi) juga niscaya didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk wahyu (kitab suci), pelajaran sejarah, latihan-latihan ruhani, penyaksian dan penyingkapan ruhaniyah. Seperti kata Jalaludin Rumi, seorang sufi agung, kaki rasionalisme semata adalah kaki kayu yang rapuh untuk meraih ilmu pengetahuan dan kebenaran.
Pengertian Tasawwuf (‘Irfan )
Istilah Tashawwuf (Sufisme), berasal dari kata shuf (wol, bulu domba) yang berarti memakai pakaian dari wol yang kasar, sebagai simbol kehidupan yang keras (zuhud/ascetics) yang menjauh dari kenikmatan duniawi. Jadi istilah tasawuf hanyalah symbol metaforis untuk sebuah konsep asketisme (kepertapaan atau kerahiban) dan gnosis (irfan).
Konsep tasawuf mempunyai padanan istilah lain yang maknanya sama yaitu ‘Irfan (gnosis). Istilah Irfan – sebagaimana istilah ma’rifah yang berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Arab – secara literal berarti ilmu pengetahuan. Makna khususnya adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera maupun pengalaman (positivisme-empirisme & eksperimentasi), tidak pula melalui rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani dan penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi suatu proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan tersebut antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat iluminasi (Isyraqiyah). Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan karena penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan ruhaniyah (riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair wa suluk) maka yang terakhir ini disebut Irfan ‘Amali (praktik Sufisme/Tashawwuf)..
Sufisme/tashawuf lebih tepat digunakan untuk penyebutan irfan praktis (amali) sedangkan istilah ‘Irfan adalah untuk Irfan teoritis.
Dalam pandangan tasawuf (Irfan) , ilmu adalah salah satu nama Allah (Asma al-Husna), Menurut Nabi SAW, Ilmu adalah cahaya (nur) Alllah. Cahaya Ilahi tersebut hanya akan dapat diserap dan dipantulkan dengan sebaik-baiknya, bila ‘lensa’ dan ‘cermin’ akal & qolbu manusia yang mencari dan menerimanya cukup bening, bersih (suci) dari kotoran-kotoran dan penyakit hati. Dalam al-Qur’an ada sebuah ayat yang bercerita bahwa bila manusia hamba-hamba Tuhan sudah bertaqwa kepada-Nya, maka Dia (Tuhan) akan menjadi tangannya ketika dia (hamba-Nya) bekerja, akan menjadi matanya ketika dia melihat, dan menjadi telinganya ketika dia mendengar (QS. : ). Inilah ayat yang menjadi landasan apa yang disebut dengan ilmu huduri (presensial knowledge) atau ilmu yang dihadirkan secara langsung oleh Tuhan kepada qalbu (hati & akal) manusia tanpa perantaraan konsep ataupun proposisi-prosisi inderawi. Ilmu huduri adalah sejenis ilmu yang dicerap melalui intuisi dan kebeningan hati dan kejernihan akal. Ilmu huduri inilah yang menjadi basis utama yang melengkapi apa yang didapat melalui usaha manusiawi yaitu ilmu raihan (ilmu husuli/aquired knowledge).
Manusia yang mencintai dan dicintai Tuhan akan bersatu, dalam artian manusia tersebut telah menyerap (men-down load) sifat-sifat dan perbuatan Tuhan ke dalam kehidupan pribadinya. Ego pribadinya telah lebur (fana) ke dalam ‘Samudra Ilahiyah’. Yang Ada (Existence) hanyalah Dia Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa. Apa yang tampak dari perilaku dan ucapan serta sikap-sikap hidupnya adalah Tajaliyat al-Ilahi (manifestasi Ketuhanan) atau penampakan sifat-sifat dan kehendak Tuhan. Dia menjadi Khalifatullah fi al-Ardh (wakil/mandataris Tuhan Allah di muka bumi). Inilah yang disebut tentang faham Wahdah al-Wujud menurut Ibn Arabi, atau Al-Salat al-Wujud (Principality of Existence) menurut Mulla Sadra, dalam kitabnya Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi Asyfar al Ar’baah al Aqliyah, atau ‘manungaling kawula-Gust’ dalam tradisi Suluk Islam Kejawen (ajaran Syeikh Siti Jenar dan atau Panembahan Panggung, pada masa awal kerajaan Mataram Islam di Jawa ?)
Eksistensi kemanusiaan manusia akan semakin menyempurna bersamaan prosesnya dengan perkembangan dan pertambahan ilmu pengetahuan yang dicerapnya dari Alam semesta dan dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Antara terminology ‘alam’, ilmu, dan al-‘Alim (Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu), adalah satu akar kata, yang berunsur huruf ‘alif, lam dan mim. Alam adalah ibarat laboratorium dan buku mega-super ensiklopedia yang mempertunjukan tanda-tanda kebesaran Tuhan dan keluasan Ilmu-Nya (“Akan Aku tunjukkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran kekuasaan)-KU, pada ufuk/horizon semesta dan di dalam dirimu, sehingga jelaslah bagimu bahwa Aku adalah kebenaran/ Al-Haq”, QS. : )
Tasawuf atau Irfan sebagai sarana pensucian jiwa dan akal manusia, adalah salah satu pilar utama yang mendampingi rasionalitas untuk meraih kejernihan ilmu pengetahuan, hakikat kebenaran dan kesempurnaaan-kesejahteraaan hidup manusia. Antara aktifitas Fikir dan Zikir harus berjalan seimbang, sinergis, holistic dan integral dalam kehidupan umat manusia secara umum khususnya untuk kaum Muslim, kalau hendak mewujudkan missi suci Ilahiyah menjadi Rahmatan lil ‘Alamin.
Bid`ah kah Tasawwuf
Manusia, seperti disebutkan Ibn Khaldun, memiliki anggota tubuh/panca indra, akal pikiran, dan hati sanubari. Ketiga potensi ini harus bersih, sehat, dan dapat bekerja sama secara harmonis. Untuk menghasilkan kondisi seperti ini, ada tiga bidang ilmu yang berperan penting.
Pertama, fikih, berperan dalam membersihkan dan menyehatkan panca indra dan anggota tubuh. Karenanya, fikih banyak berurusan dengan dimensi lahiriah manusia.
Kedua, filsafat, berperan dalam menggerakkan menyehatkan akal pikiran. Karenanya filsafat banyak berurusan dengan dimensi metafisik.
Ketiga, tasawuf, berperan dalam membersihkan hati sanubari.
Karenanya tasawuf banya berurusan dengan dimensi batin manusia. Dengan demikian, antara fikih, filsafat, dan tasawuf memiliki korelasi yang cukup dekat, yang tidak mungkin dipisahkan lagi antara satu dengan yang lainnya.
Ketiga potensi tersebut dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Mulk ayat 23.
“Katakanlah: Dialah yang menciptakan kamu dan memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al Mulk 67:23).
Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai mahluk yang memiliki keterbatasan, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah swt.
Jika sudut pandang yang digunakan manusia sebgai makhluk yang harus berjuang, tasawuf dapat didefinisikan sebagi upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Selanjutnya, jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk yang bertuhan, tasawurf dapat disefinisikan sebagai kesadaran fitrah (ketuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungakan manusia dengan Tuhan.
Abul Hasan Al Fusyandi, seorang tabi’in yang hidup sezaman dengan Hasab Al Bisri mengatakan, “Pada zaman Rasulullahs saw., tasawuf ada realitasnya, tetapi tidak ada namanya. Dan sekarang, ia hanyalah sekedar nama, tetapi tidak ada realitasnya.”
Pernyataan ulama dari kalangan tabi’in inibisa menjadi acuan bahwa zaman Rasulullah saw. memang tidak dikenal istilah tasawuf, namun ada realitasnya seperti sikap zuhud, qona’ah, taubat, ridha, shabar, dan lain-lain. Nah, sikap-sikap mulia tersebut dirangkum dalam sebuah nama yang sekarang dikenal dengan istilah tasawuf. Jadi, kita tidak perlu mempersoalkan nama, yang penting realitas atau substansinya.
Dalam mengarungi kehidupan, kita harus punya jiwa zuhud, qana’ah, taubat, muraqabatullah, ‘iffah, dan lain-lain. Bila Anda memberi nama untuk sederet istilah itu dengan sebutan Tasawuf, tentu saja boleh dan tidak termasuk bid’ah. Namun, kalau Anda tidak suka dengan istilah Tasawuf dengan alasan istilah tersebut tidak digunakan pada zaman Rasulullah saw., pakai saja istilah lain seperti ilmu zuhud misalnya (istilah yang digunakan Imam Ahmad). Yang pasti, materi yang dibahas dalam ilmu zuhud dan ilmu tasawuf substansinya sama, yang berbeda hanyalah masalah nama. Apalah arti sebuah nama, yang penting substansinya! Jadi, inti dari tasawuf adalah usaha pensucian jiwa dengan amaliah-amaliah yang shaleh yang sesuai dengan sunah Rasulullah saw. Prof. Hamka (alm) menyebutnya dengan istilah Tasawuf Modern. Namun demikian, kita pun perlu membuka mata bahwa memang ada juga ajaran tasawuf yang menyimpang dari sunah Rasulullah saw. Inilah yang disebut dengan tasawuf yang bid’ah. Sementara usaha pensucian hati yan gmengikuti sunah Rasulullah saw. sama sekali tidak bid’ah.
Kesimpulannya, pada zaman Rasulullah saw. tidak ada istilah tasawuf, yang ada adalah realitas atau substansinya seperti zuhud, qana’ah, ridha. ‘iffah, dan lain-lain. Kita dibenarkan untuk mempelajari dan mengamalkan tasawuf yang mengikuti sunah Rasulullah saw. dan haram mempelajari serta mengamalkan tasawuf yang tidak sesuai dengan sunah Rasulullah saw. (tasawuf yang bid’ah). Jadi, kita tidak bisa men-generalisasi bahwa semua tasawuf itu bid’ah. Sungguh bijak bila kita dapat menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Wallahu a’lam.
Selama ini, kebanyakan kita memahami tasawuf hanya sebagai sarana pendekatan diri manusia kepada Allah SWT melalui taubat, zikir, iklhas, zuhud, dll. Tasawuf lebih dicari orang dan ditujukan untuk sekedar mencari ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia, di tengah pergulatan kehidupan duniawi yang tak tentu arah ini.Tasawuf menjadi sangat penting, karena bisa menjadi fundasi dasar bagi setiap upaya amal untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, bagi setiap pencari kebenaran dan kesempurnaan diri dan kehidupannya.
Tasawuf sebagai salah satu pilar utama dalam Islam, harus dapat menyesuaikan di dunia modern ini karena kebanyakan manusia didominasi oleh hegemoni paradigma ilmu pengetahuan positivistic-empirisme dan budaya Barat yang materialistik-sekularistik.
Dominasi ilmu pengetahuan dan budaya Barat materialisme-sekularisme ini terbukti pada akhirnya lebih bersifat destruktif ketimbang konstruktif bagi kemanusiaan – sebagaimana juga sudah sering dikritisi oleh beberapa sarjana Barat sendiri akhir-akhir ini (misalnya Anthony Giddens & Fritjof Capra). Tentu para cendikiawan Muslim lebih banyak yang mengkritisi paradigma budaya Barat.
Bila hal tersebut dibenturkan dengan agama,akan ditemukan masalah yang akut.Filsafat pengetahuan Barat hanya menganggap absah (valid) ilmu pengetahuan yang semata-mata bersifat induktif-empiris, rational-deduktif dan pragmatis, serta menafikan atau menolak ilmu pengetahuan non-empiris & non-positivisme, yaitu ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu ketuhanan (divine knowledge dan, atau Kitab Suci Allah SWT).
Paradigma materialistic-mekanistik yang berdasarkan metode Cartesian dan Newtonian (hipotesis deduktif-eksperimental-induktif) telah menyebabkan reduksi atas kenyataan hanya menjadi sekedar fakta-fakta materialisme-reduksionistik. Paradigma ini menyebar dan mempengaruhi berbagai cabang disiplin ilmu-ilmu lainnya, sehingga kehidupan, bahkan kesadaran manusia, direduksi hanya menjadi gerak-gerak material belaka. Misalnya, Adam Smith dalam bidang ekonomi berbicara tentang prinsip ‘mekanisme pasar’; Charles Darwin dalam Biologi berbicara tentang ‘mekanisme evolusi’, dan Sigmund Freud dalam psikologi berbicara tentang ‘mekanisme pertahanan diri/psikis’. Paradigma mekanistik-materialistik telah mendepak Tuhan dari wacana keilmuan dan mempromosikan sekularisme.
Armahedi Mahzar mengatakan bahwa, paradigma Cartesian-Newtonian tersebut, walaupun telah sukses meningkatkan kesejahteraan material umat manusia, namun akhirnya menggiring umat manusia ke dalam kubangan krisis multidimensional dalam kehidupannya, seperti penghancuran masal oleh militer akibat penggunaan senjata nuklir, kimia, biologi militer; kerusakan lingkungan hidup oleh polusi, degradasi, exploitation-depletion (eksploitasi sampai habis menipisnya Sumber Daya Alam); fragmentasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi, urbanisasi, fragmentasi & konflik sosial akut, keterasingan psikologis manusia dari hal yang alami, sosial dan tehnikal.
Di sinilah pentingnya tasafuwwuf modern, di mana konsep kebenaran ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan 3 prinsip: korespondensi, koherensi dan pragmatisme saja, tapi juga yang bersifat spiritual-ilahiyah. Artinya sumber ilmu pengetahuan, selain mungkin didapat melalui akal rasional, dan empiris inderawi (observasi) juga niscaya didapatkan dan diperkuat melalui petunjuk wahyu (kitab suci), pelajaran sejarah, latihan-latihan ruhani, penyaksian dan penyingkapan ruhaniyah. Seperti kata Jalaludin Rumi, seorang sufi agung, kaki rasionalisme semata adalah kaki kayu yang rapuh untuk meraih ilmu pengetahuan dan kebenaran.
Pengertian Tasawwuf (‘Irfan )
Istilah Tashawwuf (Sufisme), berasal dari kata shuf (wol, bulu domba) yang berarti memakai pakaian dari wol yang kasar, sebagai simbol kehidupan yang keras (zuhud/ascetics) yang menjauh dari kenikmatan duniawi. Jadi istilah tasawuf hanyalah symbol metaforis untuk sebuah konsep asketisme (kepertapaan atau kerahiban) dan gnosis (irfan).
Konsep tasawuf mempunyai padanan istilah lain yang maknanya sama yaitu ‘Irfan (gnosis). Istilah Irfan – sebagaimana istilah ma’rifah yang berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Arab – secara literal berarti ilmu pengetahuan. Makna khususnya adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera maupun pengalaman (positivisme-empirisme & eksperimentasi), tidak pula melalui rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani dan penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi suatu proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan tersebut antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat iluminasi (Isyraqiyah). Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan karena penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan ruhaniyah (riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair wa suluk) maka yang terakhir ini disebut Irfan ‘Amali (praktik Sufisme/Tashawwuf)..
Sufisme/tashawuf lebih tepat digunakan untuk penyebutan irfan praktis (amali) sedangkan istilah ‘Irfan adalah untuk Irfan teoritis.
Dalam pandangan tasawuf (Irfan) , ilmu adalah salah satu nama Allah (Asma al-Husna), Menurut Nabi SAW, Ilmu adalah cahaya (nur) Alllah. Cahaya Ilahi tersebut hanya akan dapat diserap dan dipantulkan dengan sebaik-baiknya, bila ‘lensa’ dan ‘cermin’ akal & qolbu manusia yang mencari dan menerimanya cukup bening, bersih (suci) dari kotoran-kotoran dan penyakit hati. Dalam al-Qur’an ada sebuah ayat yang bercerita bahwa bila manusia hamba-hamba Tuhan sudah bertaqwa kepada-Nya, maka Dia (Tuhan) akan menjadi tangannya ketika dia (hamba-Nya) bekerja, akan menjadi matanya ketika dia melihat, dan menjadi telinganya ketika dia mendengar (QS. : ). Inilah ayat yang menjadi landasan apa yang disebut dengan ilmu huduri (presensial knowledge) atau ilmu yang dihadirkan secara langsung oleh Tuhan kepada qalbu (hati & akal) manusia tanpa perantaraan konsep ataupun proposisi-prosisi inderawi. Ilmu huduri adalah sejenis ilmu yang dicerap melalui intuisi dan kebeningan hati dan kejernihan akal. Ilmu huduri inilah yang menjadi basis utama yang melengkapi apa yang didapat melalui usaha manusiawi yaitu ilmu raihan (ilmu husuli/aquired knowledge).
Manusia yang mencintai dan dicintai Tuhan akan bersatu, dalam artian manusia tersebut telah menyerap (men-down load) sifat-sifat dan perbuatan Tuhan ke dalam kehidupan pribadinya. Ego pribadinya telah lebur (fana) ke dalam ‘Samudra Ilahiyah’. Yang Ada (Existence) hanyalah Dia Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa. Apa yang tampak dari perilaku dan ucapan serta sikap-sikap hidupnya adalah Tajaliyat al-Ilahi (manifestasi Ketuhanan) atau penampakan sifat-sifat dan kehendak Tuhan. Dia menjadi Khalifatullah fi al-Ardh (wakil/mandataris Tuhan Allah di muka bumi). Inilah yang disebut tentang faham Wahdah al-Wujud menurut Ibn Arabi, atau Al-Salat al-Wujud (Principality of Existence) menurut Mulla Sadra, dalam kitabnya Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi Asyfar al Ar’baah al Aqliyah, atau ‘manungaling kawula-Gust’ dalam tradisi Suluk Islam Kejawen (ajaran Syeikh Siti Jenar dan atau Panembahan Panggung, pada masa awal kerajaan Mataram Islam di Jawa ?)
Eksistensi kemanusiaan manusia akan semakin menyempurna bersamaan prosesnya dengan perkembangan dan pertambahan ilmu pengetahuan yang dicerapnya dari Alam semesta dan dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Antara terminology ‘alam’, ilmu, dan al-‘Alim (Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu), adalah satu akar kata, yang berunsur huruf ‘alif, lam dan mim. Alam adalah ibarat laboratorium dan buku mega-super ensiklopedia yang mempertunjukan tanda-tanda kebesaran Tuhan dan keluasan Ilmu-Nya (“Akan Aku tunjukkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran kekuasaan)-KU, pada ufuk/horizon semesta dan di dalam dirimu, sehingga jelaslah bagimu bahwa Aku adalah kebenaran/ Al-Haq”, QS. : )
Tasawuf atau Irfan sebagai sarana pensucian jiwa dan akal manusia, adalah salah satu pilar utama yang mendampingi rasionalitas untuk meraih kejernihan ilmu pengetahuan, hakikat kebenaran dan kesempurnaaan-kesejahteraaan hidup manusia. Antara aktifitas Fikir dan Zikir harus berjalan seimbang, sinergis, holistic dan integral dalam kehidupan umat manusia secara umum khususnya untuk kaum Muslim, kalau hendak mewujudkan missi suci Ilahiyah menjadi Rahmatan lil ‘Alamin.
Bid`ah kah Tasawwuf
Manusia, seperti disebutkan Ibn Khaldun, memiliki anggota tubuh/panca indra, akal pikiran, dan hati sanubari. Ketiga potensi ini harus bersih, sehat, dan dapat bekerja sama secara harmonis. Untuk menghasilkan kondisi seperti ini, ada tiga bidang ilmu yang berperan penting.
Pertama, fikih, berperan dalam membersihkan dan menyehatkan panca indra dan anggota tubuh. Karenanya, fikih banyak berurusan dengan dimensi lahiriah manusia.
Kedua, filsafat, berperan dalam menggerakkan menyehatkan akal pikiran. Karenanya filsafat banyak berurusan dengan dimensi metafisik.
Ketiga, tasawuf, berperan dalam membersihkan hati sanubari.
Karenanya tasawuf banya berurusan dengan dimensi batin manusia. Dengan demikian, antara fikih, filsafat, dan tasawuf memiliki korelasi yang cukup dekat, yang tidak mungkin dipisahkan lagi antara satu dengan yang lainnya.
Ketiga potensi tersebut dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Mulk ayat 23.
“Katakanlah: Dialah yang menciptakan kamu dan memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al Mulk 67:23).
Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai mahluk yang memiliki keterbatasan, tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah swt.
Jika sudut pandang yang digunakan manusia sebgai makhluk yang harus berjuang, tasawuf dapat didefinisikan sebagi upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Selanjutnya, jika sudut pandang yang digunakan adalah manusia sebagai makhluk yang bertuhan, tasawurf dapat disefinisikan sebagai kesadaran fitrah (ketuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungakan manusia dengan Tuhan.
Abul Hasan Al Fusyandi, seorang tabi’in yang hidup sezaman dengan Hasab Al Bisri mengatakan, “Pada zaman Rasulullahs saw., tasawuf ada realitasnya, tetapi tidak ada namanya. Dan sekarang, ia hanyalah sekedar nama, tetapi tidak ada realitasnya.”
Pernyataan ulama dari kalangan tabi’in inibisa menjadi acuan bahwa zaman Rasulullah saw. memang tidak dikenal istilah tasawuf, namun ada realitasnya seperti sikap zuhud, qona’ah, taubat, ridha, shabar, dan lain-lain. Nah, sikap-sikap mulia tersebut dirangkum dalam sebuah nama yang sekarang dikenal dengan istilah tasawuf. Jadi, kita tidak perlu mempersoalkan nama, yang penting realitas atau substansinya.
Dalam mengarungi kehidupan, kita harus punya jiwa zuhud, qana’ah, taubat, muraqabatullah, ‘iffah, dan lain-lain. Bila Anda memberi nama untuk sederet istilah itu dengan sebutan Tasawuf, tentu saja boleh dan tidak termasuk bid’ah. Namun, kalau Anda tidak suka dengan istilah Tasawuf dengan alasan istilah tersebut tidak digunakan pada zaman Rasulullah saw., pakai saja istilah lain seperti ilmu zuhud misalnya (istilah yang digunakan Imam Ahmad). Yang pasti, materi yang dibahas dalam ilmu zuhud dan ilmu tasawuf substansinya sama, yang berbeda hanyalah masalah nama. Apalah arti sebuah nama, yang penting substansinya! Jadi, inti dari tasawuf adalah usaha pensucian jiwa dengan amaliah-amaliah yang shaleh yang sesuai dengan sunah Rasulullah saw. Prof. Hamka (alm) menyebutnya dengan istilah Tasawuf Modern. Namun demikian, kita pun perlu membuka mata bahwa memang ada juga ajaran tasawuf yang menyimpang dari sunah Rasulullah saw. Inilah yang disebut dengan tasawuf yang bid’ah. Sementara usaha pensucian hati yan gmengikuti sunah Rasulullah saw. sama sekali tidak bid’ah.
Kesimpulannya, pada zaman Rasulullah saw. tidak ada istilah tasawuf, yang ada adalah realitas atau substansinya seperti zuhud, qana’ah, ridha. ‘iffah, dan lain-lain. Kita dibenarkan untuk mempelajari dan mengamalkan tasawuf yang mengikuti sunah Rasulullah saw. dan haram mempelajari serta mengamalkan tasawuf yang tidak sesuai dengan sunah Rasulullah saw. (tasawuf yang bid’ah). Jadi, kita tidak bisa men-generalisasi bahwa semua tasawuf itu bid’ah. Sungguh bijak bila kita dapat menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Wallahu a’lam.
TASAWUF DALAM MENCARI RIZKI
TASAWUF DALAM MENCARI RIZKI
Banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Hal ini adalah wajar dan beralasan, karena salah satu daripada makam yang harus ditempuh oleh calon sufi adalah makam zuhud.
Ada dua pendapat tentang pengertian zuhud ini. Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali segala sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tetapi zuhud sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Menanggapi pengertian ini penulis lebih condong kepada pengertian kedua. Alasan penulis selain Al Qur'an dan Al Hadis yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu As Siddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin 'Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, di mana kekayaan mereka itu tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT,
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. Al Hadid 57 : 23).
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu (Q.S. Al Qashash 28 : 77).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri kita sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang diridlai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lainnya adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap orang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi harta duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
Timbul pertanyaan, "Apa sebab terjadinya pengertian dan sikap zuhud ini ?". Kajian dan gerakan zuhud ini muncul di kalangan pengamal tasawuf pada akhir Abad Pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar negara, yang merupakan dampak dari kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.
Semasa Dinasti Umayyah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah di kalangan para khalifah dan pembesar-pembesar negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian ini tidak sesuai dengan pola ajaran dan amal agama seperti dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula pola hidup zuhud yang ekstrim seperti pengertian pertama adalah tidak selaras dengan arahan Al Qur'an dan Al Hadis.
Pola ajaran dan amal tasawuf harus sesuai dengan Al Qur'an dan Al Hadis, atau dengan kata lain yang bertentangan dengan itu bukanlah pola ajaran dan amal tasawuf. Di dalam Al Qur'an maupun Al Hadis kita disuruh bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki sebagai karunia Allah.
Firman Allah SWT,
Artinya : Maka bertebaranlah kamu dan carilah rezeki sebagai karunia Allah (Q.S. Al Jumu'ah 62 : 10).
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari rezeki sebagian dari karunia Allah (Q.S. Al Muzammil 73 : 20)
Firman Allah SWT,
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki dari perniagaan) dari Tuhanmu (Q.S. Al Baqarah 2 : 198).
Yang prinsip adalah usaha-usaha mencari rezeki itu, haruslah dari usaha yang halal dan hasilnya harus disyukuri dengan memanfaatkannya sesuai dengan syariat agama.
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan Kami adakan di muka bumi itu sumber penghidupan, tetapi amat sedikitlah kamu yang bersyukur (Q.S. Al A'raf 7 : 10).
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : Pedagang yang jujur pada hari kiamat nanti akan dihimpun bersama orang-orang yang jujur (siddiqin) dan bersama orang-orang yang mati syahid. (H.R. At Tarmizi dan Al Hakim).
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : "Barang siapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari minta-minta, berusaha untuk keluarganya dan belas kasih kepada tetangganya, maka ia bertemu dengan Allah nanti. Sedangkan wajahnya seperti bulan pada malam purnama." (H.R. Abu Syaikh, Abu Na'im dan Al Baihaqi).
Pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama dengan para sahabatnya, tiba-tiba tampaklah disana seorang yang masih muda, yang mempunyai tubuh kekar dan kuat. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat lalu berkata, "Kasihan sekali orang ini, andaikata kemudaan serta kekuatannya itu dipergunakan untuk sabilillah, alangkah baiknya".
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : "Janganlah kamu semua berkata demikian, sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jikalau ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itu adalah fi sabilisy syaitan atau mengikuti jalan setan." (H.R. Thabrani).
Allah benci kepada orang yang berpangku tangan dan orang minta-minta.
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : Barang siapa yang membuka pada dirinya pintu meminta-minta, maka Allah membukakan atasnya 70 (tujuh puluh) pintu kefakiran (H.R. Tarmizi).
Diriwayatkan bahwa Isa a.s. melihat seorang laki-laki, maka beliau bersabda, "Apakah yang kamu kerjakan ?". Ia menjawab, "Saya beribadat". Isa bersabda, "Siapakah yang menanggungmu ?". Ia menjawab, "Saudaraku". Isa bersabda,"Saudaramu lebih baik ibadatnya daripada kamu".
Ibnu Mas'ud r.a. berkata, " Sesungguhnya saya benci untuk melihat seorang laki-laki itu menganggur, tidak bekerja pada urusan dunianya dan tidak pula bekerja dalam urusan akhiratnya”.
Demikianlah sebagian dari dalil-dalil Al Qur'an dan Al Hadis maupun Atsar, mengingatkan supaya kita berusaha mencari rezeki sebagai karunia Allah dan mensyukurinya.
Para sufi itu pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam segala bidang usaha, sehingga ada di antara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai dengan bidang usahanya itu. Seperti Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraaq (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Pengrajin Tikar dari Daun Kurma), Al Hallaaj (Pembersih Kulit Kapas), Az Zujaaji (Pengrajin Dari Kaca), Al Hasriy (Pengrajin Tikar), As Shairafi (Penukar Uang), Al Muqry (Pembaca) dan Al Farraa' (Penyamak Kulit) dll.
Sebagai manusia biasa, mereka itu ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Mereka yang kaya konsekwen mengeluarkan zakat hartanya, dan bagi yang tidak sampai nisabnya mereka berinfaq dan bersadaqah sesuai dengan Q.S. Al Ma'arij 70 : 24 - 25.
Mengenai bagaimana sikap mental sufi yang kaya, dapat kami contohkan tokoh-tokoh sufi berikut ini,
a. Sayyidi Syekh Abul Hasan As Syadzili
As Syadzili adalah salah seorang tokoh sufi kenamaan. Seorang tokoh sufi yang kaya raya yang memiliki sawah ladang yang luas, ternak sapi yang banyak dan juga seorang saudagar.
Bagaimana sikap tokoh ini tentang dunia dengan segala kemegahannya, baik wanita, harta dan tahta tercermin dalam do'a beliau yang terkenal,
Artinya : Ya Allah, lapangkanlah rezekiku di dunia ini, tetapi jangan Engkau jadikan rezeki itu penghalang untuk menuju akhiratku. Ya Allah, jadikanlah duniaku ini (harta dan lain-lain) di tangan- tangan kami dan janganlah Engkau masukkan ke dalam hati sanubari kami ini.
Dari do'a ini tergambar sikap kaum sufi terhadap dunia dengan segala kemegahannya itu. Yaitu kaum sufi tidak tunduk kepada dunia dan kaum sufi tidak sudi diperbudak oleh dunia, tetapi menjadikan dunia itu sebagai sarana untuk menuju dan memperoleh akhirat yang lebih sempurna, sesuai dengan surat Al Hadid 57 : 23 dan surat Al Qashash 28 : 77.
b. Ibnu 'Athaillah As Sakandary
As Sakandary berkisah bagaimana seorang sufi yang kaya raya mempraktekkan ajaran Al Qur'anul Karim. Walaupun hartanya berlimpah-limpah tetapi tidak menghalanginya dalam beramal sebagai seorang sufi. As Sakandary berkisah kepada muridnya tentang seorang kawannya di Maroko, yaitu seorang sufi yang hidupnya zuhud terhadap duniawi dan bersungguh-sungguh dalam ibadatnya. Sumber hidupnya hanya apa yang diperolehnya dari memancing. Sebagian dari hasil itu dimakan dan sisanya disedekahkan.
Pada suatu hari ada murid As Sakandary akan pergi ke Maroko dan dia berpesan kepada muridnya yang juga sufi itu. Kalau kamu sampai di suatu desa di Maroko di mana kawanku bertempat tinggal, mintalah do'a kepadanya, sebab dia adalah seorang wali. Setelah sampai di desa tersebut, murid As Sakandary ini menemui rumah kawan gurunya tersebut. Rumah itu adalah rumah besar dan mewah seperti layaknya rumah raja-raja, yang tidak layak sebagai rumah seorang sufi. Waktu ditanya ternyata benar bahwa itu adalah rumah kawan gurunya yang dicari. Ketika itu sang sufi sedang bepergian dan ketika pulang ternyata dia menunggang kuda dengan pakaian kendaraan yang serba mewah, seolah-olah dia adalah seorang raja.
Melihat keadaan ini hampir saja murid As Sakandary ini pulang dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan guru sufi itu, namun terpikir olehnya tidak baik melanggar perintah guru. Lalu dia menemui juga guru sufi tersebut. Ketika diijinkan masuk, dia pun makin heran, setelah melihat banyaknya pelayan yang berpakaian serba mewah, dengan isi rumah yang serba lux dan dimulailah pembicaraan antara keduanya. "Saudaramu si Fulan berkirim salam kepadamu". "Apakah kau dari sana?" tanyanya padaku. "Iya", jawabku. Lalu dia berkata, "Jika kamu kembali kepada saudaraku itu katakan kepadanya", Sampai kapankah kesibukanmu kepada dunia itu berakhir". Keherananku semakin bertambah setelah mendengar pesan orang itu. Ketika aku bertemu dengan guruku, beliau bertanya, "Adakah kamu berjumpa dengan saudaraku ?". "Iya", jawabku. "Adakah suatu pesan untukku ?" tanyanya. "Tidak", sahutku. Lalu beliau berkata, "Aku yakin pasti ada sesuatu pesan untukku". Maka aku ceritakan apa yang aku lihat dan apa yang dipesankan buat beliau. Mendengar ceritaku, guruku lalu menangis.Setelah agak lama,beliau berkata,
Artinya : Sungguh benar ucapan saudaraku itu, memang Allah telah membersihkan hatinya dari duniawi dan duniawi hanya dijadikan di tangannya dan lahirnya saja, sedangkan aku mengambil dunia itu dari tanganku dan aku selalu memikirkannya.
c. Imam Syamsuddin Ad Dirawaty Dimyati
Syekh Syamsuddin adalah seorang tokoh sufi yang saleh, wara' dan zuhud, pejuang, selalu berpuasa, selalu bershalat, gemar menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pada majelis taklimnya banyak dikunjungi pembesar-pembesar negara dan kepala-kepala suku, sehingga beliau terkenal di negara Mesir. Beliau tinggal di Masjid Jamik Al Azhar dimasa pemerintahan Qanshu Al Ghuury. Pada suatu ketika beliau mengkritik Sultan Al Ghuury di depan umum, karena tidak mau berjihad dengan alasan tidak ada kapal. Pada waktu beliau dipanggil oleh Sultan berkenaan dengan kritik tadi, maka Imam Syamsuddin berkata kepada Sultan :
"Sesungguhnya tuan telah melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah, bahkan berani berbuat maksiat kepada-Nya. Tidakkah tuan ingat, semasa tuan memeluk agama Nasrani, kemudian tuan tertawan dan dijual sebagai budak belian, untuk kemudian dipindahkan dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya, kemudian Allah menganugerahkan kemerdekaan dan Islam kepada tuan. Derajat tuan menjadi terangkat karenanya, hingga menjadi Sultan. Sebentar lagi, mungkin tuan akan mati, dikafankan, digalikan liang lahat untuk mengubur tuan. Kemudian kubur yang amat gelap akan tuan huni, dan tuan akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, haus, lapar dan akan dihadapkan ke hadirat Allah Yang Maha Adil, yang takkan berbuat kezaliman sedikit pun. Kemudian akan terdengar seruan, 'Barang siapa yang haknya pernah dirampas dan diperkosa oleh Al Ghuury, maka kemarilah !'. Lalu datang berbondong-bondong manusia yang tak terhitung banyaknya".
Nasehat yang diberikan oleh Syekh itu membuat wajah sang Sultan berubah, sampai salah seorang staf dan sekretaris Sultan berkata,"Bacakan Al Fatihah wahai tuan syekh, kami takut kalau sultan akan hilang akalnya". Setelah Syekh itu pergi dan sultan pun sadar, maka sultan pun berkata, "Berikan buat Syekh ini 10.000 (sepuluh ribu) dinar agar dapat digunakan membiayai pembangunan menara benteng di kota Dimyat".
Namun uang itu dikembalikan dan dikatakan oleh beliau, "Aku seorang berharta yang tak butuh bantuan dari siapa pun, kalau tuan perlu uang, akulah yang akan meminjaminya buat tuan". Di Majelis itu tidak seorangpun yang terlihat lebih mulia dari sang syekh dan tidak ada yang lebih rendah dari sang sultan sendiri.
Itulah pribadi Syekh Syamsuddin Ad-Dirawayati yang tergolong ulama yang amat suka beramal. Beliau mengeluarkan biaya 40 000 (empat puluh ribu) dirham untuk pembangunan menara kota Dimyat dari kantongnya sendiri, tanpa bantuan dari seorangpun. Beliau juga menyediakan minuman.
Beliau berdagang mentimun dan sayur mayur lainnya, sedikitpun tidak mau mengambil uang jasa dari jabatannya sebagai seorang Ahli Fikih. Beliau melarang keras para muridnya untuk makan harta wakaf dan sedekah, dan dikatakan bahwa harta itu akan mengotori hati mereka. (Dr. Abdul Halim Mahmoud : 32 - 35).
d. Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah seorang tokoh sufi kenamaan masa kini. Beliau adalah seorang tokoh sufi moderen, tokoh sufi Tekhnokrat yang meneruskan amalan Tarikat Naqsyabandiyah sebagai Mursyid yang ke-35 (tiga puluh lima). Semenjak diangkat menjadi mursyid tahun 1952, beliau aktif terus menerus memimpin tarikat Naqsyabandiah Al Khalidiyah. Diperkirakan muridnya berjumlah belasan juta orang dengan jumlah ratusan Surau, di dalam negeri dan luar negeri. Beliau menyelenggarakan suluk untuk para pengamal tarikat ini sepuluh kali dalam setahun, yang setiap kali suluk lamanya 10 (sepuluh) hari. Tempat suluk itu tersebar di Indonesia dan luar negeri yang jumlah pesertanya dalam satu periode suluk mencapai ribuan orang. Penyelenggaraan suluk-suluk ini terlaksana dengan baik berkat bimbingan yang seksama dari Syekh Mursyid dan kerjasama antara petugas-petugas dengan beratus-ratus peserta suluk.
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah pakar Ilmu An-Nadhori (Ilmu Al Kasbi) dan banyak sekali menerima limpahan rahmat karunia Allah yang berbentuk Ilmu Al-Kasyfi dan Ilmu Ladunni. Beliau adalah sufi teknokrat yang mahir berbahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Beliau adalah seorang sufi yang kaya raya yang memiliki usaha di berbagai bidang unit usaha, antara lain :
- Agrobisnis. Beliau memiliki perkebunan yang arealnya mendekati 100 (seratus) ha. Yang meliputi perkebunan kelapa sawit, apel, jeruk, dan lain-lain. Beliau memiliki usaha ternak, mulai dari ternak unggas seperti puyuh, ayam, ikan, itik dan ternak hewan seperti kambing dan sapi.
- Pabrik. Beliau memiliki pabrik air minum yang bermerek Aminsam di Medan dan Jakarta.
- Pertukangan. Beliau mempunyai usaha bidang meubel dan perbengkelan.
- Keterampilan. Beliau mempunyai beberapa usaha keterampilan, seperti konveksi.
- Pertokoan. Beliau memiliki beberapa toko, di antaranya adalah toko elekronik.
- Jasa. Beliau memiliki biro travel yang mempunyai jaringan internasional.
- Pendidikan. Beliau memiliki beberapa lembaga pendidikan di kampus Universitas Panca Budi, yang berdiri di suatu lokasi yang arealnya 6 (enam) ha. Lembaga-lembaga ini menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA sampai dengan Universitas yang bernama Universitas Panca Budi. Lembaga pendidikan ini mempunyai beberapa cabang di daerah Sumatera Utara.
Seluruh usaha itu bernaung di bawah suatu yayasan yang bernama Yayasan Prof.Dr.H.Kadirun Yahya. Bidang usaha yang begitu banyak telah mempekerjakan beberapa puluh kepala keluarga dan ratusan karyawan. Untuk mengelola semuanya itu beliau mengangkat pimpinan-pimpinan unit usaha yang profesional dalam bidangnya.
Selain itu salah satu dari karunia besar yang dilimpahkan Allah kepada beliau adalah bidang pengobatan. Tidak terhitung banyaknya orang yang telah dibantu beliau untuk menyembuhkan penyakit. Mulai dari penyakit yang ringan sampai dengan penyakit yang berat, bahkan penyakit- penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan dokter, dengan ijin Allah dapat sembuh ditangan beliau. Untuk membantu beliau dalam masalah ini, pada beberapa surau atau beberapa tempat tertentu didirikan klinik pengobatan.
Kegiatan lainnya yang beliau lakukan dan cukup menonjol adalah riset di bidang yang sesuai dengan profesi beliau sebagai seorang ilmuwan dan Syekh Mursyid, yang sampai saat ini telah banyak dihasilkan temuan-temuan ilmiah baik dalam ilmu kimia maupun fisika. Di antara temuan-temuan beliau adalah :
- Teknik pembuatan air mineral yang tidak merusak ozon, tetapi dapat menghasilkan ozon, dengan proses yang sangat sederhana,
- Semir Sepatu yang tahan api,
- Pembuatan kulit imitasi.
-dan lain-lain.
Sebagai top manager yang mengelola sekian unit usaha dengan asset kekayaan yang begitu besar, tidak sedikitpun semua usaha dan kegiatan pengobatan ini mengurangi atau mengganggu apalagi melalaikan kegiatan beliau sebagai pemimpin rohani, yaitu Syekh Mursyid tarikat Naqsyabandiah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beliau telah melaksanakan maksud dan tujuan hadis yang artinya, "Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah". Pengertian kuat di sini adalah meliputi segala bidang duniawiyah maupun ukhrawiyah.
Asset unit usaha, kekayaan dan hasil riset yang begitu besar, lebih banyak diperuntukkan untuk ubudiyah, pengabdian, guna mengembangkan dan membina pengamalan tarikat ini. Beliau telah mengatakan bahwa kekayaan yang begitu banyak adalah karunia Allah dan milik Allah. Karena itu beliau hanya berhak mentasarufkan, menyelenggarakan kekayaan itu untuk mendapatkan cinta dan ridla dari Allah SWT. Sebagian dari kekayaan itu diperuntukkan untuk membina dan membangun surau lama dan surau baru. Sesuai dengan ketentuan syariat agama, beliau selalu mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqah secara rutin kepada yang berhak menurut asnafnya. Setiap musim haji tidak kurang dari 60 (enam puluh) ekor lembu sebagai kurban, ditambah berpuluh-puluh ekor kambing.
Demikianlah gambaran pribadi tokoh sufi masa kini yang dengan kekayaannya tidak sedikitpun melalaikan ibadatnya kepada Allah, bahkan kekayaan itu memperkuat barisan untuk menegakkan agama Allah atau ( ....................................................).
Banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Hal ini adalah wajar dan beralasan, karena salah satu daripada makam yang harus ditempuh oleh calon sufi adalah makam zuhud.
Ada dua pendapat tentang pengertian zuhud ini. Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali segala sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tetapi zuhud sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Menanggapi pengertian ini penulis lebih condong kepada pengertian kedua. Alasan penulis selain Al Qur'an dan Al Hadis yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu As Siddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin 'Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, di mana kekayaan mereka itu tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT,
Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. Al Hadid 57 : 23).
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu (Q.S. Al Qashash 28 : 77).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri kita sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang diridlai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lainnya adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap orang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi harta duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
Timbul pertanyaan, "Apa sebab terjadinya pengertian dan sikap zuhud ini ?". Kajian dan gerakan zuhud ini muncul di kalangan pengamal tasawuf pada akhir Abad Pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar negara, yang merupakan dampak dari kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.
Semasa Dinasti Umayyah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah di kalangan para khalifah dan pembesar-pembesar negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian ini tidak sesuai dengan pola ajaran dan amal agama seperti dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula pola hidup zuhud yang ekstrim seperti pengertian pertama adalah tidak selaras dengan arahan Al Qur'an dan Al Hadis.
Pola ajaran dan amal tasawuf harus sesuai dengan Al Qur'an dan Al Hadis, atau dengan kata lain yang bertentangan dengan itu bukanlah pola ajaran dan amal tasawuf. Di dalam Al Qur'an maupun Al Hadis kita disuruh bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki sebagai karunia Allah.
Firman Allah SWT,
Artinya : Maka bertebaranlah kamu dan carilah rezeki sebagai karunia Allah (Q.S. Al Jumu'ah 62 : 10).
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari rezeki sebagian dari karunia Allah (Q.S. Al Muzammil 73 : 20)
Firman Allah SWT,
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki dari perniagaan) dari Tuhanmu (Q.S. Al Baqarah 2 : 198).
Yang prinsip adalah usaha-usaha mencari rezeki itu, haruslah dari usaha yang halal dan hasilnya harus disyukuri dengan memanfaatkannya sesuai dengan syariat agama.
Firman Allah SWT,
Artinya : Dan Kami adakan di muka bumi itu sumber penghidupan, tetapi amat sedikitlah kamu yang bersyukur (Q.S. Al A'raf 7 : 10).
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : Pedagang yang jujur pada hari kiamat nanti akan dihimpun bersama orang-orang yang jujur (siddiqin) dan bersama orang-orang yang mati syahid. (H.R. At Tarmizi dan Al Hakim).
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : "Barang siapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari minta-minta, berusaha untuk keluarganya dan belas kasih kepada tetangganya, maka ia bertemu dengan Allah nanti. Sedangkan wajahnya seperti bulan pada malam purnama." (H.R. Abu Syaikh, Abu Na'im dan Al Baihaqi).
Pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama dengan para sahabatnya, tiba-tiba tampaklah disana seorang yang masih muda, yang mempunyai tubuh kekar dan kuat. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat lalu berkata, "Kasihan sekali orang ini, andaikata kemudaan serta kekuatannya itu dipergunakan untuk sabilillah, alangkah baiknya".
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : "Janganlah kamu semua berkata demikian, sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jikalau ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itu adalah fi sabilisy syaitan atau mengikuti jalan setan." (H.R. Thabrani).
Allah benci kepada orang yang berpangku tangan dan orang minta-minta.
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : Barang siapa yang membuka pada dirinya pintu meminta-minta, maka Allah membukakan atasnya 70 (tujuh puluh) pintu kefakiran (H.R. Tarmizi).
Diriwayatkan bahwa Isa a.s. melihat seorang laki-laki, maka beliau bersabda, "Apakah yang kamu kerjakan ?". Ia menjawab, "Saya beribadat". Isa bersabda, "Siapakah yang menanggungmu ?". Ia menjawab, "Saudaraku". Isa bersabda,"Saudaramu lebih baik ibadatnya daripada kamu".
Ibnu Mas'ud r.a. berkata, " Sesungguhnya saya benci untuk melihat seorang laki-laki itu menganggur, tidak bekerja pada urusan dunianya dan tidak pula bekerja dalam urusan akhiratnya”.
Demikianlah sebagian dari dalil-dalil Al Qur'an dan Al Hadis maupun Atsar, mengingatkan supaya kita berusaha mencari rezeki sebagai karunia Allah dan mensyukurinya.
Para sufi itu pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam segala bidang usaha, sehingga ada di antara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai dengan bidang usahanya itu. Seperti Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraaq (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Pengrajin Tikar dari Daun Kurma), Al Hallaaj (Pembersih Kulit Kapas), Az Zujaaji (Pengrajin Dari Kaca), Al Hasriy (Pengrajin Tikar), As Shairafi (Penukar Uang), Al Muqry (Pembaca) dan Al Farraa' (Penyamak Kulit) dll.
Sebagai manusia biasa, mereka itu ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Mereka yang kaya konsekwen mengeluarkan zakat hartanya, dan bagi yang tidak sampai nisabnya mereka berinfaq dan bersadaqah sesuai dengan Q.S. Al Ma'arij 70 : 24 - 25.
Mengenai bagaimana sikap mental sufi yang kaya, dapat kami contohkan tokoh-tokoh sufi berikut ini,
a. Sayyidi Syekh Abul Hasan As Syadzili
As Syadzili adalah salah seorang tokoh sufi kenamaan. Seorang tokoh sufi yang kaya raya yang memiliki sawah ladang yang luas, ternak sapi yang banyak dan juga seorang saudagar.
Bagaimana sikap tokoh ini tentang dunia dengan segala kemegahannya, baik wanita, harta dan tahta tercermin dalam do'a beliau yang terkenal,
Artinya : Ya Allah, lapangkanlah rezekiku di dunia ini, tetapi jangan Engkau jadikan rezeki itu penghalang untuk menuju akhiratku. Ya Allah, jadikanlah duniaku ini (harta dan lain-lain) di tangan- tangan kami dan janganlah Engkau masukkan ke dalam hati sanubari kami ini.
Dari do'a ini tergambar sikap kaum sufi terhadap dunia dengan segala kemegahannya itu. Yaitu kaum sufi tidak tunduk kepada dunia dan kaum sufi tidak sudi diperbudak oleh dunia, tetapi menjadikan dunia itu sebagai sarana untuk menuju dan memperoleh akhirat yang lebih sempurna, sesuai dengan surat Al Hadid 57 : 23 dan surat Al Qashash 28 : 77.
b. Ibnu 'Athaillah As Sakandary
As Sakandary berkisah bagaimana seorang sufi yang kaya raya mempraktekkan ajaran Al Qur'anul Karim. Walaupun hartanya berlimpah-limpah tetapi tidak menghalanginya dalam beramal sebagai seorang sufi. As Sakandary berkisah kepada muridnya tentang seorang kawannya di Maroko, yaitu seorang sufi yang hidupnya zuhud terhadap duniawi dan bersungguh-sungguh dalam ibadatnya. Sumber hidupnya hanya apa yang diperolehnya dari memancing. Sebagian dari hasil itu dimakan dan sisanya disedekahkan.
Pada suatu hari ada murid As Sakandary akan pergi ke Maroko dan dia berpesan kepada muridnya yang juga sufi itu. Kalau kamu sampai di suatu desa di Maroko di mana kawanku bertempat tinggal, mintalah do'a kepadanya, sebab dia adalah seorang wali. Setelah sampai di desa tersebut, murid As Sakandary ini menemui rumah kawan gurunya tersebut. Rumah itu adalah rumah besar dan mewah seperti layaknya rumah raja-raja, yang tidak layak sebagai rumah seorang sufi. Waktu ditanya ternyata benar bahwa itu adalah rumah kawan gurunya yang dicari. Ketika itu sang sufi sedang bepergian dan ketika pulang ternyata dia menunggang kuda dengan pakaian kendaraan yang serba mewah, seolah-olah dia adalah seorang raja.
Melihat keadaan ini hampir saja murid As Sakandary ini pulang dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan guru sufi itu, namun terpikir olehnya tidak baik melanggar perintah guru. Lalu dia menemui juga guru sufi tersebut. Ketika diijinkan masuk, dia pun makin heran, setelah melihat banyaknya pelayan yang berpakaian serba mewah, dengan isi rumah yang serba lux dan dimulailah pembicaraan antara keduanya. "Saudaramu si Fulan berkirim salam kepadamu". "Apakah kau dari sana?" tanyanya padaku. "Iya", jawabku. Lalu dia berkata, "Jika kamu kembali kepada saudaraku itu katakan kepadanya", Sampai kapankah kesibukanmu kepada dunia itu berakhir". Keherananku semakin bertambah setelah mendengar pesan orang itu. Ketika aku bertemu dengan guruku, beliau bertanya, "Adakah kamu berjumpa dengan saudaraku ?". "Iya", jawabku. "Adakah suatu pesan untukku ?" tanyanya. "Tidak", sahutku. Lalu beliau berkata, "Aku yakin pasti ada sesuatu pesan untukku". Maka aku ceritakan apa yang aku lihat dan apa yang dipesankan buat beliau. Mendengar ceritaku, guruku lalu menangis.Setelah agak lama,beliau berkata,
Artinya : Sungguh benar ucapan saudaraku itu, memang Allah telah membersihkan hatinya dari duniawi dan duniawi hanya dijadikan di tangannya dan lahirnya saja, sedangkan aku mengambil dunia itu dari tanganku dan aku selalu memikirkannya.
c. Imam Syamsuddin Ad Dirawaty Dimyati
Syekh Syamsuddin adalah seorang tokoh sufi yang saleh, wara' dan zuhud, pejuang, selalu berpuasa, selalu bershalat, gemar menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pada majelis taklimnya banyak dikunjungi pembesar-pembesar negara dan kepala-kepala suku, sehingga beliau terkenal di negara Mesir. Beliau tinggal di Masjid Jamik Al Azhar dimasa pemerintahan Qanshu Al Ghuury. Pada suatu ketika beliau mengkritik Sultan Al Ghuury di depan umum, karena tidak mau berjihad dengan alasan tidak ada kapal. Pada waktu beliau dipanggil oleh Sultan berkenaan dengan kritik tadi, maka Imam Syamsuddin berkata kepada Sultan :
"Sesungguhnya tuan telah melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah, bahkan berani berbuat maksiat kepada-Nya. Tidakkah tuan ingat, semasa tuan memeluk agama Nasrani, kemudian tuan tertawan dan dijual sebagai budak belian, untuk kemudian dipindahkan dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya, kemudian Allah menganugerahkan kemerdekaan dan Islam kepada tuan. Derajat tuan menjadi terangkat karenanya, hingga menjadi Sultan. Sebentar lagi, mungkin tuan akan mati, dikafankan, digalikan liang lahat untuk mengubur tuan. Kemudian kubur yang amat gelap akan tuan huni, dan tuan akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, haus, lapar dan akan dihadapkan ke hadirat Allah Yang Maha Adil, yang takkan berbuat kezaliman sedikit pun. Kemudian akan terdengar seruan, 'Barang siapa yang haknya pernah dirampas dan diperkosa oleh Al Ghuury, maka kemarilah !'. Lalu datang berbondong-bondong manusia yang tak terhitung banyaknya".
Nasehat yang diberikan oleh Syekh itu membuat wajah sang Sultan berubah, sampai salah seorang staf dan sekretaris Sultan berkata,"Bacakan Al Fatihah wahai tuan syekh, kami takut kalau sultan akan hilang akalnya". Setelah Syekh itu pergi dan sultan pun sadar, maka sultan pun berkata, "Berikan buat Syekh ini 10.000 (sepuluh ribu) dinar agar dapat digunakan membiayai pembangunan menara benteng di kota Dimyat".
Namun uang itu dikembalikan dan dikatakan oleh beliau, "Aku seorang berharta yang tak butuh bantuan dari siapa pun, kalau tuan perlu uang, akulah yang akan meminjaminya buat tuan". Di Majelis itu tidak seorangpun yang terlihat lebih mulia dari sang syekh dan tidak ada yang lebih rendah dari sang sultan sendiri.
Itulah pribadi Syekh Syamsuddin Ad-Dirawayati yang tergolong ulama yang amat suka beramal. Beliau mengeluarkan biaya 40 000 (empat puluh ribu) dirham untuk pembangunan menara kota Dimyat dari kantongnya sendiri, tanpa bantuan dari seorangpun. Beliau juga menyediakan minuman.
Beliau berdagang mentimun dan sayur mayur lainnya, sedikitpun tidak mau mengambil uang jasa dari jabatannya sebagai seorang Ahli Fikih. Beliau melarang keras para muridnya untuk makan harta wakaf dan sedekah, dan dikatakan bahwa harta itu akan mengotori hati mereka. (Dr. Abdul Halim Mahmoud : 32 - 35).
d. Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah seorang tokoh sufi kenamaan masa kini. Beliau adalah seorang tokoh sufi moderen, tokoh sufi Tekhnokrat yang meneruskan amalan Tarikat Naqsyabandiyah sebagai Mursyid yang ke-35 (tiga puluh lima). Semenjak diangkat menjadi mursyid tahun 1952, beliau aktif terus menerus memimpin tarikat Naqsyabandiah Al Khalidiyah. Diperkirakan muridnya berjumlah belasan juta orang dengan jumlah ratusan Surau, di dalam negeri dan luar negeri. Beliau menyelenggarakan suluk untuk para pengamal tarikat ini sepuluh kali dalam setahun, yang setiap kali suluk lamanya 10 (sepuluh) hari. Tempat suluk itu tersebar di Indonesia dan luar negeri yang jumlah pesertanya dalam satu periode suluk mencapai ribuan orang. Penyelenggaraan suluk-suluk ini terlaksana dengan baik berkat bimbingan yang seksama dari Syekh Mursyid dan kerjasama antara petugas-petugas dengan beratus-ratus peserta suluk.
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah pakar Ilmu An-Nadhori (Ilmu Al Kasbi) dan banyak sekali menerima limpahan rahmat karunia Allah yang berbentuk Ilmu Al-Kasyfi dan Ilmu Ladunni. Beliau adalah sufi teknokrat yang mahir berbahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Beliau adalah seorang sufi yang kaya raya yang memiliki usaha di berbagai bidang unit usaha, antara lain :
- Agrobisnis. Beliau memiliki perkebunan yang arealnya mendekati 100 (seratus) ha. Yang meliputi perkebunan kelapa sawit, apel, jeruk, dan lain-lain. Beliau memiliki usaha ternak, mulai dari ternak unggas seperti puyuh, ayam, ikan, itik dan ternak hewan seperti kambing dan sapi.
- Pabrik. Beliau memiliki pabrik air minum yang bermerek Aminsam di Medan dan Jakarta.
- Pertukangan. Beliau mempunyai usaha bidang meubel dan perbengkelan.
- Keterampilan. Beliau mempunyai beberapa usaha keterampilan, seperti konveksi.
- Pertokoan. Beliau memiliki beberapa toko, di antaranya adalah toko elekronik.
- Jasa. Beliau memiliki biro travel yang mempunyai jaringan internasional.
- Pendidikan. Beliau memiliki beberapa lembaga pendidikan di kampus Universitas Panca Budi, yang berdiri di suatu lokasi yang arealnya 6 (enam) ha. Lembaga-lembaga ini menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA sampai dengan Universitas yang bernama Universitas Panca Budi. Lembaga pendidikan ini mempunyai beberapa cabang di daerah Sumatera Utara.
Seluruh usaha itu bernaung di bawah suatu yayasan yang bernama Yayasan Prof.Dr.H.Kadirun Yahya. Bidang usaha yang begitu banyak telah mempekerjakan beberapa puluh kepala keluarga dan ratusan karyawan. Untuk mengelola semuanya itu beliau mengangkat pimpinan-pimpinan unit usaha yang profesional dalam bidangnya.
Selain itu salah satu dari karunia besar yang dilimpahkan Allah kepada beliau adalah bidang pengobatan. Tidak terhitung banyaknya orang yang telah dibantu beliau untuk menyembuhkan penyakit. Mulai dari penyakit yang ringan sampai dengan penyakit yang berat, bahkan penyakit- penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan dokter, dengan ijin Allah dapat sembuh ditangan beliau. Untuk membantu beliau dalam masalah ini, pada beberapa surau atau beberapa tempat tertentu didirikan klinik pengobatan.
Kegiatan lainnya yang beliau lakukan dan cukup menonjol adalah riset di bidang yang sesuai dengan profesi beliau sebagai seorang ilmuwan dan Syekh Mursyid, yang sampai saat ini telah banyak dihasilkan temuan-temuan ilmiah baik dalam ilmu kimia maupun fisika. Di antara temuan-temuan beliau adalah :
- Teknik pembuatan air mineral yang tidak merusak ozon, tetapi dapat menghasilkan ozon, dengan proses yang sangat sederhana,
- Semir Sepatu yang tahan api,
- Pembuatan kulit imitasi.
-dan lain-lain.
Sebagai top manager yang mengelola sekian unit usaha dengan asset kekayaan yang begitu besar, tidak sedikitpun semua usaha dan kegiatan pengobatan ini mengurangi atau mengganggu apalagi melalaikan kegiatan beliau sebagai pemimpin rohani, yaitu Syekh Mursyid tarikat Naqsyabandiah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beliau telah melaksanakan maksud dan tujuan hadis yang artinya, "Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah". Pengertian kuat di sini adalah meliputi segala bidang duniawiyah maupun ukhrawiyah.
Asset unit usaha, kekayaan dan hasil riset yang begitu besar, lebih banyak diperuntukkan untuk ubudiyah, pengabdian, guna mengembangkan dan membina pengamalan tarikat ini. Beliau telah mengatakan bahwa kekayaan yang begitu banyak adalah karunia Allah dan milik Allah. Karena itu beliau hanya berhak mentasarufkan, menyelenggarakan kekayaan itu untuk mendapatkan cinta dan ridla dari Allah SWT. Sebagian dari kekayaan itu diperuntukkan untuk membina dan membangun surau lama dan surau baru. Sesuai dengan ketentuan syariat agama, beliau selalu mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqah secara rutin kepada yang berhak menurut asnafnya. Setiap musim haji tidak kurang dari 60 (enam puluh) ekor lembu sebagai kurban, ditambah berpuluh-puluh ekor kambing.
Demikianlah gambaran pribadi tokoh sufi masa kini yang dengan kekayaannya tidak sedikitpun melalaikan ibadatnya kepada Allah, bahkan kekayaan itu memperkuat barisan untuk menegakkan agama Allah atau ( ....................................................).
TABIAT MANUSIA
TABIAT MANUSIA
Sayyidina Ali K.W
1. Orang-orang lemah selalu menjadi lawan bagi orang-orang yang kuat, orang-orang bodoh bagi orang-orang bijak, dan orang-orang jahat bagi orang-orang baik. Inilah tabiat (manusia) yang tidak dapat diubah.
2. Kebiasaan itu kuat.
Maka, barangsiapa yang membiasakan sesuatu pada dirinya secara diam-diam dan dalam kesendiriannya, pasti akan menyingkapkannya secara terang-terangan dan terbuka.
3. Kebiasaan adalah tabiat kedua yang menguasai.
4. Kebiasaan yang buruk adalah persembunyian yang tidak aman.
5. Dan Allah membagi-bagi makhluk-Nya menjadi bangsa-bangsa yang berbeda negeri dan kemampuan, tabiat dan bentuk (penam¬pilan). Dia menciptakan makhluk-makhluk dengan penciptaan yang sempurna dan menciptakannya sesuai dengan kehendak¬Nya.
Ajal Manusia
1. Barangsiapa yang panjang umurnya, maka dia akan melihat pada diri musuh-musuhnya sesuatu yang menyenangkannya.
2. Barangsiapa yang telah genap berusia empat puluh tahun, dikata¬kan kepadanya, “Waspadalah akan datangnya hal yang telah ditak¬dirkan (kematian) karena sesungguhnya engkau tidak dimaafkan.” Dan bukanlah orang yang berumur empat puluh tahun itu lebih berhak mendapatkan peringatan daripada orang yang berumur dua puluh tahun.
Sebab, yang mengejar keduanya sama (satu), dan dia tidak pernah tidur dari yang dikejarnya itu, yaitu kematian. Karena itu, beramallah demi menghadapi situasi yang sangat me¬nakutkan di hadapanmu dan tinggalkanlah perkataan-perkataan yang indah-indah (yang menipu manusia).
3. Barangsiapa yang telah berumur tujuh puluh tahun, dia akan ba¬nyak mengeluh tanpa adanya suatu penyakit.
4. Cukuplah ajal sebagai penjaga.
Sayyidina Ali K.W
1. Orang-orang lemah selalu menjadi lawan bagi orang-orang yang kuat, orang-orang bodoh bagi orang-orang bijak, dan orang-orang jahat bagi orang-orang baik. Inilah tabiat (manusia) yang tidak dapat diubah.
2. Kebiasaan itu kuat.
Maka, barangsiapa yang membiasakan sesuatu pada dirinya secara diam-diam dan dalam kesendiriannya, pasti akan menyingkapkannya secara terang-terangan dan terbuka.
3. Kebiasaan adalah tabiat kedua yang menguasai.
4. Kebiasaan yang buruk adalah persembunyian yang tidak aman.
5. Dan Allah membagi-bagi makhluk-Nya menjadi bangsa-bangsa yang berbeda negeri dan kemampuan, tabiat dan bentuk (penam¬pilan). Dia menciptakan makhluk-makhluk dengan penciptaan yang sempurna dan menciptakannya sesuai dengan kehendak¬Nya.
Ajal Manusia
1. Barangsiapa yang panjang umurnya, maka dia akan melihat pada diri musuh-musuhnya sesuatu yang menyenangkannya.
2. Barangsiapa yang telah genap berusia empat puluh tahun, dikata¬kan kepadanya, “Waspadalah akan datangnya hal yang telah ditak¬dirkan (kematian) karena sesungguhnya engkau tidak dimaafkan.” Dan bukanlah orang yang berumur empat puluh tahun itu lebih berhak mendapatkan peringatan daripada orang yang berumur dua puluh tahun.
Sebab, yang mengejar keduanya sama (satu), dan dia tidak pernah tidur dari yang dikejarnya itu, yaitu kematian. Karena itu, beramallah demi menghadapi situasi yang sangat me¬nakutkan di hadapanmu dan tinggalkanlah perkataan-perkataan yang indah-indah (yang menipu manusia).
3. Barangsiapa yang telah berumur tujuh puluh tahun, dia akan ba¬nyak mengeluh tanpa adanya suatu penyakit.
4. Cukuplah ajal sebagai penjaga.
SERBA EMPAT YANG DIPILIH ALLAH
SERBA EMPAT YG DIPILIH ALLAH
Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Allah swt berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dia Memilih.”
Allah memilih dari segala sesuatu yang ada, empat hal, lalu dipilihnya salah satu:
1. Allah memilih empat Malaikat, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, lalu Allah memilih Jibril.
2. Allah memilih empat dari para Nabi -- sholawat salam bagi mereka -- ; Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Lalu Allah swt memilih Nabi Muhammad saw.
3. Allah memilih empat dari para sahabat, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali -Rodlyallahu anhum -- Lalu Allah swt memilih Abu Bakr ash--Shjiddiq ra.
4. Allah memilih empat dari masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi Madinah yang Musyarrafah dan Masjid Thursina. Lalu Allah swt memilih Masjidil Haram.
5. Allah memilih empat dari hari-hari: Hari Idul Ftri, hari Idul Adha, hari Arafah, dan hari Asyura’. Lalu Allah swt memilih hari ‘Arafah.
6. Allah memilih empat dari malam. Malam Al-Bara’ah, Malam Qadar, Malam Jum’at, dan Malam Ied. Lalu Allah swt memilih Lailatul Qadar.
7. Allah memilih empat dari lembah: lembah Makkah, Lembah Madinah, Lembah Baitul Muqaddas dan sepuluh Masjid. Lalu Allah swt memilih lembah Makkah.
8. Allah memilih empat bukit: Bukit Uhud, Bukit Thur Sina, bukit Lukam, dan bukit Libanon, Lalu Allah swt memilih bukit Thursina.
9. Allah memilih empat Sungai: syngai Jeihon, Sungai Seihunj, Sungai Niil, dan Sungai Eofrat.Lalu Allah swt memilih Sungai Niil.
10. Allah memilih empat dari bulan: Bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan Muharram, Lalu Allah swt memilih Sya’ban.
Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Allah swt berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dia Memilih.”
Allah memilih dari segala sesuatu yang ada, empat hal, lalu dipilihnya salah satu:
1. Allah memilih empat Malaikat, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, lalu Allah memilih Jibril.
2. Allah memilih empat dari para Nabi -- sholawat salam bagi mereka -- ; Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Lalu Allah swt memilih Nabi Muhammad saw.
3. Allah memilih empat dari para sahabat, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali -Rodlyallahu anhum -- Lalu Allah swt memilih Abu Bakr ash--Shjiddiq ra.
4. Allah memilih empat dari masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi Madinah yang Musyarrafah dan Masjid Thursina. Lalu Allah swt memilih Masjidil Haram.
5. Allah memilih empat dari hari-hari: Hari Idul Ftri, hari Idul Adha, hari Arafah, dan hari Asyura’. Lalu Allah swt memilih hari ‘Arafah.
6. Allah memilih empat dari malam. Malam Al-Bara’ah, Malam Qadar, Malam Jum’at, dan Malam Ied. Lalu Allah swt memilih Lailatul Qadar.
7. Allah memilih empat dari lembah: lembah Makkah, Lembah Madinah, Lembah Baitul Muqaddas dan sepuluh Masjid. Lalu Allah swt memilih lembah Makkah.
8. Allah memilih empat bukit: Bukit Uhud, Bukit Thur Sina, bukit Lukam, dan bukit Libanon, Lalu Allah swt memilih bukit Thursina.
9. Allah memilih empat Sungai: syngai Jeihon, Sungai Seihunj, Sungai Niil, dan Sungai Eofrat.Lalu Allah swt memilih Sungai Niil.
10. Allah memilih empat dari bulan: Bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan Muharram, Lalu Allah swt memilih Sya’ban.
SEORANG SALIK
SEORANG SALIK
Seorang Salik[1], yang baru memasuki jalan (Thariqat), jangan harap hendak berhubungan dengan Allah Ta’ala atau Rasulullah SAW, tanpa ada orang tengah atau perantara, yaitu Syekh Shufi atau Guru Mursyid untuk menunjuki jalan. Seorang Salik hendaklah ada kesediaan diri untuk dibimbing oleh guru yang benar-benar ahli dalam bidang keshufian ini. Antara Syekh Mursyid atau Guru hakiki itu dengan Rasulullah SAW ada suatu hubungan yang teramat dekat, yang tiada mampu dilampaui jasmani, pertalian darah, keturunan, dan sebagainya.
Sekiranya Nabi Muhammad SAW masih hidup, kita dapat mengambil ilmu langsung dari Baginda dan tidak perlu lagi perantara. Tetapi Baginda telah wafat, maka terpisahlah Baginda dengan alam dunia dan seisinya. Oleh karena itu tidaklah dapat manusia berhubung langsung dengan Baginda. Begitu jugalah dengan Syekh-syekh keshufian yang hakiki. Apabila mereka telah kembali ke Rahmatullah, maka tidaklah lagi manusia dapat belajar langsung dari mereka yang telah kembali menemui Tuhannya.
Guru yang masih hidup itu mestilah ada hubungan keruhanian dengan Rasulullah SAW, yaitu orang yang benar-benar mewarisi ilmu dan keadaannya Rasulullah SAW itu. Dalam ajarannya guru itu menerima panduan dari Nabi dan ia hendaklah seorang Mukmin yang hakiki. Sang guru itu adalah alat atau wasilah untuk meneruskan kesinambungan jalan keruhaniannya itu. Selanjutnya adalah rahasia. Hanya orang yang layak memahaminya akan faham atas yang demikian itu.
Allah berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 17:
“Barangsiapa yang dihidayahkan Allah maka ia termasuk orang-orang yang diberi petunjuk. Dan bagi siapa yang Allah sesatkan (jalan)nya, maka sekali-sekali tidaklah akan mendapatkan Wali yang Mursyid.”
Dan dikatakan pula oleh seorang Wali Besar dari negeri Mesir, Syaikh Ibrahim ad-Dasuki Rahimahullah:
“Mencari Guru dalam thariqah sebagai jalan menuju kepada Allah itu wajib bagi setiap murid, meskipun ia merupakan seorang ulama besar.” [2]
Imam al Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Bermula pendinding antara murid dengan Haq (Allah Ta’ala) ada 4 macam: harta, kedudukan (kebanggaan), taqlid (ikutan/ tradisi), dan maksiat. Adapun hijab (dinding penyekat) harta keduniaan hanyalah dapat dihilangkan dengan melepaskan segala apa yang dimilikinya, sehingga tiada yang tersisa kecuali hanya sekedar mempertahankan hidupnya dan selagi masih ada tersisa kelebihan walaupun satu dirham, niscaya akan memalingkan hatinya dan menghijab hatinya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun hijab kebanggaan, bisa dihilangkan dengan menjauhi segala bentuk kedudukan (pangkat)….Adapun rintangan taqlid bisa dihilangkan dengan melenyapkan jiwa ta’asshub (fanatik) terhadap berbagai madzhab (ikutan)nya dan hanya berpegang pada kebenaran. Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah adalah pembenaran Iman yang jernih, dan melenyapkan segala bentuk yang disembah selain Allah Ta’ala…..Adapun hijab maksiat adalah perintang yang hanya bisa dihilangkan dengan bertaubat dan meninggalkan daripada segala kezaliman serta memperteguh niat untuk tidak mengulang berbuat dosa dan menyesali segala dosa yang telah lalu…..Maka apabila telah terpenuhi syarat yang empat ini, telah terbebas daripada jeratan harta, kedudukan, laksana orang yang telah bersuci dan telah mengambil wudhu, dan telah siap untuk melakukan shalat. Maka perlulah seorang Imam untuk memimpin shalatnya sebagaimana seorang murid yang membutuhkan Syaikh atau Guru yang membimbingnya untuk menuntun ke jalan yang benar, lantaran jalan agama itu gelap/ rumit, sedang jalan syetan itu banyak dan terang. Maka siapapun yang tiada punya Guru yang membimbing, niscaya dituntun syetan ke jalan mereka yang sesat…….Maka pengawal keselamatan murid sesudah memenuhi persyaratan tersebut adalah Gurunya, maka harus mempercayakan diri atas Gurunya bulat-bulat laksana si buta yang berserah pada penuntunnya di tepi sungai, yakni pasrah kepada Guru dan tiada menyalahinya bagi tercapainya tempat yang ditujunya. Hendaklah diketahuinya bahwa manfaat kesalahan petunjuk Guru itu seandainya salah, jauh lebih bermanfaat daripada kebenaran usahanya sendiri seandainya ia benar”.[3]
Ketahuilah olehmu, wahai saudaraku yang menghendaki kebahagiaan di dalam dunia dan akhirat, yang menghendaki jauh daripada terpedaya dalam ilmu dan amalnya, mengambil thariqah itu kepada ahlinya. Itulah sebagai jalan para Nabi, Awliya, Muqarabin, orang yang Muttaqin dan jalan orang-orang yang Abrar. Maka barang siapa tiada menjalani jalan ahli Shufi dan tiada berthariqah kepadanya, niscaya ia terpedaya, meskipun ia membaca/ mempelajari 1.000 kitab selainnya, dikarenakan tiada terlepas daripada maksiat, seperti riya’, ‘ujub, takabbur, hubbud dunia dan sebagainya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Al ‘Arif billah Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani Rhm:
“Dan telah dimaklumi bahwasanya setiap orang tiada mendapatkan syaikh yang menunjukinya jalan untuk mengeluarkannya dari sifat-sifat tercela (seperti riya’, ‘ujub, takabbur, hasad, bakhil dan hubbud dunia), maka ia telah bermaksiat (melawan perintah) Allah dan Rasulullah SAW, karena ia tidak bisa mendapatkan petunjuk menuju jalan kebahagiaan/ kemenangan tanpa bimbingan seorang Syaikh meskipun ia telah hafal 1.000 kitab ilmu. Maka carilah seorang Guru wahai saudaraku dan ambillah nasehatku ini. Dan siapa-siapa yang berkata bahwa Thariqah shufi itu tiada memiliki dasar Al Quran dan Sunnah maka ia telah kafir (keluar daripada iman). Dikarenakan seluruh apa-apa yang telah diuraikan dalam akhlak (perangai) Shufi itu semuanya adalah akhlaknya Rasulullah SAW, baik dasar-dasarnya (ketauhidan) maupun aturan-aturannya (Fiqih, Thariqat dan Haqiqat)”.[4]
Demikian pula berkata Syaikh Yusuf Tajul Khalwati al Makassari dalam risalahnya[5]: “Kemudian wajib pula atasmu, jika engkau seorang salik yang bersungguh-sungguh lagi ikhlas dalam tuntutanmu dan dalam sulukmu sesudah menyucikan I’tikad semuanya seperti yang telah disebutkan, maka carilah seorang Syaikh yang shaleh lagi ‘Arif (makrifat) serta tahu memberi akan nasihat yang menunjukkan aib pribadimu dan dikeluarkan kamu dari mengikuti aib itu, dan mengajarimu memusuhinya. Walau sekiranya engkau mengembara ke tempat jauh dari kampung halaman dan keluargamu untuk mencari Syaikh mursyid. Sesungguhnya Syaikh itulah yang dikatakan: siapa yang mencari thariqah tanpa petunjuk dan tanpa ‘Arif (orang yang makrifat), sungguh ia mencari sesuatu yang mustahil. Mengapa tidak, sedang ia adalah pembuka pintu hatimu dan dialah ayah bagi ruhmu. Dia adalah membimbing engkau baik lahir maupun batin kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal demikian itu dikatakan, karena siapa yang tidak mempunyai seorang Syaikh, maka syetanlah Syaikhnya[6][6]. Bersabda Nabi SAW bahwa Syaikh yang ada pada zamannya seperti Nabi pada zamannya. Bersabda lagi Nabi SAW: “Ulamanya umatku, laksana Nabi-nabi Bani Israil”, yang dimaksudkan ulama disini adalah mereka yang memiliki ilmu dan yang mengamalkannya, menunjuki orang ke jalan Allah Ta’ala, memberi nasihat agar beribadah kepada Allah, seperti yang telah dikatakan oleh mereka, para sahabat Radhiallahu’anhum. Wallahu a’lam
Diriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda: “Siapa yang mati sedang ia tak pernah ada bai’at pada dirinya, sungguh ia mati seperti kematian orang jahiliyyah”. Berdasarkan hal ini, sebagian ulama menunjukkan dengan katanya: barangsiapa berpegang teguh pada pendapatnya saja dan merasa cukup pengetahuan yang ada padanya, maka ia terjerumus godaan syetan. Oleh karena itu pahamilah dan renungkanlah baik-baik.
Apabila telah memperoleh Syaikh seperti yang telah disifatkan di atas serahkanlah urusanmu kepadanya, sambil berada di antara kedua belah tangannya, guna memilih cara suluk, laksana seperti mayat yang berada di hadapan orang yang memandikan mayat itu, ia boleh membolak-balikkan menurut kehendaknya.
Sekali-sekali saya peringatkan dengan hati-hati, peliharalah baik-baik jangan sampai timbul kekhawatiran dan keraguan untuk mengikuti Syaikhmu itu, walaupun engkau melihatnya ia berbuat sesuatu pekerjaan yang bukan mengarah pada taqarrub kepada Allah SWT. Akhirnya, dalam hal ini dikatakan oleh Syaikh Besar dan Imam yang terkenal Muhyiddin ‘Ibnu ‘Arabi Rahimahullahu’anhu: “Andaikata engkau telah menyaksikan Syaikhmu bahwa ia berbuat yang bertentangan dengan hukum syari’at, maka jelas manusia sesudah Nabi-nabi tidak ada yang sunyi dari dosa. Adapun berdosa itu tidak menjadi syarat dan fungsi Syaikh dan tidak pula menjadi syarat bagi orang-orang ‘Arif (makrifat) terhadap Allah Ta’ala”. Telah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:”Barangsiapa mengaku dirinya ma’shum (merasa bebas akan dosa) setelahku bukanlah ia dari umatku”.
Syaikh Zainal Abidin bin Muhammad al Fathani Rhm dalam kitabnya ‘Aqidatun Najin fii Ilmi Ushuliddin mengatakan: “Hendaklah setiap muslim mempelajari akidah yang benar, baik yang berhubungan dengan Allah maupun RasulNya agar jangan terjerumus ke dalam perkara yang menyesatkan, bid’ah dan kekufuran sehingga binasalah segala amal kita, dikarenakan amal ibadah tidak sah melainkan dengan aqidah yang benar. Maka belajarlah aqidah dari orang yang dikenal akan kedalaman ilmunya, orang yang ‘alim yang diakui oleh para ulama tentang kebenaran ilmunya. Juga ilmu yang dipelajari itu diambil dari guru, bukan hanya sekedar membaca kitab-kitab, karena ilmu Thariqat ini tidak boleh diambil melainkan dari guru yang mursyid. Dan juga kitab-kitab yang kita baca itu ditulis oleh orang-orang yang dikenal kedalaman ilmunya sehingga tiada orang yang menyalahkan ilmunya dan kalau di daerah kita tidak ada orang yang dapat mengajarnya, hendaklah kita pergi ke negeri yang lain yang ada ulamanya sekalipun ke tempat yang jauh, misalnya Mekkah dan Madinah atau negeri lainnya. Dalam mencari guru hendaknya kita bertanya kepada para Ulama dan kalau mereka mengatakannya apa yang diajarkannya itu benar maka janganlah kita berubah lagi. Tetapi kalau apa yang kita pelajari itu oleh para Ulama dinyatakan salah, wajiblah kita bertanya kepada ulama yang lain dengan membandingkan pelajaran yang kita terima sekalipun kita terpaksa pergi ke negeri lain. Karena urusan agama itu sangat besar teristimewa yang menyangkut aqidah.
Selanjutnya dikatakan: “Mujahadah di bawah bimbingan syaikh yang ‘Arif (telah Makrifatullah) tentunya lebih baik, dikarenakan orang-orang Shufi mengatakan bahwa ucapan seorang ‘Arif lebih baik dan lebih bermanfaat daripada nasehat 1.000 orang. Karena itu seyogyanya selalu mendampingi syaikh yang ‘Arif terhadap al Quran dan Sunnah, namun selalu diteliti lebih dahulu sebelum mengambil pelajaran itu dari syaikh tadi. Maka kalau bimbingannnya sesuai dengan ajaran al Quran dan Sunnah ambillah dan beradablah dengan Syaikh yang memberi bimbingan. Mudah-mudahan usaha orang yang suci batinnya itu berhasil dan Allah melimpahkan hidayahnya kepada engkau.
Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi Rhm telah menulis: “Seumur hidupmu, kamu tidak akan dapat menjauhkan diri dari kekuasaan hawa nafsu dan kemungkaran selama keinginan-keinginanmu tidak disalurkan menurut perintah Allah dan Sunnah Nabi SAW. Maka jika kamu bertemu dengan seorang kekasih Allah, tumbuhkanlah rasa hormat dalam hatimu, layanilah dia dengan baik dan ikutilah ajaran-ajarannya, jadilah kamu seperti mayat di hadapannya, hendaklah kamu tidak memiliki keinginan apa-apa di hatimu, jika mereka memerintahmu cepat-cepatlah laksanakan, jika ada yang menghalanginya cepat-cepatlah singkirkan, jika diperintah duduk maka duduklah, apa-apa perintahnya anggaplah sebagai tugas kita, bermusyawarahlah dengannya mengenai segala masalah agama dan ruhani, agar dia dapat membimbingmu dan membawamu lebih dekat kepada Allah SWT …” . Oleh karena itu, berusahalah mencari kekasih-kekasih Allah[7].
Dan lagi berkata Syaikh Abu Ali ad Daqqaq Rhm: “Jika bahwasanya ada seseorang mengaku diwahyukan pengetahuan-pengetahuan yang datang kepadanya, sedang ia tiada memiliki Guru (yang membimbing), maka tiadalah datang datang daripadanya itu sesuatu rahasiapun (dari rahasia-rahasia Allah Ta’ala)”.[8]
Syaikh Musthafa al Bakri Rhm. berkata:
“Barang siapa menjalani Thariqat, yakni berdalil tanpa seorang Guru Mursyid yang menunjukkan akan dia, niscaya ia menjadi bingung dan sesat serta termasuk orang-orang yang celaka (binasa)”.[9]
Seorang Guru Mursyid apalagi yang disebut sebagai Khalifah zamannya yang disinggung dalam Surat Al Kahfi ayat 17 wajib dicari oleh setiap pribadi yang mukmin, karena Ulama yang dikatakan Pewaris Nabi bagi suatu kaum adalah bagaikan seorang Nabi di tengah umatnya, yang membimbing dan menuntut arah ibadah dan makrifatnya kepada Allah Ta’ala. Tidak semua orang bisa dijumpai dan ditunjuki oleh Allah Al Haadi kepada Khalifah pilihan pada masanya, karena bukanlah sembarang orang boleh mengaku-ngaku, melainkan harus mempunyai beberapa kriteria, antara lain :
1. Diangkat secara ruhaniyah, yaitu menerima istikhlaf dari Rasulullah SAW. Minimal melalui penunjukkan Guru Mursyid Sulthan Awliya sebelumnya atas petunjuk dari Rasulullah SAW.
2. Secara lahiriyyah memiliki hubungan keturunan (nasab) dari Rasulullah SAW.
3. Bersifat Murobbi Ruh, mempunyai hubungan kontak batin kepada muridnya, sehingga mampu membimbing ruhani dan jasmani muridnya kapanpun dan di manapun mereka berada.
4. Melaksanakan/mencontohkan tuntunan ajaran Allah dan RasulNya secara zhahir maupun batin.
Hampir setiap Thariqat mempunyai Syekh Mursyid yang dianggap memiliki ciri dan persyaratan sebagai seorang pembimbing (Mursyid). Prinsip ajarannya memiliki banyak kesamaan, yang masing-masing punya perangkat metode yang khas dalam menempa penganutnya menuju kepada tujuan. Yang membedakan hanyalah masalah istikhlaf (diangkat) atau tidaknya oleh Rasulullah SAW, sebagai bukti keabsahan pewaris Nabi (Waratsatul Anbiya’
Seorang Salik[1], yang baru memasuki jalan (Thariqat), jangan harap hendak berhubungan dengan Allah Ta’ala atau Rasulullah SAW, tanpa ada orang tengah atau perantara, yaitu Syekh Shufi atau Guru Mursyid untuk menunjuki jalan. Seorang Salik hendaklah ada kesediaan diri untuk dibimbing oleh guru yang benar-benar ahli dalam bidang keshufian ini. Antara Syekh Mursyid atau Guru hakiki itu dengan Rasulullah SAW ada suatu hubungan yang teramat dekat, yang tiada mampu dilampaui jasmani, pertalian darah, keturunan, dan sebagainya.
Sekiranya Nabi Muhammad SAW masih hidup, kita dapat mengambil ilmu langsung dari Baginda dan tidak perlu lagi perantara. Tetapi Baginda telah wafat, maka terpisahlah Baginda dengan alam dunia dan seisinya. Oleh karena itu tidaklah dapat manusia berhubung langsung dengan Baginda. Begitu jugalah dengan Syekh-syekh keshufian yang hakiki. Apabila mereka telah kembali ke Rahmatullah, maka tidaklah lagi manusia dapat belajar langsung dari mereka yang telah kembali menemui Tuhannya.
Guru yang masih hidup itu mestilah ada hubungan keruhanian dengan Rasulullah SAW, yaitu orang yang benar-benar mewarisi ilmu dan keadaannya Rasulullah SAW itu. Dalam ajarannya guru itu menerima panduan dari Nabi dan ia hendaklah seorang Mukmin yang hakiki. Sang guru itu adalah alat atau wasilah untuk meneruskan kesinambungan jalan keruhaniannya itu. Selanjutnya adalah rahasia. Hanya orang yang layak memahaminya akan faham atas yang demikian itu.
Allah berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 17:
“Barangsiapa yang dihidayahkan Allah maka ia termasuk orang-orang yang diberi petunjuk. Dan bagi siapa yang Allah sesatkan (jalan)nya, maka sekali-sekali tidaklah akan mendapatkan Wali yang Mursyid.”
Dan dikatakan pula oleh seorang Wali Besar dari negeri Mesir, Syaikh Ibrahim ad-Dasuki Rahimahullah:
“Mencari Guru dalam thariqah sebagai jalan menuju kepada Allah itu wajib bagi setiap murid, meskipun ia merupakan seorang ulama besar.” [2]
Imam al Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Bermula pendinding antara murid dengan Haq (Allah Ta’ala) ada 4 macam: harta, kedudukan (kebanggaan), taqlid (ikutan/ tradisi), dan maksiat. Adapun hijab (dinding penyekat) harta keduniaan hanyalah dapat dihilangkan dengan melepaskan segala apa yang dimilikinya, sehingga tiada yang tersisa kecuali hanya sekedar mempertahankan hidupnya dan selagi masih ada tersisa kelebihan walaupun satu dirham, niscaya akan memalingkan hatinya dan menghijab hatinya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun hijab kebanggaan, bisa dihilangkan dengan menjauhi segala bentuk kedudukan (pangkat)….Adapun rintangan taqlid bisa dihilangkan dengan melenyapkan jiwa ta’asshub (fanatik) terhadap berbagai madzhab (ikutan)nya dan hanya berpegang pada kebenaran. Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah adalah pembenaran Iman yang jernih, dan melenyapkan segala bentuk yang disembah selain Allah Ta’ala…..Adapun hijab maksiat adalah perintang yang hanya bisa dihilangkan dengan bertaubat dan meninggalkan daripada segala kezaliman serta memperteguh niat untuk tidak mengulang berbuat dosa dan menyesali segala dosa yang telah lalu…..Maka apabila telah terpenuhi syarat yang empat ini, telah terbebas daripada jeratan harta, kedudukan, laksana orang yang telah bersuci dan telah mengambil wudhu, dan telah siap untuk melakukan shalat. Maka perlulah seorang Imam untuk memimpin shalatnya sebagaimana seorang murid yang membutuhkan Syaikh atau Guru yang membimbingnya untuk menuntun ke jalan yang benar, lantaran jalan agama itu gelap/ rumit, sedang jalan syetan itu banyak dan terang. Maka siapapun yang tiada punya Guru yang membimbing, niscaya dituntun syetan ke jalan mereka yang sesat…….Maka pengawal keselamatan murid sesudah memenuhi persyaratan tersebut adalah Gurunya, maka harus mempercayakan diri atas Gurunya bulat-bulat laksana si buta yang berserah pada penuntunnya di tepi sungai, yakni pasrah kepada Guru dan tiada menyalahinya bagi tercapainya tempat yang ditujunya. Hendaklah diketahuinya bahwa manfaat kesalahan petunjuk Guru itu seandainya salah, jauh lebih bermanfaat daripada kebenaran usahanya sendiri seandainya ia benar”.[3]
Ketahuilah olehmu, wahai saudaraku yang menghendaki kebahagiaan di dalam dunia dan akhirat, yang menghendaki jauh daripada terpedaya dalam ilmu dan amalnya, mengambil thariqah itu kepada ahlinya. Itulah sebagai jalan para Nabi, Awliya, Muqarabin, orang yang Muttaqin dan jalan orang-orang yang Abrar. Maka barang siapa tiada menjalani jalan ahli Shufi dan tiada berthariqah kepadanya, niscaya ia terpedaya, meskipun ia membaca/ mempelajari 1.000 kitab selainnya, dikarenakan tiada terlepas daripada maksiat, seperti riya’, ‘ujub, takabbur, hubbud dunia dan sebagainya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Al ‘Arif billah Syaikh Abdul Wahhab as Sya’rani Rhm:
“Dan telah dimaklumi bahwasanya setiap orang tiada mendapatkan syaikh yang menunjukinya jalan untuk mengeluarkannya dari sifat-sifat tercela (seperti riya’, ‘ujub, takabbur, hasad, bakhil dan hubbud dunia), maka ia telah bermaksiat (melawan perintah) Allah dan Rasulullah SAW, karena ia tidak bisa mendapatkan petunjuk menuju jalan kebahagiaan/ kemenangan tanpa bimbingan seorang Syaikh meskipun ia telah hafal 1.000 kitab ilmu. Maka carilah seorang Guru wahai saudaraku dan ambillah nasehatku ini. Dan siapa-siapa yang berkata bahwa Thariqah shufi itu tiada memiliki dasar Al Quran dan Sunnah maka ia telah kafir (keluar daripada iman). Dikarenakan seluruh apa-apa yang telah diuraikan dalam akhlak (perangai) Shufi itu semuanya adalah akhlaknya Rasulullah SAW, baik dasar-dasarnya (ketauhidan) maupun aturan-aturannya (Fiqih, Thariqat dan Haqiqat)”.[4]
Demikian pula berkata Syaikh Yusuf Tajul Khalwati al Makassari dalam risalahnya[5]: “Kemudian wajib pula atasmu, jika engkau seorang salik yang bersungguh-sungguh lagi ikhlas dalam tuntutanmu dan dalam sulukmu sesudah menyucikan I’tikad semuanya seperti yang telah disebutkan, maka carilah seorang Syaikh yang shaleh lagi ‘Arif (makrifat) serta tahu memberi akan nasihat yang menunjukkan aib pribadimu dan dikeluarkan kamu dari mengikuti aib itu, dan mengajarimu memusuhinya. Walau sekiranya engkau mengembara ke tempat jauh dari kampung halaman dan keluargamu untuk mencari Syaikh mursyid. Sesungguhnya Syaikh itulah yang dikatakan: siapa yang mencari thariqah tanpa petunjuk dan tanpa ‘Arif (orang yang makrifat), sungguh ia mencari sesuatu yang mustahil. Mengapa tidak, sedang ia adalah pembuka pintu hatimu dan dialah ayah bagi ruhmu. Dia adalah membimbing engkau baik lahir maupun batin kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal demikian itu dikatakan, karena siapa yang tidak mempunyai seorang Syaikh, maka syetanlah Syaikhnya[6][6]. Bersabda Nabi SAW bahwa Syaikh yang ada pada zamannya seperti Nabi pada zamannya. Bersabda lagi Nabi SAW: “Ulamanya umatku, laksana Nabi-nabi Bani Israil”, yang dimaksudkan ulama disini adalah mereka yang memiliki ilmu dan yang mengamalkannya, menunjuki orang ke jalan Allah Ta’ala, memberi nasihat agar beribadah kepada Allah, seperti yang telah dikatakan oleh mereka, para sahabat Radhiallahu’anhum. Wallahu a’lam
Diriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda: “Siapa yang mati sedang ia tak pernah ada bai’at pada dirinya, sungguh ia mati seperti kematian orang jahiliyyah”. Berdasarkan hal ini, sebagian ulama menunjukkan dengan katanya: barangsiapa berpegang teguh pada pendapatnya saja dan merasa cukup pengetahuan yang ada padanya, maka ia terjerumus godaan syetan. Oleh karena itu pahamilah dan renungkanlah baik-baik.
Apabila telah memperoleh Syaikh seperti yang telah disifatkan di atas serahkanlah urusanmu kepadanya, sambil berada di antara kedua belah tangannya, guna memilih cara suluk, laksana seperti mayat yang berada di hadapan orang yang memandikan mayat itu, ia boleh membolak-balikkan menurut kehendaknya.
Sekali-sekali saya peringatkan dengan hati-hati, peliharalah baik-baik jangan sampai timbul kekhawatiran dan keraguan untuk mengikuti Syaikhmu itu, walaupun engkau melihatnya ia berbuat sesuatu pekerjaan yang bukan mengarah pada taqarrub kepada Allah SWT. Akhirnya, dalam hal ini dikatakan oleh Syaikh Besar dan Imam yang terkenal Muhyiddin ‘Ibnu ‘Arabi Rahimahullahu’anhu: “Andaikata engkau telah menyaksikan Syaikhmu bahwa ia berbuat yang bertentangan dengan hukum syari’at, maka jelas manusia sesudah Nabi-nabi tidak ada yang sunyi dari dosa. Adapun berdosa itu tidak menjadi syarat dan fungsi Syaikh dan tidak pula menjadi syarat bagi orang-orang ‘Arif (makrifat) terhadap Allah Ta’ala”. Telah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:”Barangsiapa mengaku dirinya ma’shum (merasa bebas akan dosa) setelahku bukanlah ia dari umatku”.
Syaikh Zainal Abidin bin Muhammad al Fathani Rhm dalam kitabnya ‘Aqidatun Najin fii Ilmi Ushuliddin mengatakan: “Hendaklah setiap muslim mempelajari akidah yang benar, baik yang berhubungan dengan Allah maupun RasulNya agar jangan terjerumus ke dalam perkara yang menyesatkan, bid’ah dan kekufuran sehingga binasalah segala amal kita, dikarenakan amal ibadah tidak sah melainkan dengan aqidah yang benar. Maka belajarlah aqidah dari orang yang dikenal akan kedalaman ilmunya, orang yang ‘alim yang diakui oleh para ulama tentang kebenaran ilmunya. Juga ilmu yang dipelajari itu diambil dari guru, bukan hanya sekedar membaca kitab-kitab, karena ilmu Thariqat ini tidak boleh diambil melainkan dari guru yang mursyid. Dan juga kitab-kitab yang kita baca itu ditulis oleh orang-orang yang dikenal kedalaman ilmunya sehingga tiada orang yang menyalahkan ilmunya dan kalau di daerah kita tidak ada orang yang dapat mengajarnya, hendaklah kita pergi ke negeri yang lain yang ada ulamanya sekalipun ke tempat yang jauh, misalnya Mekkah dan Madinah atau negeri lainnya. Dalam mencari guru hendaknya kita bertanya kepada para Ulama dan kalau mereka mengatakannya apa yang diajarkannya itu benar maka janganlah kita berubah lagi. Tetapi kalau apa yang kita pelajari itu oleh para Ulama dinyatakan salah, wajiblah kita bertanya kepada ulama yang lain dengan membandingkan pelajaran yang kita terima sekalipun kita terpaksa pergi ke negeri lain. Karena urusan agama itu sangat besar teristimewa yang menyangkut aqidah.
Selanjutnya dikatakan: “Mujahadah di bawah bimbingan syaikh yang ‘Arif (telah Makrifatullah) tentunya lebih baik, dikarenakan orang-orang Shufi mengatakan bahwa ucapan seorang ‘Arif lebih baik dan lebih bermanfaat daripada nasehat 1.000 orang. Karena itu seyogyanya selalu mendampingi syaikh yang ‘Arif terhadap al Quran dan Sunnah, namun selalu diteliti lebih dahulu sebelum mengambil pelajaran itu dari syaikh tadi. Maka kalau bimbingannnya sesuai dengan ajaran al Quran dan Sunnah ambillah dan beradablah dengan Syaikh yang memberi bimbingan. Mudah-mudahan usaha orang yang suci batinnya itu berhasil dan Allah melimpahkan hidayahnya kepada engkau.
Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi Rhm telah menulis: “Seumur hidupmu, kamu tidak akan dapat menjauhkan diri dari kekuasaan hawa nafsu dan kemungkaran selama keinginan-keinginanmu tidak disalurkan menurut perintah Allah dan Sunnah Nabi SAW. Maka jika kamu bertemu dengan seorang kekasih Allah, tumbuhkanlah rasa hormat dalam hatimu, layanilah dia dengan baik dan ikutilah ajaran-ajarannya, jadilah kamu seperti mayat di hadapannya, hendaklah kamu tidak memiliki keinginan apa-apa di hatimu, jika mereka memerintahmu cepat-cepatlah laksanakan, jika ada yang menghalanginya cepat-cepatlah singkirkan, jika diperintah duduk maka duduklah, apa-apa perintahnya anggaplah sebagai tugas kita, bermusyawarahlah dengannya mengenai segala masalah agama dan ruhani, agar dia dapat membimbingmu dan membawamu lebih dekat kepada Allah SWT …” . Oleh karena itu, berusahalah mencari kekasih-kekasih Allah[7].
Dan lagi berkata Syaikh Abu Ali ad Daqqaq Rhm: “Jika bahwasanya ada seseorang mengaku diwahyukan pengetahuan-pengetahuan yang datang kepadanya, sedang ia tiada memiliki Guru (yang membimbing), maka tiadalah datang datang daripadanya itu sesuatu rahasiapun (dari rahasia-rahasia Allah Ta’ala)”.[8]
Syaikh Musthafa al Bakri Rhm. berkata:
“Barang siapa menjalani Thariqat, yakni berdalil tanpa seorang Guru Mursyid yang menunjukkan akan dia, niscaya ia menjadi bingung dan sesat serta termasuk orang-orang yang celaka (binasa)”.[9]
Seorang Guru Mursyid apalagi yang disebut sebagai Khalifah zamannya yang disinggung dalam Surat Al Kahfi ayat 17 wajib dicari oleh setiap pribadi yang mukmin, karena Ulama yang dikatakan Pewaris Nabi bagi suatu kaum adalah bagaikan seorang Nabi di tengah umatnya, yang membimbing dan menuntut arah ibadah dan makrifatnya kepada Allah Ta’ala. Tidak semua orang bisa dijumpai dan ditunjuki oleh Allah Al Haadi kepada Khalifah pilihan pada masanya, karena bukanlah sembarang orang boleh mengaku-ngaku, melainkan harus mempunyai beberapa kriteria, antara lain :
1. Diangkat secara ruhaniyah, yaitu menerima istikhlaf dari Rasulullah SAW. Minimal melalui penunjukkan Guru Mursyid Sulthan Awliya sebelumnya atas petunjuk dari Rasulullah SAW.
2. Secara lahiriyyah memiliki hubungan keturunan (nasab) dari Rasulullah SAW.
3. Bersifat Murobbi Ruh, mempunyai hubungan kontak batin kepada muridnya, sehingga mampu membimbing ruhani dan jasmani muridnya kapanpun dan di manapun mereka berada.
4. Melaksanakan/mencontohkan tuntunan ajaran Allah dan RasulNya secara zhahir maupun batin.
Hampir setiap Thariqat mempunyai Syekh Mursyid yang dianggap memiliki ciri dan persyaratan sebagai seorang pembimbing (Mursyid). Prinsip ajarannya memiliki banyak kesamaan, yang masing-masing punya perangkat metode yang khas dalam menempa penganutnya menuju kepada tujuan. Yang membedakan hanyalah masalah istikhlaf (diangkat) atau tidaknya oleh Rasulullah SAW, sebagai bukti keabsahan pewaris Nabi (Waratsatul Anbiya’
PRINSIP ADAB MEMBANGUN BANGSA
PRINSIP-PRINSIP ADAB MEMBANGUN BANGSA
1. Menjaga kehormatan
* Menjaga Kehormatan Allah.
* Menjaga kehormatan Nabi dan Rasul.
* Menjaga kehormatan para Auliya’ dan Ulama.
* Menjaga kehormatan sesama menurut derajat masing-masing.
2. Memiliki cita-cita yang luhur
* Cita-cita luhur dalam kehidupan dunia dan akhirat, yaitu Allah swt. sebagai cita-cita paling luhur. Sehingga seluruh semangat dan hasrat kebangsaan diliputi nilai-nilai keluhuran moral Ilahiyah.
3. Berbakti yang baik
* Mengikuti jejak para Nabi dan Rasul
* Tidak mengklaim prestasi, karena segala daya dan kekuatan dari pertolongan Allah
* Terbangunnya kebesaran jiwa, karena menghargai Sang Pemberi anugerah dalam setiap gerak dan aktivitas.
4. Melaksanakan prinsip-prinsip utama
* Tidak mudah tergoda oleh aspek penunjang sedang prinsipnya terabaikan.
* Tidak meremehkan hal-hal principal
* Tidak memilih hal-hal gampang dengan melupakan gairah perjuangan dan kerja keras.
5. Mensyukuri nikmat.
* Memandang Yang Maha Memberi nikmat, bukan wujud nikmatnya.
* Senantiasa memandang anugerahNya setiap berbuat kebaikan.
* Rasa syukur ditumbuhkan dari kejernihan iman dan tauhid.
1. Menjaga kehormatan
* Menjaga Kehormatan Allah.
* Menjaga kehormatan Nabi dan Rasul.
* Menjaga kehormatan para Auliya’ dan Ulama.
* Menjaga kehormatan sesama menurut derajat masing-masing.
2. Memiliki cita-cita yang luhur
* Cita-cita luhur dalam kehidupan dunia dan akhirat, yaitu Allah swt. sebagai cita-cita paling luhur. Sehingga seluruh semangat dan hasrat kebangsaan diliputi nilai-nilai keluhuran moral Ilahiyah.
3. Berbakti yang baik
* Mengikuti jejak para Nabi dan Rasul
* Tidak mengklaim prestasi, karena segala daya dan kekuatan dari pertolongan Allah
* Terbangunnya kebesaran jiwa, karena menghargai Sang Pemberi anugerah dalam setiap gerak dan aktivitas.
4. Melaksanakan prinsip-prinsip utama
* Tidak mudah tergoda oleh aspek penunjang sedang prinsipnya terabaikan.
* Tidak meremehkan hal-hal principal
* Tidak memilih hal-hal gampang dengan melupakan gairah perjuangan dan kerja keras.
5. Mensyukuri nikmat.
* Memandang Yang Maha Memberi nikmat, bukan wujud nikmatnya.
* Senantiasa memandang anugerahNya setiap berbuat kebaikan.
* Rasa syukur ditumbuhkan dari kejernihan iman dan tauhid.
PENGARUH TASAWUF DLM SOSIAL EKONOMI UMAT
PENGARUH TASAWUF DLM SOSIAL EKONOMI UMAT
Kajian Tasawuf (mistik, sufi, olah spiritual) berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial dan ekonomi yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya, karena tasawuf adalah jantung dari ajaran Islam, tampa tasawuf Islam akan kehilangan ruh ajaran aslinya. Tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan ini yang memang tidak bisa terlepas dari realitas yang tampak maupun yang tidak tampak, Untuk menjadi seseorang yang bijak dan professional di dalam menjalankan setiap peran dalam mengarungi kehidupan ini, karena selain bisa memahami realitas lahir ia juga mampu memahami realitas batin, sehinga ia mampu untuk berinteraksi dangan alam secara harmonis dan serasi, dan itulah yang diajarkan di dalam agama Islam, keharmonisan dan keserasian dengan alam semesta.
Tasawuf adalah bagian dari Syari’at Islam, yakni perwujudan dari ihsan, salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yakni iman dan Islam. Oleh karena itu bagaimanapun, perilaku tasawuf harus tetap berada dalam kerangka Syari’at. Maka al-Junaid mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh al-Qusyairi , “Kita tidak boleh tergiur terhadap orang yang diberi kekeramatan, sehingga tahu betul konsistensinya terhadap Syari’at”. Tasawuf sebagai manifestasi dari ihsan tadi, merupakan penghayatan seseorang terhadap agamanya, dan berpotensi besar untuk menawarkan pembebasan spiritual, sehingga ia mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya, mengenal Tuhannya.
Lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam, diawali dari ketidakpuasan terhadap praktik ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan atas nama hukum agama. Selain itu, tasawuf juga sebagai gerakan moral (kritik) terhadap ketimpangan sosial, moral, dan ekonomi yang ada di dalam umat Islam, khususnya yang dilakukan kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat demikian tampillah beberapa orang tokoh untuk memberikan solusi dengan ajaran tasawufnya. Solusi tasawuf terhadap formalisme dengan spiritualisasi ritual, merupakan pembenahan dan elaborasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Faktor internal lainnya ialah terjadinya pertikaian politik intern umat Islam yang menyebabkan perang saudara yang dimulai antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bermula dari al-fitnah al-kubra yang menimpa khalifah ketiga, Usman bin Affan maka sebagian tokoh agama mengambil jarak dengan kehidupan politik dan sosial.
Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan Keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial, tidak “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan rasulnya, seperti dalam sabda rasul:
IMAM
”tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain”
kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama’ membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: “segala bentuk perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya menjadi wajib”.
Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu.
Kajian Tasawuf (mistik, sufi, olah spiritual) berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial dan ekonomi yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya, karena tasawuf adalah jantung dari ajaran Islam, tampa tasawuf Islam akan kehilangan ruh ajaran aslinya. Tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan ini yang memang tidak bisa terlepas dari realitas yang tampak maupun yang tidak tampak, Untuk menjadi seseorang yang bijak dan professional di dalam menjalankan setiap peran dalam mengarungi kehidupan ini, karena selain bisa memahami realitas lahir ia juga mampu memahami realitas batin, sehinga ia mampu untuk berinteraksi dangan alam secara harmonis dan serasi, dan itulah yang diajarkan di dalam agama Islam, keharmonisan dan keserasian dengan alam semesta.
Tasawuf adalah bagian dari Syari’at Islam, yakni perwujudan dari ihsan, salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yakni iman dan Islam. Oleh karena itu bagaimanapun, perilaku tasawuf harus tetap berada dalam kerangka Syari’at. Maka al-Junaid mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh al-Qusyairi , “Kita tidak boleh tergiur terhadap orang yang diberi kekeramatan, sehingga tahu betul konsistensinya terhadap Syari’at”. Tasawuf sebagai manifestasi dari ihsan tadi, merupakan penghayatan seseorang terhadap agamanya, dan berpotensi besar untuk menawarkan pembebasan spiritual, sehingga ia mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya, mengenal Tuhannya.
Lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam, diawali dari ketidakpuasan terhadap praktik ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan atas nama hukum agama. Selain itu, tasawuf juga sebagai gerakan moral (kritik) terhadap ketimpangan sosial, moral, dan ekonomi yang ada di dalam umat Islam, khususnya yang dilakukan kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat demikian tampillah beberapa orang tokoh untuk memberikan solusi dengan ajaran tasawufnya. Solusi tasawuf terhadap formalisme dengan spiritualisasi ritual, merupakan pembenahan dan elaborasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Faktor internal lainnya ialah terjadinya pertikaian politik intern umat Islam yang menyebabkan perang saudara yang dimulai antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bermula dari al-fitnah al-kubra yang menimpa khalifah ketiga, Usman bin Affan maka sebagian tokoh agama mengambil jarak dengan kehidupan politik dan sosial.
Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan Keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial, tidak “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan rasulnya, seperti dalam sabda rasul:
IMAM
”tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain”
kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama’ membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: “segala bentuk perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya menjadi wajib”.
Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu.
MENCARI ILMU
MENCARI ILMU
Sayyidina Ali K.W
1. Ilmu berhubungan dengan amal. Barangsiapa yang berilmu, niscaya mengamalkan ilmunya. Ilmu memanggil amal; maka jika ia menyambut panggilannya bila tidak menyambutnya, ia akan berpindah darinya.
2. Pelajarilah ilmu, niscaya kalian akan dikenal dengannya; dan amalkanlah ilmu (yang kalian pelajari) itu, niscaya kalian akan termasuk ahlinya.
3. Wahai para pembawa ilmu, apakah kalian membawanya? Sesungguhnya ilmu hanyalah bagi yang mengetahuinya, kemudian dia mengamalkannya, dan perbuatannya sesuai dengan ilmunya. Akan datang suatu masa, dimana sekelompok orang membawa ilmu, namun ilmunya tidak melampaui tulang selangkanya. Batiniah mereka berlawanan dengan lahiriah mereka. Dan perbuatan mereka berlawanan dengan ilmu mereka.
4. Orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang berjalan bukan di jalan. Maka, hal itu tidak menambah jaraknya dari jalan yang terang kecuali semakin jauh dari kebutuhannya. Dan orang yang beramal dengan ilmu, seperti orang yang berjalan di atas jalan yang terang. Maka, hendaklah seseorang memperhatikan, apakah dia berjalan, ataukah dia kembali?
5. Janganlah sekali-kali engkau tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, setiap orang yang melihat akan ditanya tentang perbuatannya, ucapannya, dan kehendaknya.
6. Orang yang berilmu tanpa amal, seperti pemanah tanpa tali busur.
KESUCIAN DAN KEMULYAAN ILMU
1 Ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indahnya. Ia ringan dibawa, namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur.
2 Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya ia hiasan bagi orang kaya dan penolong bagi orang fakir. Aku tidaklah mengatakan, “Sesung¬guhnya ia mencari dengan ilmu,” tetapi “ilmu menyeru kepada qand 'ah (kepuasan).”
3 Umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal yang baik untuk dipelajari. Akan tetapi, pelajarilah ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan begitulah seterusnya secara berurutan.
4 Janganlah engkau memperlakukan secara umum orang yang telah memberimu pengetahuan, tetapi perlakukanlah dia seperti orang-¬orang yang khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah memiliki orang-¬orang yang dititipi-Nya rahasia-rahasia tersembunyi dan melarang mereka menyebarkan rahasia-rahasia-Nya itu. Ingatlah ucapan se¬orang laki-laki yang saleh (Khidhr) kepada Musa (a.s.), Musa a.s. sebelumnya berkata kepadanya:“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?
“Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali¬kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?” QS 18:66-68).
5 Pelajarilah ilmu. Jika kalian tidak memperoleh keberuntungan de¬ngannya, maka dicelanya zaman bagi kalian lebih baik daripada ia dicela lantaran kalian.
6 Ilmu adalah kekuatan. Barangsiapa yang mendapatkannya, dia akan menyerang dengannya; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan¬nya, dialah yang akan diserang olehnya.
7 Ilmu terbagi menjadi dua: yang didapatkan dengan mengikuti ( mathbu ) dan yang didapatkan dengan belajar ( masmu ), dan ilmu yang didapat dengan belajar tidak akan bermanfaat jika ia tidak dilaksanakan ( mathbu ).
8 Kecintaan terhadap ilmu termasuk kemuliaan cita-cita.
9 Seluruh wadah akan menyempit dengan apa yang diletakkan di dalamnya, kecuali wadah ilmu, karena sesungguhnya ia akan ber¬tambah luas.
10# Akal tidak akan pernah membahayakan pemiliknya selamanya, se¬dangkan ilmu tanpa akal akan membahayakan pemiliknya.
11 Jika jawaban berdesak-desakan, maka yang benar akan tersembunyi.
12 Bagian terpenting ilmu adalah kelemahlembutan, sedangkan cacat nya adalah pernyimpangan.
13 Jika engkau menghendaki ilmu dan kebaikan, maka kibaskanlah (hindarkanlah) dari tanganmu alat kebodohan dan kejahatan. Se¬bab, sesungguhnya tukang emas tidak akan memungkinkan bagi nya memulai pekerjaannya kecuali jika dia telah melemparkan alat pertanian dari tangannya.
1 Tiada kemuliaan seperti ilmu.
2 Ilmu adalah pusaka yang mulia.
3 Serendah-rendah ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah yang tampak di anggota-anggota badan.
4 Tetaplah mengingat ilmu di tengah orang-orang yang tidak menyukainya, dan mengingat kemuliaan yang terdahulu di tengah orang-orang yang tidak memiliki kemuliaan, karena hal itu termasuk di antara yang menjadikan keduanya dengki terhadapmu.
5 Jika Allah hendak merendahkan seorang hamba, maka Dia mengharamkan terhadapnya ilmu.
6 Jika mayat seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, maka muncullah empat api. Lalu datanglah shalat (yang biasa dikerjakannya), maka ia memadamkan satu api. Lalu datanglah puasa, maka ia memadamkan api yang satunya lagi (api kedua). Lalu datanglah sedekah, maka ia memadamkan api yang satunya lagi. Lalu datanglah ilmu, maka ia memadamkan api yang keempat seraya berkata, “Seandainya aku menjumpai api-api itu, niscaya akan aku padamkan semuanya. Oleh karena itu, bergembiralah kamu. Aku senantiasa bersamamu, dan engkau tidak akan pernah melihat kesengsaraan.”
7 Janganlah engkau membicarakan ilmu dengan orang-orang yang kurang akal karena mereka hanya akan mendustakanmu, dan tidak pula kepada orang-orang bodoh karena mereka hanya akan menyusahkanmu. Akan tetapi, bicarakanlah ilmu dengan orang yang menerimanya dengan penerimaan yang baik dan yang memahaminya.
8 Cukuplah ilmu itu sebagai kemuliaan bahwasanya ia diaku-aku oleh orang yang bukan ahlinya dan senang jika dia dinisbatkan kepadanya.
Sayyidina Ali K.W
1. Ilmu berhubungan dengan amal. Barangsiapa yang berilmu, niscaya mengamalkan ilmunya. Ilmu memanggil amal; maka jika ia menyambut panggilannya bila tidak menyambutnya, ia akan berpindah darinya.
2. Pelajarilah ilmu, niscaya kalian akan dikenal dengannya; dan amalkanlah ilmu (yang kalian pelajari) itu, niscaya kalian akan termasuk ahlinya.
3. Wahai para pembawa ilmu, apakah kalian membawanya? Sesungguhnya ilmu hanyalah bagi yang mengetahuinya, kemudian dia mengamalkannya, dan perbuatannya sesuai dengan ilmunya. Akan datang suatu masa, dimana sekelompok orang membawa ilmu, namun ilmunya tidak melampaui tulang selangkanya. Batiniah mereka berlawanan dengan lahiriah mereka. Dan perbuatan mereka berlawanan dengan ilmu mereka.
4. Orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang berjalan bukan di jalan. Maka, hal itu tidak menambah jaraknya dari jalan yang terang kecuali semakin jauh dari kebutuhannya. Dan orang yang beramal dengan ilmu, seperti orang yang berjalan di atas jalan yang terang. Maka, hendaklah seseorang memperhatikan, apakah dia berjalan, ataukah dia kembali?
5. Janganlah sekali-kali engkau tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, setiap orang yang melihat akan ditanya tentang perbuatannya, ucapannya, dan kehendaknya.
6. Orang yang berilmu tanpa amal, seperti pemanah tanpa tali busur.
KESUCIAN DAN KEMULYAAN ILMU
1 Ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indahnya. Ia ringan dibawa, namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur.
2 Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya ia hiasan bagi orang kaya dan penolong bagi orang fakir. Aku tidaklah mengatakan, “Sesung¬guhnya ia mencari dengan ilmu,” tetapi “ilmu menyeru kepada qand 'ah (kepuasan).”
3 Umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal yang baik untuk dipelajari. Akan tetapi, pelajarilah ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan begitulah seterusnya secara berurutan.
4 Janganlah engkau memperlakukan secara umum orang yang telah memberimu pengetahuan, tetapi perlakukanlah dia seperti orang-¬orang yang khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah memiliki orang-¬orang yang dititipi-Nya rahasia-rahasia tersembunyi dan melarang mereka menyebarkan rahasia-rahasia-Nya itu. Ingatlah ucapan se¬orang laki-laki yang saleh (Khidhr) kepada Musa (a.s.), Musa a.s. sebelumnya berkata kepadanya:“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?
“Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali¬kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?” QS 18:66-68).
5 Pelajarilah ilmu. Jika kalian tidak memperoleh keberuntungan de¬ngannya, maka dicelanya zaman bagi kalian lebih baik daripada ia dicela lantaran kalian.
6 Ilmu adalah kekuatan. Barangsiapa yang mendapatkannya, dia akan menyerang dengannya; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan¬nya, dialah yang akan diserang olehnya.
7 Ilmu terbagi menjadi dua: yang didapatkan dengan mengikuti ( mathbu ) dan yang didapatkan dengan belajar ( masmu ), dan ilmu yang didapat dengan belajar tidak akan bermanfaat jika ia tidak dilaksanakan ( mathbu ).
8 Kecintaan terhadap ilmu termasuk kemuliaan cita-cita.
9 Seluruh wadah akan menyempit dengan apa yang diletakkan di dalamnya, kecuali wadah ilmu, karena sesungguhnya ia akan ber¬tambah luas.
10# Akal tidak akan pernah membahayakan pemiliknya selamanya, se¬dangkan ilmu tanpa akal akan membahayakan pemiliknya.
11 Jika jawaban berdesak-desakan, maka yang benar akan tersembunyi.
12 Bagian terpenting ilmu adalah kelemahlembutan, sedangkan cacat nya adalah pernyimpangan.
13 Jika engkau menghendaki ilmu dan kebaikan, maka kibaskanlah (hindarkanlah) dari tanganmu alat kebodohan dan kejahatan. Se¬bab, sesungguhnya tukang emas tidak akan memungkinkan bagi nya memulai pekerjaannya kecuali jika dia telah melemparkan alat pertanian dari tangannya.
1 Tiada kemuliaan seperti ilmu.
2 Ilmu adalah pusaka yang mulia.
3 Serendah-rendah ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah yang tampak di anggota-anggota badan.
4 Tetaplah mengingat ilmu di tengah orang-orang yang tidak menyukainya, dan mengingat kemuliaan yang terdahulu di tengah orang-orang yang tidak memiliki kemuliaan, karena hal itu termasuk di antara yang menjadikan keduanya dengki terhadapmu.
5 Jika Allah hendak merendahkan seorang hamba, maka Dia mengharamkan terhadapnya ilmu.
6 Jika mayat seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, maka muncullah empat api. Lalu datanglah shalat (yang biasa dikerjakannya), maka ia memadamkan satu api. Lalu datanglah puasa, maka ia memadamkan api yang satunya lagi (api kedua). Lalu datanglah sedekah, maka ia memadamkan api yang satunya lagi. Lalu datanglah ilmu, maka ia memadamkan api yang keempat seraya berkata, “Seandainya aku menjumpai api-api itu, niscaya akan aku padamkan semuanya. Oleh karena itu, bergembiralah kamu. Aku senantiasa bersamamu, dan engkau tidak akan pernah melihat kesengsaraan.”
7 Janganlah engkau membicarakan ilmu dengan orang-orang yang kurang akal karena mereka hanya akan mendustakanmu, dan tidak pula kepada orang-orang bodoh karena mereka hanya akan menyusahkanmu. Akan tetapi, bicarakanlah ilmu dengan orang yang menerimanya dengan penerimaan yang baik dan yang memahaminya.
8 Cukuplah ilmu itu sebagai kemuliaan bahwasanya ia diaku-aku oleh orang yang bukan ahlinya dan senang jika dia dinisbatkan kepadanya.
Langganan:
Postingan (Atom)